Kau tau? Aku malas bermain drama lebih jauh. Aku bosan harus bertanggung jawab atas kesalahan yang tak ku ketahui sama sekali. Aku letih.
~Lucynda Airra Affanda~
***
"Gimana? Udah?"
"Kenapa harus? Kenapa lo benci sama dia? Dia punya salah apa"
"Kenapa? Karena dia ganjen sama lo sama Adrian! Gue udah jijik sama dia mulai pertama kali gue liat anak itu!"
Orion menatapnya datar. Dosakah dirinya jika menertawakan makhluk yang satu ini?
"Terus? Jadi urusan lo gitu kalo dia deket sama gue? Lagian semua juga cuma kebetulan."
"Oh, pasti dong! Gue sahabatnya Liana. Dan lo tau Liana nggak sukak ada cewek yang ganjen sama, lo," gadis itu menjawab tegas.
"Bukan urusan gue!"
"Lo nggak kasian sama dia?"
"Nggak. Terus Adrian? Salah kalo Airra deket sama Adrian?"
"Lo tau, Yon, gue suka sama Adrian dari awal kelas sepuluh."
"Wait! Apa hubungannya? Lo tau, kan kalo Adrian itu kakaknya Airra?"
Diam, lawan bicaranya tak menjawab.
"Jadi lo nggak tau? Gilak! Lo hilang akal apa gimana? Kemana aja selama ini?" Orion terpancing emosi. Pertanyaannya terjawab sudah.
"Gue nggak peduli! Fakta itu gak bakal buat perjanjian kita batal. Lo juga harus inget! Gue dikeluarin dari tim Olimpiade, itu gara-gara adek kelas kesayangan lo itu!"
"Gue inget, tapi kayaknya lo lupa kejadian itu siapa yang mulai."
"Terserah! Pilihan tetep ada di tangan lo, Orion! Jadi gimana? Akhiri, atau lo bakal capek jadi malaikat yang datengnya selalu telat. Lo tau betul siapa yang bangun sekolah ini. Am i right?"
Orion terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal kuat. Ancaman itu selalu bisa membuatnya naik darah. Sayang, ia hanya bisa bungkam. Mengikuti alur permainan tanpa sedikitpun berani melawan arus. Orion hanya manusia biasa. Hidup monoton yang tak pernah berani ambil resiko. Orion tau jelas, sangat jelas. Siapa pemilik sekolah elite ini.
"Akhiri. Tapi tepati janji lo buat berhenti!"
"Deal!"
***
From: Airranya Orion
Iyan... Gue didepan kelas lo."Hai!" Adrian melambai-lambai seperti anak kecil. Sedangkan adiknya meringis memperhatikan sekitar. Ia malas jadi pusat perhatian.
"Princess ngapain kesini?"
"Nggak boleh, ya?"
"Boleh dong, nggak ke kantin? Mau ditemenin orang ganteng?"
Airra menggeleng cepat. Ia tak mau semakin banyak gosip tak jelas jika keliling keliling sekolah bersama Adrian. Ya, walau Adrian juga supir pribadinya.
Ia malas bermain drama lebih jauh. Malas harus menjadi korban mulut mulut psikopat. Malas bertanggung jawab atas kesalahan yang ia tak tau sama sekali. Lagi.
Airra hanya lupa satu hal. Jalan hidup sudah ditentukan.
"Kak Orion ada?"
"Gitu, ya, sekarang? Mentang mentang Orion suka sama Airra, Sekarang Iyan dianggurin. Pilih kasih! Jangan jangan lo sukak sama Orion jugak, ya?" tuduh Rian asal, diikuti dengan bibirnya yang mencebik kesal. Suaranya mengundang perhatian siswa siswi yang berlalu lalang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Line of Life
Teen FictionSiapa sangka gadis secerdas Airra akan masuk kelas buangan? Gadis yang membenci kata 'cinta' itu kini harus terperangkap dalam kehidupan yang terlalu banyak drama menurutnya. Sampai kapan drama ini berlangsung?Aku tidak pernah berharap dikenal siapa...