no strings attached [FINAL]

1.3K 96 29
                                        

"A-apa maksudmu?" tanyaku.

Orang yang benar-benar mencintai Saerom? Memangnya ia tidak?

"Aku yang mengakhiri hubungan kami."

"K-kenapa?" aku mau tidak mau tentu jadi penasaran, padahal semestinya aku ingat batasanku.

Ini bukan urusanku.

"Kupikir aku mencintainya, tapi kurasa aku salah dan aku tidak mau ia terjebak bersamaku yang dengan teganya memikirkan perempuan lain saat sedang bersamanya," tutur Renjun menatapku dalam.

Siapa perempuan itu?

Apa Renjun juga memikirkannya saat ia menghabiskan waktunya bersamaku dulu?

Tidak, aku tidak mau mengetahuinya.

Mengetahui Renjun mencintai perempuan lain adalah sebuah kebenaran yang menyakitkan.

Aku tidak perlu tahu.

Cukup sampai sini saja aku mengetahui ini.

"Namun sayangnya ia mendadak menghilang dari hidupku, entah mengapa aku tak bisa menghubunginya lagi di saat aku menyadari perasaanku itu," lanjutnya.

Cukup, aku sungguh ingin menghentikan cerita Renjun karena aku tidak siap menerima kenyataan.

Tiba-tiba, Renjun sudah duduk di dekatku dan menangkup kedua wajahku mengarahkan pandanganku yang mulai berair untuk menatapnya.

"Lee Seoyeon, kemana saja kau? Aku mencarimu."

What?

Apa katanya barusan?

Ia mencariku?

Kenapa ia tidak menghubungiku lewat telep-

Ah yaampun, aku memblokirnya.

Tunggu, jadi orang yang menghilang dari kehidupannya yang tadi ia maksud itu aku?

Benarkah?

"R-renjun, a-aku,"

Bodoh, aku tidak bisa berbicara apa-apa tapi air mataku mengalir, membasahi tangan Renjun.

"Aku merindukanmu, aku mencarimu untuk mengatakan perasaan yang terlambat kusadari ini, tapi kau menghilang.
"

Aku berusaha menatap mata Renjun, mencari tahu apakah yang ia katakan ini serius.

Aku hanya tidak bisa percaya dengan ini.

"Maafkan aku, aku melanggar kesepakatan kita untuk tidak mencampurkan perasaan dalam hubungan kita ini," lanjutnya.

"Tapi aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu Lee Seoyeon," ucap Renjun lagi semakin memperjelas.

Aku menggelengkan kepalaku pelan,"k-kau tidak perlu meminta maaf. Aku lah orang pertama yang melanggar kesepakatan sialan yang kubuat itu," tuturku di tengah tangisanku ini.

Dan detik itu juga, bibir yang sudah lama tidak kukecup manisnya itu kembali kurasakan.

Bibir kami saling berpagutan, saling melumat, melepaskan kerinduan kami akan satu sama lain. Menyalurkan perasaan di hati kami.

Aku merindukan Renjun.

Aku rindu aroma tubuhnya yang sekarang sedang mengukungi tubuhku di sofanya.

Aku rindu membelai rambutnya saat kami berciuman seperti saat ini.

Aku rindu tangannya yang bergerilya memanjakan tubuhku.

Aku rindu bisikan dan hembusan nafasnya di telingaku.

Aku rindu gigitan-gigitan kecil yang ia berikan padaku.

RENJUN'S JOURNALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang