notice me noona pt. 8

436 29 8
                                        

Renjun termenung. Segala ucapan dan celoteh Haechan tak ia hiraukan. Pikirannya tidak sedang bersamanya saat ini. Siapapun yang berada di posisi Haechan tentu sebal karena tak diacuhkan, sehingga tidak heran jika Haechan memutuskan untuk menyentil dahi Renjun.

"Aish! Apa-apaan kau!?" bukan Renjun namanya jika tidak langsung mengomel.

"Aku sedang berbicara, tolong hargai," sahut Haechan enteng. Ia kemudian mengambil posisi di sebelah Renjun dan merangkulnya. Renjun sedikit menjauh. Mengenal Haechan setelah sekian lama, ia sudah paham bahwa kontak fisik terlalu dekat dengan Haechan yang super jail bukanlah hal yang tepat. Jadi Renjun memutuskan untuk berjaga-jaga terlebih dahulu sebelum menjadi korban kejahilan Haechan.

"Ish, kenapa menjauh? Kau jijik pasdaku?!" oceh Haechan tak senang.

"Cepat katakan kau mau bicara apa? Tidak usah sampai merangkul-rangkul begitu," ungkap Renjun. Wajahnya melirik Haechan dengan tatapan bergidik. Seolah Haechan adalah sosok yang membuatnya geli.

"Yang semestinya berbicara itu kau. Sepertinya banyak sekali yang menghantui pikiranmu sampai-sampai kau melamun seperti orang bodoh dengan ekpresi mesum andalanmu," ucap Haechan tentunya tidak lupa menyelipkan hinaan di dalamnya. Tenang, mereka sudah sama-sama kebal kok. Terkadang, saling melempar hinaan dan cibiran seperti inilah cara mereka menunjukan rasa perhatian di antara mereka.

Lucu sekaligus menyebalkan.

"Ini tentang Kak Miyeon," lirih Renjun.

"BENAR DUGAANKU," pekik Haechan kelewat semangat.

"Kecilkan suaramu! Memalukan!" tegur Renjun memukul bahu Haechan.

"Jadi, bagaimana perkembangan dengan si kakak?" antusiasme jelas terdengar dari pertanyaan Haechan.

"Sudah hampir 3 minggu lebih kami tak berkabar," jawab Renjun.

"Hah? Kalian bertengkar?" tanya Haechan.

Renjun menggeleng, tatapannya gusar. Baru kali ini ia dibuat pusing dan uring-uringan karena masalah perempuan. Ternyata rasanya tidak enak, menyebalkan. Renjun jadi merasa bersalah dengan gadis-gadis yang dulu pernah ia perlakukan seperti ini.

"Lalu? Kenapa?"

"Aku juga tidak tahu, ia mendadak tak membalas pesanku sama sekali..."

"Sudah mencoba mendatangi tempat kerja dan apartemennya?" Haechan sepertinya benar-benar mau menjadi tim sukses Renjun untuk menaklukan Miyeon.

"Sudah, tapi terakhir aku datang ternyata ia sudah tak mengajar disana," wajah Renjun semakin menunduk saat mengungkapkan ini. Berhenti dari tempat kerja secara tiba-tiba tanpa memgabari apapun padanya, bagaimana Renjun semakin bisa berpikir jernih? Segala asumsi buruk sudah tersusun dalam otaknya.

Apakah ia berbuat salah?

Apakah Miyeon membencinya?

Apakah Kyuhyun benar-benar melarang hubungan mereka?

"Kalau apartemennya?" Haechan belum menyerah. Entah karena memang peduli atau hanya sekedar ingin tahu.

"Ia pindah dan aku tidak tau kemana dirinya pergi," putus asa, begitulah Renjun saat ini.

Haechan berpikir sejenak. Sangat wajar dan maklum jika Renjun sampai uring-uringan. Gadis yang ia sukai tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi begini.

"Terakhir kali bertemu dengannya, apa kalian sedang membahas sesuatu? Atau ada hal yang janggal?" Haechan lanjut menginterogasi Renjun.

Karena Renjun sepertinya memang butuh tempat berkeluh kesah dan berdiskusi, segala apa yang Haechan tanyakan pun ia jawab termasuk pertanyaan barusan.

RENJUN'S JOURNALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang