Huang seonsaengnim pt.4

1K 117 20
                                        

Ryujin saat ini sedang di ruangannya seorang diri, bukannya mempelajari berkas, ia justru melamun.

"Ck' kenapa kau bodoh sekali sih!" decak Ryujin, untung saja di ruangan itu tidak ada orang jadi tidak ada yang menganggap calon direktur mereka ini sinting.

"Iya, kemarin malam saat aku menggendongmu di punggungku untuk membawamu ke kamar, kau tiba-tiba terbangun dan memukuliku, kemudian kau menggigitku lalu kembali tidak sadarkan diri lagi."

Mengingat penjelasan singkat Renjun membuat wajah Ryujin merah padam.

"Gadis bodoh! Benar-benar bodoh!" rutuk Ryujin kembali sembari memukuli kepalanya sendiri dengan ujung pulpen.

Drrt!

Ponsel Ryujin bergetar, ah ternyata hanya alarm.

Alarm pengingat Ryujin untuk menjemput Yujin di TK.

"Mati aku, bagaimana aku bisa bertemu Renjun hari ini?" ucap Ryujin entah bertanya pada siapa.

Pasalnya semenjak hari itu, Ryujin berkali-kali menjemput Yujin dengan wajah menunduk karena malu bertemu Renjun, beberapa kali ia bahkan meminta Yujin yang menghampirinya ke mobil.

Sungguh, Ryujin hilang muka di hadapan Renjun.

Intinya apapun akan ia lakukan untuk menghindari guru adiknya tersebut, walau terkadang tetap gagal karena Yujin sangat akrab dengan Renjun.

Bahkan sepertinya Renjun belakangan mulai menyadari kalau Ryujin menghindarinya dan justru semakin sengaja mencari celah untuk bertemu muka dengan Ryujin

Di sisi lain Ryujin juga tidak bisa bohong, ada sisi hatinya yang ingin bertemu dengan Renjun.

Namun karena kejadian memalukan itu, Ryujin hanya bisa mencuri-curi pandang saja.

"Renjun itu juga kenapa jadi suka sengaja begitu sih!" rutuk Ryujin sekali lagi, kali ini pulpen di tangannya barusan sudah ia lempar entah kemana.

Raut kesal Ryujin seketika berubah ketika sebuah ide melintas di kepalanya.

Ia segera merogoh ponsel di tasnya dan menghubungi seseorang yang ia kenal baik, Shin Yuna, adik sepupunya.

"Halo unnie? Tumben sekali menelpon,"

"Yuna, kau mau uang jajan tambahan?"

"A-apa? Tentu saja mau! Apa yang harus aku lakukan!?" Jawab Yuna dengan semangat.

Transaksi semacam ini sudah biasa ia lakukan dengan Yuna.

"Kebetulan karena kau libur, bisakah selama liburan ini kau membantu ku menjaga Yujin?"

"Aduh unnie, kalau menjaga Yujin aku tidak bisa, maaf."

"A-ah bagaimana kalau menjemput Yujin? Hanya menjemputnya saja lalu mengantarnya ke kantorku? Bagaimana? Bisa kan?" tawar Ryujin lagi dengan cepat.

"Oh kalau itu aku bisa sih, kapan aku mulai?"

"Hari ini, lebih tepatnya sekarang karena kelas Yujin akan berakhir sekitar setengah jam lagi, okay? Terimakasih banyak Yuna sayang!" pamit Ryujin segera mengakhiri panggilannya tanpa menunggu konfirmasi dari Yuna.

RENJUN'S JOURNALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang