notice me noona pt.4

344 34 4
                                        

"Terima kasih sudah mengantarku ya, nanti akan kuhubungi kalau sudah sampai," ucap Jun kepada ayah, ibu dan adiknya yang saat itu mengantar keberangkatannya kembali ke AS.

"Ingat untuk menjaga makanmu nak, jangan kebiasaan tidur larut malam juga," pesan ibu tirinya.

"Dengarkan pesan mamamu," sanggah ayahnya.

"Iya-iya, pesan kalian berdua akan ku ingat," sahut Jun. Lalu pemuda itu melirik ke arah adik tirinya.

"Hey, kakakmu ini sudah mau berangkat, tidak mau berpelukan dulu apa?" tanya Jun pada adik tirinya yang sedari tadi hanya diam di antara mereka berempat.

"Tsk, seperti anak kecil saja," decih Renjun tapi tetap menyambut pelukan yang Jun tawarkan barusan.

"Kau mengapa beberapa hari ini nampak lebih diam dari biasanya sih? Ada yang menganggumu?" tanya Jun lagi.

"Aku tidak apa-apa, sudah kak cepat masuk sana. Nanti kau tertinggal," usir Renjun dengan cuek.

Akhirnya Jun berpisah dengan kedua orang tua serta adik lelakinya.

"Renjun kenapa?" giliran sang ibu yang menanyakan dirinya.

"Aku tidak apa-apa ma," sahut Renjun dengan jawaban yang sama.

"Sedang jatuh cinta kah? Siapa perempuan beruntung itu hm?" tebak ibunya asal tapi tepat sasaran.

"Ma, aku tidak sedang jatuh cinta, ayolah..." elak Renjun sedikit merengek. Beginilah dirinya jika sudah di hadapan perempuan yang sudah melahirkannya ini.

"Hahaha, sudahlah sayang. Putra bungsuku sedang tak ingin diganggu," kali ini, ayah tiri Renjun yang bersuara.

Dalam hati, Renjun menggerutu. Suasana hati sedang buruk-buruknya eh malah semakin ditanya dan diulik begini. Tidak ada gunanya sama sekali.

Jun, kakak tirinya sudah kembali ke AS melanjutkan urusannya disana. Persis seperti apa yang Renjun harapkan beberapa waktu yang lalu. Kakaknya kembali kesana, menjauh dari Miyeon lalu Renjun bisa menghabiskan waktu dengan perempuan itu atas permintaan tolong kakaknya.

Tapi sekarang semua itu sudah tidak begitu lagi. Jun dan Miyeon sudah selesai. Renjun sudah pasti tidak akan dimintai tolong oleh Jun dari AS untuk menemani Miyeon. Ya memang, dahulu status Jun dan Miyeon hanya dapat membuat Renjun memendam perasaannya tetapi setidaknya, hubungan keduanya membuat Renjun dapat menghabiskan waktu dengan Miyeon.

Sedangkan sekarang?

Iya, Renjun juga sangat mengharapkan Jun dan Miyeon segera berakhir. Selain membuka jalan untuknya, Renjun juga merasa Miyeon pantas mendapatkan yang lebih baik dari kakak tirinya, mendapatkan kekasih yang jauh lebih bertanggung jawab dan tidak menelantarkan Miyeon.

Tapi lihat sekarang?

"tidak ada alasan lagi untuk kita saling bertemu bukan?"

Renjun tidak mau mengakuinya, namun memang itu yang terjadi. Karena hubungan Jun dan Miyeon sudah kandas, sekarang ia sama sekali tidak punya alasan untuk menemui Miyeon.

Serba salah memang. Jika Miyeon dan Jun masih bersama, Renjun hanya akan terjebak menjadi calon adik ipar yang menjalankan mandat kakaknya untuk menemani calon kakak iparnya selagi kakaknya tidak di tempat. Tetapi jika sudah kandas, tidak ada lagi alasan terkuat Renjun untuk menemui Miyeon seperti biasa.

"Oi, masih memikirkan si kakak cantik?" tanya Haechan membuyarkan lamunan Renjun.

"Tsk! Bisa lebih tenang tidak? Kita di tempat umum bo–"

"Eits, marah? Wah, berarti tingkat galaumu sudah mencapai ubun-ubun ya?? HAHAHA," tawa Haechan yang justru semakin mempertipis kesabaran Renjun.

"Haechan-ah, jangan menggoda Renjun begitu, kasihan teman kita ini," kali ini Jaemin yang bersuara. Walaupun terdengar seperti membela Renjun, tapi entah mengapa Renjun justru merasa bahwa ada sindiran tersirat dari ucapan Jaemin.

RENJUN'S JOURNALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang