Derap langkah kaki Renjun terburu-buru, dari raut wajahnya terpampang jelas ketidaktenangan.
Sial, kenapa ia baru membuka ponselnya tadi pagi coba?
Memasuki ruangannya, ia mendapati kakaknya sedang terduduk santai di bangku Renjun. Sudah seperti ruangannya sendiri. Padahal jelas-jelas itu ruangan Renjun. Memang ya, kakak itu dimana-mana suka seenaknya. *Author curhat*
"Kak, kenapa duduk di bangku ku? Menyingkir," usir Renjun tidak menyembunyikan rasa sebalnya.
"Kenapa aku baru tahu kalau Nakyung yang jadi model untuk hotel kita?" bukannya menggubris, Yiyang malah bertanya balik ke adiknya.
"Kau sengaja ya memilih Nakyung? Kan kakak sudah bilang untuk tidak berurusan la–"
"Itu paman Choi yang memutuskan, bukan aku. Saat aku tiba, keputusannya sudah dibuat jadi aku harus professional," elak Renjun. Memang bisa saja alasannya.
Yiyang tau kalau adiknya itu pintar mengelak dan mencari alasan.
"Alasan saja, bilang kalau kau memang masih mencarinya," tuduh Yiyang.
"Memangnya kenapa sih kak? Kontrak hotel kita dengan Nakyung itu bukan urusan kakak, begitu juga hubunganku dengannya," balas Renjun.
Yiyang menghela nafas sekilas,"ya, kau mau dimanfaatkan lagi olehnya hah? Ini bukan tuduhan tak beralasan, ia sendiri bukan yang mengaku di depanmu tanpa malu kalau ia hanya memanfaatkanmu saja?"
Renjun diam, karena memang betul adanya perkataan sang kakak barusan.
Aku hanya memanfaatkanmu dan sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, jadi mari kita akhiri ini semua," perempuan itu berucap sekaligus secara tidak langsung menjelaskan sikap anehnya tadi.
Perkataan Nakyung di hari ia menuntut perpisahan kembali terputar di otaknya. Rasanya masih pahit kalau diingat, tapi kenapa Renjun tidak bisa membencinya?
"See? Sebenarnya terserah kau saja, kakak hanya tidak mau sampai kau terpuruk lagi," kata Yiyang melihat Renjun hanya diam. Perempuan itu lalu melangkah mendekati sang adik dan merapikan kerah baju adiknya. Saat melakukan itu, ia tak sengaja melihat bercak di leher adiknya.
Yiyang bukan anak kecil, ia jelas tau asal bercak merah itu.
Plak!
"Aish kak! Kenapa memukulku tiba-tiba??" protes Renjun ketika kakaknya memukul lengannya dengan keras.
"Ya anak nakal!! Bukannya kerja, malah asik bermain dengan wanita korea ya!?" omel Yiyang.
"Hah? Apa sih maksud kakak?"
"Itu, kissmark di leher mu astaga. Bisa-bisanya ke kantor tanpa rasa malu dengan keadaan seperti itu," jelas Yiyang masih dengan mode mengoceh.
Ah, hasil make out singkat semalam.
"Ya, aku kan sudah menutupinya," sahut Renjun enteng lalu berjalan menuju bangkunya.
"Kak Sicheng, kok kakak tahan ya menjadi asisten kak Yiyang yang galak dan menyebalkan ini?" tanya Renjun pada pemuda yamg sedari tadi berdiri di dekat pintu, hanya menjadi penonton keributan kakak beradik barusan.
"Karena aku cantik, sesederhana itu adikku," Yiyang memberi jawaban pada adiknya.
"Oh iya kak, ibu dimana? Kau bilang, kau datang bersama ibu kan hari ini?" tanya Renjun lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENJUN'S JOURNAL
FanfictionMini series collection of Renjun x Girls ❤️ cast: Huang Renjun NCT Dream List: 1. X Lee Seoyeon fromis9 - No Strings Attached [𝗖𝗢𝗠𝗣𝗟𝗘𝗧𝗘𝗗] 2. X Shin Ryujin ITZY - Huang Seonsaengnim [𝗖𝗢𝗠𝗣𝗟𝗘𝗧𝗘𝗗] 3. X Lee Nakyung fromis9 - Begin Again...
