marry a noona pt.5

600 52 8
                                        

"Sini sebentar, biar aku lihat lagi lukanya," ucapku penuh perhatian saat mengolesi wajah Renjun dengan obat. Renjun hanya meringis pasrah.

"Kak, perih tau," gerutunya seperti anak kecil.

"Iya tau, tapi tetap harus diobati. Tahan ya, sini kakak tiupkan," kataku lagi lalu meniupi luka di wajah Renjun yang baru kutangani.

Wajah kami yang amat dekat membuat netra kami bersirobok. Aku baru sadar wajah kami begitu dekat, saking dekatnya aku bisa merasakan hembusan nafas Renjun.

"Kak, boleh?" ia meminta ijin.

Aku tidak menjawab, hanya menatapnya.

"Kau lucu sekali, dulu saat belum menikah kau sangat agresif sampai-sampai membuatku pusing mnghadapinya. Sekarang? Kenapa kau mendadak menjadi sosok pemalu seperti ini?" tanyaku dengan tawa ringan.

Kami tetap dalam jarak sedekat sebelumnya, belum ada sama sekali kami berniat merubah posisi ini.

"I-itu karena..."

"Kenapa?"

Belum sempat menjawab, bibi asisten rumah tangga Renjun memanggil. Sontak, kami pun memisahkan diri.

"E-eh tuan dan nona, m-maaf ya bibi mengganggu, hehehe.." tawanya malu-malu sebelum melanjutkan langkahnya menuju dapur.

"K-kak, ayo berangkat. Aku antar kakak pulang dulu ya," ajak Renjun tanpa memandang ke arahku. Sepertinya ia masih malu setelah kejadian tadi.

Lucu sekali bocah ini....

Ah, aku jadi teringat kejadian kemarin malam.

Ah, aku jadi teringat kejadian kemarin malam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kak, aku lelaki dewasa. Jika kau tidur seranjang denganku, apa ya–"

"Terus kenapa? Kita sudah resmi menikah bukan?" aku memotong ucapannya dengan tenang. Padahal hatiku merutuki mulutku yang teledor ini. Bisa-bisanya aku menyuarakan pertanyaan yang menantang begitu.

Benar saja, Renjun menarik diriku dan menghempaskan tubuhku ke ranjangnya. Lalu ia menindih tubuhku sehingga aku tidak bisa bergerak banyak.

Gila, apakah ini saatnya?

Hatiku berdesir, malu, takut tapi juga penasaran.

RENJUN'S JOURNALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang