Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Dua Puluh Tiga

11 2 0
                                        

VOTE AND COMMENTS GUYS 😄😄😄😄
























Zea

Ternyata melihat langit malam yang cerah itu menenangkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ternyata melihat langit malam yang cerah itu menenangkan. Meskipun ngga ada bintang yang terlihat, tapi tetep aja gue suka lihatnya. Entah kenapa, rasanya pikiran gue tuh bisa bebas berkeliaran. Apalagi, posisi balkon kamar menghadap ke arah pantai, makin indah aja nih pemandangan.

Dan karena itu, gue sejenak melupakan rasa lelah yang sedari tadi menghinggapi badan gue. Lagi pula, malam ini kita emang udah rencana istirahat dulu si, soalnya semua pada capek, apalagi para kaum adam yang selalu bergantian nyetir.

"Ngelamunin Kak Willis ya lo.." tiba-tiba bahu gue di colek oleh seorang manusia bernama Delia.

"Ha? Engga lah. Sotoy banget si lu.."

Delia menarik kursi di samping gue lalu duduk di sana. "Hahahaha.. Kan mana tau."

"Ngapain lo di balkon sendirian malem malem?" lanjutnya lagi.

"Ngga bisa tidur gue."

"Sama. Gue chat Kak Rendy udah delieve mulu. Palingan juga ketiduran dia. Haha.."

"Ciee yang sekarang udah berani chat duluan.. Udah taken lo?" gue melirik Delia curiga.

"Entah.."

"Lah kok?"

Belum sempat Delia menjawab, ada sebuah suara yang menginterupsi obrolan kita. "Boleh gabung?"

Kita cengo masih dengan posisi noleh ke arah Iren yang berdiri di ambang pintu.

"Ganggu ya?" ucapnya lagi ketika diantara gue dan Delia ngga ada yang nyahut.

"E-engga kok.. Gabung aja sini." balas gue akhirnya.

"Iyaa, Ir.. Sini aja." Delia memgimbuhi.

Iren ngangguk lalu mengambil tempat di depan gue. Jadi kita duduk melingkar dan ditengahnya ada meja bundar.

"Kok masih belum tidur?" ini Delia yang nanya.

Iren diam beberapa saat membuat gue dan Delia saling bertukar pandang. Tapi setelah itu Iren bersuara yang sangat diluar dugaan gue.

"Gue minta maaf sama kalian berdua. Terutama sama lo, Ze."

What??

Serius ini gengs? Gue kaget loh astaga.. Gue sedikit menoleh ke arah Delia yang ternyata juga lagi cengo untuk yang kedua kalinya.

"Ya? Ah.. Eunngg.. I-iya Ir, gue ju-juga minta maaf sama lo." anjir kok gue jadi gagu gini sih bangsat. Ngga keren banget njir.

"G-gue juga minta maaf, Ir." syukurlah Delia juga agak gagu. Hahahaha..

FRIENDSHIP GOALS? - SEHUN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang