[END]
Gimana jadinya kalo orang yang diam-diam kita sayang ternyata memiliki perasaan yang sama juga?
Dan saat rasa itu saling terungkapkan, tapi takdir mengatakan hal yang lain..
Just a life story that is not always what it wants to be.
Life that...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Willis.. Cepet kemasi barang kamu!" perintah papa disaat gue lagi enak enaknya rebahan di kamar.
"Mau kemana?"
"Ke Bogor. Papa ada bisnis di sana. Dan kamu harus ikut."
"Ngapain sih, pa? Biasanya papa datang sendiri juga bisa."
"Ini klien penting. Dan kamu sebagai pewaris tunggal perusahaan, harus tau mulai sekarang."
Gue menghela nafas pasrah, "Okay, wait for a minute. I'll prepare."
Zea
Aduh.. Menjelang liburan akhir kayak gini enaknya ngapain ya selain rebahan? Mau main juga mager, temen-temen gue juga pada ngga ada kabar. Lupa sama gue kali ya, hahahaha..
Ting!
Nah kan, baru aja ngebatin hp gue udah bunyi pertanda ada chat masuk. Ngga pake lama lagi, langsung gue buka aja tuh hp.
KakRafael: Ze, gabut ngga lu?
Zea: Banget kak
KakRafael: Keluar yok, kemana gitu terserah
Zea: Gaskeun lah kak
KakRafael: Oke, tunggu ya. Gue otw jemput lu nih
Zea: Dengan senang hati gue tunggu
Yes! Akhirnya keluar juga gue dari kamar. Tanpa banyak persiapan, gue cuma polesin wajah gue dengan make up tipis karena gue udah mandi dari pagi. Dan untuk outfit, seperti biasa sih, gue suka pake celana jeans sama kaos oblong doang, dan karena cuaca hari ini panas, ngga lupa juga gue bawa jaket bomber sebelum turun ke lantai bawah.
"Mau kemana kak?" tanya Aldo yang lagi nonton tv.
"Keluar bentar. Btw, mama mana?"
"Lagi arisan katanya tadi."
Tok! tok! tok!
"Permisi.." suara Kak Chanyeol menginterupsi.
"Eh itu Kak Rafael dateng, aku pergi dulu ya, Do." pamit gue ke Aldo kemudian bergegas membuka pintu.
"Langsung nih?" tanya gue.
"Pamitan mama lo dulu elaah."
"Mama lagi arisan qaqa."
"Ooh yaudah deh ayoo." ajak Kak Rafael lalu berjalan mendahului gue.
Setelah kita udah sama-sama siap di jok masing-masing, Kak Rafael mulai menjalankan mobilnya perlahan.