Dua Puluh Tujuh

9 1 0
                                        

Hello guys, gue balik lagi wkwk
Fyi aja, part ini bakalan panjang banget soalnya mumpung lancar nih idenya. So, semoga ngga bosen. And don't forget to VOTE and COMMENT.








Zea

"Lazefa. Please help us."

"Siapa?" sahut gue dengan suara serak.

"Dyo."

Mendengar nama itu, sontak gue membuka mata sepenuhnya. Sambil ngebatin ada apa nih Kak Dyo telfon gue malem malem.

"Ha? Ada apa kak?"

"Tolong datang ke bar sekarang."

"WHAT? NGAPAIN?" bodo amat gue teriak tengah malam. Intinya gue sangat terkejut.

"Dari tadi Willis panggil nama kamu terus. Dia udah bener-bener mabuk. Aku minta tolong banget sama kamu buat bantuin Willis pulang. Dia kaku banget kalau sama aku."

Tanpa berpikir panjang lagi, gue memutus sambungan telfon dan langsung turun ke bawah keluar rumah.

Willis bego..

Gue berjalan setengah berlari sambil menunggu taxi lewat. Dan beruntungnya, ngga lama kemudian gue melihat ada taxi dari lawan arah.

Setelah memberhentikan taxi tersebut, gue juga bingung ini mau nuju bar yang mana. Pas gue buka hp, ternyata ada satu pesan dari Kak Dyo yang isinya alamat bar dimana Kak Dyo dan Willis berada. Setelah menunjukkan kepada pak sopir, gue ngga ada henti-hentinya mikir apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Willis sampe mabok kayak gitu? Apa masalahnya semakin besar? Jujur aja sih, gue juga masih ngga tau apa masalah yang lagi dia pendam. Gue tau, semua masalah dan yang dirasain Willis itu ngga semuanya diceritain ke gue.

Gue sih ya ngga gimana gimana, meskipun dia selalu nyuruh gue buat nyeritain semuanya ke dia, tapi gue ngga mau maksa dia melakukan hal yang sama. Cukup gue selalu ada di sampingnya bagaimanapun keadaannya.

"Mba, udah sampai." ucap pak sopir memberhentikan taxi nya di depan bar.

Di depan sana, udah ada Kak Dyo yang langsung menghampiri taxi yang gue naiki saat dia menyadari gue ada di dalamnya. Dia mengetuk kaca jendela sebelah sopir lalu tiba-tiba membayar ongkosnya tanpa bertanya berapa.

Gue yang emang udah khawatir langsung keluar dan masuk ke bar bareng Kak Dyo.

"Makasih kak.."

"Sama-sama.."

Kak Dyo berjalan selangkah lebih dulu daripada gue. Gila aja sih, ini pertama kalinya gue menginjakkan kaki gue ke bar kayak gini. Jujur aja, gue juga pusing mencium bau minuman beralkohol di sini.

Ngga lama kemudian, Kak Dyo berhenti di pojok bar. Dimana ada sofa leter L dan satu meja kaca berbentuk persegi panjang.

Gue mengalihkan pandangan gue ke sana. Dan ternyata di sana terlihat ada Willis yang udah setengah sadar menempelkan dahinya di atas tangannya yang ada di meja kaca. Penampilan Willis sekarang udah berantakan, dia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans nya, sedangkan jaket kulit hitamnya udah ada di bawah kakinya.

Gue berjalan mendekati Willis dan duduk disampingnya. "Willis.." panggil gue seraya memegang bahunya lembut.

Dia ngga bereaksi apa-apa. Kak Dyo mandangin kita berdua sambil berdiri di tempat yang sama.

"Willis." kali ini suara gue tegas dan menarik bahunya supaya dia duduk dengan tegak. Tapi yang namanya orang lagi teler, Willis pun udah langsung nyandar.

FRIENDSHIP GOALS? - SEHUN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang