11. Cerita Langit Sore

2.5K 190 23
                                        

Langkah kaki Blaze semakin cepat, meninggalkan Ice yang sebelumnya berjalan di sampingnya. Tampaknya remaja itu masih kesal karena perlakuan Ice di halte dan bus tadi.

"Blaze, kau masih ngambek?" Ice mencoba mengejar Blaze yang ada di depannya.

Blaze tidak menjawab, ia justru berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Semenjak turun keluar dari bus, ia terlihat lebih kesal dari sebelumnya. Bahkan Ice sendiri tidak tahu kenapa Blaze seperti ini, atau hanya Ice yang kurang peka dalam memahami saudaranya.

Ice mungkin orang yang sabar, tapi bukan berarti ia tidak memiliki batas kesabaran. Gempa yang terkenal sangat sabar bahkan masih dapat mengomeli Halilintar, wajar Ice juga akan kesal jika ia harus menghadapi remaja kekanak-kanakan seperti Blaze.

Tangan besar Ice memeluk pinggang Blaze dari belakang, mencegahnya menjauh darinya. Tubuh mereka kini saling bersentuhan, sehingga Blaze dapat merasakan napas Ice di lehernya. Napas Ice yang membelai lehernya membuat Blaze gemetar beberapa saat, rasanya tidak nyaman.

"Jangan lari lagi, Blaze." Ice berbisik tepat pada telinga kiri Blaze.

"Kau seharusnya tidak memperlakukan aku seperti anak kecil." Tangannya bergerak melepaskan pelukan Ice yang semakin mengerat.

"Aku cuma tidak ingin terpisah darimu." Ice tidak membiarkan Blaze melepaskan pelukannya, sementara ia mendekatkan wajahnya ke wajah Blaze yang perlahan merona.

Semestinya Ice sadar bahwa kini mereka masih berada di luar rumah, setidaknya ia harus melihat keadaan sekitar. Beruntung Blaze masih peka terhadap keadaan sekitar sehingga dirinya meminta Ice melepaskan pelukannya dengan alasan keadaan yang tidak mendukung.

"Ice, kita sedang berada di luar." bisik Blaze. Beberapa orang yang lewat tampak memperhatikan mereka, sehingga membuat Blaze merasa tidak nyaman.

Ice tersenyum tipis, mungkin lebih terlihat seperti sebuah seringaian. Perlahan pelukannya pada Blaze melonggar, tetapi dengan cepat tangan kanannya menggenggam tangan kiri Blaze. Ia tidak mau Blaze menggunakan kesempatan kecil itu untuk kabur. Namun sekeras apapun Blaze berusaha kabur, Ice pasti bisa menangkapnya lagi.

"Oh, jadi kau ingin melanjutkannya di rumah?" Ice berbicara dengan suara menggoda ketika Blaze menatapnya dengan pandangan kesal.

Perlahan rona merah di wajah Blaze bertambah parah. Tatapan penuh arti dari Ice tampak sudah meluluhkan hati Blaze.

"Tu-tunggu, apa maksudmu?"

"Aku tidak akan kasar, karena besok kau harus tetap sekolah." Kini Ice yang berjalan di depan dengan tetap menggenggam tangan Blaze.

Orang yang digenggam tangannya oleh Ice sudah paham betul apa yang dimaksud oleh Ice saat itu. Ia mencoba memberontak dan melepaskan genggaman tangan Ice, tetapi ternyata kekuatan Ice jauh lebih besar. Ia tidak tahu kalau saudaranya yang terkenal pemalas itu memiliki kekuatan yang cukup besar, bahkan dirinya yang sering berolahraga tidak dapat menandinginya.

Sementara Ice tengah memikirkan hal apa saja yang nantinya akan ia perbuat pada saudaranya. Permainan seperti apa lagi yang akan ia lakukan bersama Blaze dan senikmat apa Blaze nanti.

"Ice, aku tidak mau!" Blaze menolak mentah-mentah, tetapi sama sekali tidak digubris oleh sang pendominasi.

Hari pun semakin sore, dan pukul lima pun tiba. Thorn bangkit, membereskan barang-barang miliknya dan segera berpamitan pada anggota lainnya. Rasa penat yang menghinggapi tubuhnya perlahan musnah dibawa angin yang menghantam tubuhnya dengan lembut. Ia mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah, tempat seseorang sudah menunggunya cukup lama.

Langkahnya perlahan terhenti saat melihat Taufan yang bersandari di gerbang sekolah dan menatapnya lurus. Perlahan senyuman mengembar di wajah Taufan, seiring dengan tubuhnya yang tidak lagi bersandari di gerbang sekolah. Tangan Taufan yang sebelumnya masuk ke dalam saku kini terangkat ke udara dan melambai seakan menyambut kedatangan Thorn.

Thorn yang sebelumnya diam terpaku kini kembali melangkah. Senyum di bibirnya mengembang sempurna.

"Kau menungguku?" Thorn sampai tepat di depan saudaranya.

"Tadi aku ada beberapa urusan dengan guru, karena kebetulan kau masih ada di sekolah jadi sekalian saja aku menunggumu." ia berbohong agar Thorn tidak marah padanya. Terakhir kali Taufan menunggu Thorn di sekolah, ia mendapat omelan karena Thorn tidak ingin dianggap seperti anak kecil.

Thorn kali ini mengangguk mengerti. Mereka segera kembali pulang untuk bertemu saudara mereka yang lain di rumah, mereka tidak boleh sampai melewatkan makan malam bersama saudaranya. Karena Gempa akan marah besar apabila ada yang melewatkan makam malam bersama, kecuali memang ada hal yang mendesak.

Perjalanan yang Taufan dan Thorn jalani terasa tidak pernah sepi, selalu saja ada yang ingin Thorn bahas. Entah itu tentang kegiatan ekskul atau kejadian lucu yang ia dengar dari temannya. Taufan menyambut baik setiap cerita yang keluar dari mulut Thorn, bahkan beberapa kali ia tertawa lepas karena lawakan Thorn.

Hatinya semakin menghangat ketika Thorn tersenyum begitu polos layaknya seorang anak yang belum mengenal kejamnya dunia. Taufan tahu, sebenarnya Thorn merasa kesepian karena beberapa kali ditinggalkan oleh orang terdekatnya. Ia tidak mau Thorn kembali merasakan hal yang sama.

"Daritadi hanya aku yang bercerita, apa kau tidak ingin menceritakan sesuatu?" Thorn duduk terlebih dahulu di bangku halte, disusul Taufan.

"Aku tidak punya cerita yang seru seperti ceritamu." Taufan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kalau begitu ceritakan padaku apa yang terjadi padamu, seperti yang kau ceritakan saat di sekolah." Thorn mendekatkan dirinya pada Taufan, matanya memancarkan keingintahuan yang amat besar.

"Cerita soal apa?" Taufan meninggikan kedua alisnya serentak.

"Kau bilang kau sama denganku, kau ingat?" Thorn memiringkan kepalanya sambil terus menatap Taufan.

Taufan kaget karena ucapan Thorn, ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari saudaranya. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan hal ini, tetapi ia juga tidak mau membuat saudaranya yang satu ini kecewa. Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakannya pada Thorn. Ia menarik napas panjang sebelum menceritakan apa yang Thorn inginkan.

"Baiklah, akan aku ceritakan. Tapi berjanjilah padaku untuk tidak memberi tahukan hal ini pada siapapun, tanpa terkecuali." Taufan mengangkat jari kelingkingnya, mengarahkannya pada Thorn yang menatapnya bingung.

Thorn tidak mengerti, apa sepenting itu kah apa yang akan beri tahu padanya sampai Taufan memintanya untuk merahasiakan hal ini. Namun Thorn enggan berpikir lebih jauh, ia yakin dirinya dapat menjaga rahasia ini. Ia juga tidak berniat untuk membuat Taufan marah karena membocorkan rahasianya. Lagipula menyimpan rahasia adalah hal yang menyenangkan bagi Thorn.

"Aku janji, aku tidak akan memberi tahu siapapun soal ini." perlahan Thorn menautkan jari kelingking miliknya pada jari kelingking milik Taufan. Keduanya tersenyum sebelum melepas kaitan tersebut.

Taufan mengalihkan pandangannya yang sebelumnya menatap Thorn, kini ia menatap langit yang semakin gelap. Sebuah nostalgia pahit harus ia lakukan untuk memuaskan rasa penasaran Thorn.

"Ini dimulai sejak awal kita semua masuk ke jenjang SMP." Taufan memulai ceritanya tanpa menatap Thorn, sedangkan THorn fokus menatap orang yang ada di sampingnya.

-To Be Continue-

-Narake-

Our StorylineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang