"Hali! Hali! Pulang sekolah mau pergi denganku?" Taufan yang saat itu baru menduduki bangku SMP kelas 1 berlari ria menemui Halilintar. Yang dihampiri tengah fokus pada buku catatan miliknya sendiri, ia belajar untuk ujian kenaikan kelas yang akan dilaksanakan minggu depan.
Mata merah Halilintar melihat Taufan yang kini sudah sampai tepat di hadapannya. Sosoknya yang dingin tampak tidak memberikan ruang untuk Taufan hadir, ia tidak tersenyum sama sekali.
"Tidak." ia membalas singkat. Matanya kembali memandang buku catatan yang ada di atas mejanya.
Taufan yang ditolak mentah-mentah merasa sedikit kecewa. Ia bahkan belum memberi tahu apa yang ingin ia lakukan bersama Halilintar. Saat itu Taufan belum begitu tekun dalam hal belajar, ia masih kekanak-kanakan seperti Blaze dan Thorn. Berbeda dengan Halilintar dan Gempa yang pada dasarnya memang selalu tekun belajar.
Namun di sana Taufan belum menyerah, ia masih mencoba untuk membujuk Halilintar sehingga mereka bisa berdua. Sudah sejak awal masuk SMP Taufan menyukai saudaranya sendiri, tentu itu karena Halilintar yang sering memperhatikannya.
"Kau yakin? Aku ingin mengajakmu pergi ke taman ria di pusat kota." Taufan membungkuk dan mencoba memasuki area penglihatan Halilintar.
Perkataan Taufan tidak digubris. Saudaranya justru membalik lembar catatannya, ia terlihat sangat fokus sampai berhasil mengabaikan Taufan yang berada tepat di hadapannya.
"Ayolah, Hali!" Taufan berpindah ke sisi kiri Halilintar dan membenturkan tubuhnya dengan Halilintar beberapa kali.
Halilintar merasa kesal. Ia menutup buku catatannya dengan kasar dan segera menatap Taufan dengan penuh amarah. Hal itu tentu membuat Taufan kaget, tampaknya ia sudah sedikit berlebihan.
"Apa kau tidak tahu? Minggu depan ada ujian kenaikan kelas, aku harus belajar agar aku bisa mendapat nilai yang bagus!" Halilintar berucap ketus dengan nada bicara yang cukup tinggi. Taufan terdiam setelah mendengarnya, ia merasa bersalah karena sudah mengganggu Halilintar.
"Ma-maaf." Taufan tergagap.
Halilintar bangkit berdiri dari kursinya, perlahan kakinya melangkah menjauhi Taufan.
"Bagaimana jika setelah ujian? Kau mau?" Taufan ikut melangkah, ingin mengekori Halilintar.
Tidak ada suara dari Halilintar, tetapi langkahnya terhenti. Pundaknya terangkat sekejap, kemudian ia kembali melangkah pergi meninggalkan Taufan serta sebuah harapan. Harapan untuk Taufan kembali membujuk Halilintar, dan hanya dengan itu Taufan kembali mengukir senyum di bibirnya.
.
.
.
"Lalu bagaimana?" Thorn yang baru mendengar sebagian dari cerita Taufan tampak begitu penasaran. Sepertinya saat SMP Thorn terlalu sibuk bermain sampai tidak menyadari apa yang Taufan alami.
Taufan tersenyum pahit sebelum menjawab pertanyaan dari Thorn. "Setelah ujian aku ingin kembali mengajaknya, tetapi ternyata ia punya banyak kesibukan OSIS sama seperti Gempa. Bahkan setelah kita ada di kelas 2 ia tetap tidak menerima ajakanku, ia justru semakin sibuk dengan organisasi yang ia ikuti."
"Padahal yang kulihat kau selalu menempel pada Halilintar." Thorn berkomentar.
Tepat setelah Thorn menyelesaikan kalimatnya, sebuah bus menghampiri mereka. Keduanya berdiri dan segera memasuki bus yang tidak terlalu ramai itu. Mereka tidak mendapatkan tempat untuk duduk, tetapi setidaknya mereka tidak perlu berdesakan seperti Blaze dan Ice.
Taufan yang sempat menghentikan ceritanya langsung diminta melanjutkan oleh Thorn yang tampak masih penasaran. Ia terkekeh kecil melihat Thorn yang antusias mendengar ceritanya, ia belum pernah menceritakan hal ini pada orang yang antusias mendengar ceritanya.
"Pada akhirnya ia justru suka pada Gempa karena mereka dekat saat kegiatan OSIS, dan kau lihat sendiri sekarang mereka sudah bahagia bersama." Taufan memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun luka dalam hatinya kembali terbuka.
"Tapi sekarang sudah tidak apa-apa." Thorn tersenyum tulus di depan Taufan.
Taufan yang kebingungan justru memiringkan kepalanya, seakan meminta penjelasan dari Thorn. Sementara Thorn sedikit tertawa, mencoba membagikan cinta dalam dirinya pada Taufan.
"Jika Halilintar bisa bahagia, maka Taufan juga bisa."
Hati Taufan menghangat mendengarkan ucapan Thorn. Ia tidak menyangka jika Thorn bisa membuat Taufan melenyapkan sebagian rasa sakit dalam dadanya. Senyuman Thorn yang begitu tulus berhasil menyentuh hatinya, menutup sebagian luka yang masih mendiami hatinya.
"Aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu seperti yang lain." Taufan mengubah senyuman di bibirnya. Kali ini senyuman itu terlihat jauh lebih baik, memancarkan sebuah rasa yang bahkan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku juga." Thorn membalas.
Di rumah, Blaze dan Ice menunda permainan kotor mereka. Semua berkat Gempa yang menyajikan pudding lezat sehingga mereka menunda ritual suci tersebut. Entah dengan sihir apa Gempa berhasil meredakan nafsu Ice yang sebelumnya membara layaknya semangat dalam diri Blaze.
"Bagaimana?" Gempa memandangi kedua saudaranya yang baru saja selesai menyantap pudding miliknya.
Blaze mengangguk semangat. "Ini sangat lezat!"
"Aku bisa menghabiskan sisa hidupku hanya dengan mengonsumsi pudding ini." Ice memegang dagunya dengan tangan kirinya.
"Kau bisa terkena diabetes jika terlalu banyak memakannya." Halilintar yang baru saja datang langsung berkomentar setelah mendengar ocehan Ice.
Ice menatap Halilintar tidak suka. Lamunan Ice tiba-tiba musnah karena komentar Halilintar yang datang tanpa diminta.
"Kau juga seharusnya mencicipi pudding buatanku, Hali." Gempa kini menatap Halilintar yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ya, kurasa sekarang sudah saatnya. Akan lebih lama jika aku menunggu dua bocah itu sampai ke rumah."
Gempa bangkit berdiri setelah mendengar ucapan Halilintar. Ia berjalan menuju kulkas untuk mengambil pudding milik Halilintar, ia harap rasanya tidak berbeda karena pudding itu sudah disimpan cukup lama di dalam kulkas. Kakinya kembali melangkah menuju ruang makan di mana Halilintar sudah menunggu.
Sampai di sana Gempa tidak menemukan Blaze dan Ice, sepertinya mereka sudah kembali ke kamar mereka. Entah mereka akan benar-benar melakukan permainan mereka atau mereka memilih untuk beristirahat di kamar sebelum makan siang.
"Ini bagianmu." Gempa memberikan segelas pudding pada Halilintar dan sebuah sendok. Namun Halilintar justru menyeringai penuh arti.
"Suapi aku."
Gempa diam sejenak, otaknya mendadak lambat dalam memproses kalimat yang Halilintar lontarkan. Sampai pada akhirnya ia berhasil dengan sempurna menyadari apa yang Halilintar inginkan.
"Kau ini bukan anak kecil lagi, Hali." Gempa memasang wajah jengkel mendengar permintaan Halilintar yang terkesan manja.
"Apa tidak boleh aku memintanya dari pacarku sendiri?" seringaian di wajah Halilintar belum luntur, ditambah Halilintar menaikkan salah satu alisnya. Jujur saja Gempa merasa jengkel melihatnya, tetapi di sisi lain ia juga salah tingkah.
Gempa kembali duduk di kursi yang sebelumnya ia duduki, di samping Halilintar. Ia masih belum mengiyakan kemauan Halilintar, tetapi Halilintar tampak sudah siap menerima suapan pertama dari Gempa. Perlahan Halilintar membuka mulutnya, dan menunjuk ke arah mulutnya dengan tangan kanannya.
"Kau ini seperti anak-anak saja, Hali." mungkin Gempa tidak mengiyakan secara langsung, tetapi tubuh Gempa tetap bergerak untuk menyuapi kekasihnya yang tengah ingin dimanja itu.
-To Be Continue-
-Narake-
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Storyline
Fanfiction[COMPLETE] . . Volume 2 [On-Going] . . Kini ketujuh saudara itu sudah menginjak usia remaja. Semuanya sudah berada di jenjang terakhir dalam persekolahan, selanjutnya hanya perlu menaiki tangga perkuliahan. Di sini semua masalah, suka dan duka, tawa...
