26. Pesta Pengakuan

2K 145 15
                                        

Pukul setengah sembilan, Solar masih berada di pesta ulang tahun Ying bersama dengan Fang. Puncak acara akan segera dimulai setelah sebelumnya semua tamu memberi selamat dan kado pada gadis yang hari itu berulang tahun.

"Ada apa, Solar?" Fang menepuk pundak Solar ketika melihat Solar yang hanya terdiam dan tidak menikmati pesta tersebut.

Solar menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Fang. Tangan kanannya mengambil sebuah gelas berisi minuman yang ada di meja. "Aku hanya belum terbiasa dengan atmosfer di tempat ini." Solar mengaku.

"Santai saja. Lagipula kan ada aku."

Solar yang sebelumnya merasa sedikit tidak nyaman kini menjadi sedikit lega karena mendengar ucapan Fang. Namun di sisi lain ia seperti tengah menggantungkan dirinya pada Fang, ia takut hal itu akan merepotkan Fang.

"Fang!" suara seorang gadis membuat Solar dan Fang menoleh ke sumber suara. Keduanya mendapati si gadis berpakaian serba kuning menghampiri mereka.

Ying, si gadis yang tengah berulang tahun datang menghampiri Fang yang awalnya tengah berbincang santai dengan partnernya. Dari raut wajahnya, tampak bahwa Ying tengah memiliki masalah dan hendak meminta pertolongan dari Fang.

"Ada masalah di bagian belakang, beberapa lampu tidak mau menyala." tanpa basa-basi Ying langsung mengutarakan maksudnya menghampiri Fang.

Meskipun Solar sudah beberapa kali berbicara dengan Ying, ia tetap merasa sedikit terkejut karena Ying berbicara dengan cepat. Bahkan kali ini sepertinya Ying berbicara lebih cepat dari sebelumnya, mungkin karena ia tengah dilanda kepanikan.

Fang terkejut, tetapi berusaha untuk tetap tampil keren. "Biar aku periksa." Fang segera melangkah menuju tempat yang Ying maksud.

Tidak dapat tinggal diam, Solar mengekori Ying dan Fang yang sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya. Gelas yang ada di tangnnya kembali ia letakkan di meja, padahal ia belum meminumnya setetes pun.

Fang melihat beberapa orang asing yang tengah kebingungan mencari cara agar lampu yang nanti akan mereka gunakan dapat berfungsi. Dari tampang mereka, mereka tidak terlihat seperti orang yang ahli dalam hal kelistrikan. Fang sendiri juga bukan ahli dalam bidang listrik, bahkan materi Fisika tentang listrik saja dia masih kurang paham.

"Apa kau bisa membantuku, Fang? Salah satu temanku yang pandai dalam hal ini tengah tidak bisa datang karena ada hal penting lainnya, kuharap kau dapat membantuku." Sekali lagi Ying berbicara dengan cepat, bahkan Fang hampir tidak dapat memahami apa yang Ying katakan. Beruntung Fang sudah terbiasa mendengar cara bicara Ying karena mereka sempat satu kelas ketika di SMP.

Dalam otaknya, Fang memikirkan cara untuk bisa membantu Ying. Ia tidak mungkin memaksakan diri untuk memperbaiki apa yang bahkan tidak ia pahami, hal terburuknya adalah benda itu semakin rusak bahkan tidak akan bisa lagi digunakan.

"A-apa tidak ada lagi yang paham soal kabel dan listrik seperti ini?" Fang menatap Ying yang langsung menggeleng menjawab pertanyaannya.

Solar yang baru sampai segera melihat keadaan. Melihat beberapa kabel yang rumit di depannya tidak akan membuatnya pusing, karena ia sudah biasa menjadi orang yang selalu memperbaiki alat elektronik di rumah.

"Kurasa aku bisa membantu," ujar Solar sambil tersenyum.

Fang dan Ying langsung menoleh ke arah Solar yang terlihat sangat yakin bahwa dirinya dapat membantu. Segera Fang ingat bahwa pujaan hatinya merupakan anak jenius yang sangat mencintai dunia sains. Ia meyakinkan Ying bahwa Solar akan berhasil memperbaiki lampu yang rusak itu.

"Aku butuh beberapa alat untuk memperbaikinya, apa kau punya?" Solar berjongkok di depan kumpulan kabel warna-warni sesekali memeriksanya untuk menemukan letak sumber masalah.

Ying mengangguk. "Tentu, apa saja yang kau perlukan?"

Cukup waktu lima menit, Solar sudah berhasil memperbaiki lampu milik Ying yang sebelumnya tidak dapat menyala. Beruntung Solar ada di sana sehingga pesta dapat berjalan dengan lancar.

Perlahan Solar mengusap pipinya yang dibasahi peluhnya sendiri. Di sisi lain Fang tersenyum bangga, ia tidak menyesal mengajak Solar untuk datang ke pesta ini.

"Jadi ini laki-laki yang kau maksud?" Ying yang berdiri di samping Fang segera berbisik ketika melihat Solar selesai memperbaiki lampu yang rusak.

Fang mengangguk. "Mengagumkan, bukan?"

"Kenapa tidak kau 'tembak' saja dia?" Ying tersenyum jahil.

Fang menoleh, melihat senyum di bibir Ying membuat Fang merasa jengkel. "He-hey ini tidak mudah tahu!" seru Fang kesal.

Tingkah Fang yang menurut Ying lucu membuatnya ingin semakin menggoda Fang. "Hey, laki-laki seperti dia pasti populer." Ying melebarkan senyum jahilnya, membuat Fang mengerutkan dahi. "Jangan sampai ada orang lain yang mengambilnya terlebih dahulu~"

Decihan Fang jelas menggambarkan rasa kesal. "Tidak akan aku biarkan!"

Sementara Ying asik menggoda Fang yang kesal, Solar melihat interaksi Ying dengan Fang. Raut wajahnya terlihat masam, kemudian ia mulai merasa sesuatu yang mengganjal hatinya.

Ah, dia memang sudah populer sejak dulu.

"Aku akan kembali ke depan," ucap Solar sambil melangkah pergi meninggalkan Ying dan Fang yang masih asik beradu mulut.

Ternyata kepergian Solar membuat keduanya berhenti bicara sejenak. Keduanya terkejut, terutama Fang.

"Lihat, kau mengabaikannya." sebuah tendangan Ying berikan pada Fang.

"Aduh! Ini kan salahmu!" tanpa berbicara lebih lanjut, Fang segera menyusul Solar yang ternyata tengah mencicipi beberapa makanan yang disajikan di meja.

Pandangan Solar kosong, tetapi mulutnya tetap mengunyah makanan. Dia jelas-jelas terlihat seperti olah yang tengah galau, dan coba tebak salah siapa itu.

"Solar!"

Solar menoleh dan mendapati Fang berlari mendekatinya. Ia segera menelan makanan yang ada di mulutnya dan memutar badannya sehingga kini ia berhadap-hadapan dengan Fang.

"Maaf jika tadi aku mengabaikanmu, aku tidak bermaksud begitu." Fang memegang kedua bahu Solar.

Jika boleh jujur, Fang mulai kembali memikirkan perkataan Ying tentang orang lain yang bisa saja merebut Solar darinya kapan pun. Fang jelas tidak mau hal itu terjadi.

"Tidak apa," balas Solar singkat. Ia membuang muka, enggan menatap Fang yang menatapnya dengan khawatir.

"Kau marah padaku lagi?" Fang mengeratkan cengkramannya pada bahu Solar. Namun Solar tidak menjawab, bahkan menatapnya saja tidak. "He-hey aku tidak meminta Ying mengajariku soal pelajaran, oke?"

Solar kesal mendengar ucapan Fang. Apa Fang sebodoh itu sampai mengira Solar akan marah jika Fang meminta hal itu pada Ying?

Segera kedua tangan Solar menepis tangan Fang. "Bukan soal itu, bodoh! Aku cuma merasa ce ..." Solar menggantungkan ucapannya ketika ia sadar akan apa yag hendak ia katakan.

"Ce?"

Solar menghela napas, ia sudah tidak tahan terus-menerus menahan apa yang hendak ia katakan. Setidaknya ia harus mengatakannya sekarang atau tidak sama sekali.

"Aku suka padamu." Solar berucap dengan suara kecil, tidak berniat membuat orang lain selain Fang mendengarnya. Jantungnya berdebar begitu cepat, membuat wajahnya mulai memanas. " Dan karena itu aku cemburu."

-To Be Continue-

-Narake-

Our StorylineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang