14. Makan Malam Bersama

2.6K 191 15
                                        

"Ice, ayo makan malam." Gempa yang baru saja mengetuk pintu kamar milik Ice segera menyuruh saudaranya untuk makan malam bersama.

"Iya, aku akan segera turun!" seruan Ice terdengar.

"Apa Blaze juga ada di dalam? Dia tidak ada di kamarnya."

"Iya, dia bersamaku."

"Kalau begitu cepat turun, ya!"

Usainya Gempa melangkah pergi ke lantai dasar, lebih tepatnya ke ruang makan. Di sana Halilintar tengah menata makan malam untuk mereka sekeluarga, mungkin Gempa akan memberikan beberapa pertolongan sambil menunggu semua berkumpul.

Di dalam kamarnya Ice menggerutu kesal karena Gempa datang di saat yang tidak tepat. Jika saja menolak ajakan Gempa untuk makan malam bersama adalah hal yang mudah, Ice akan melakukannya.

"Padahal aku baru saja mau makan malam sendiri." Ice menjauhkan diri dari Blaze yang sudah topless.

Blaze sendiri merasa beruntung karena Gempa datang mengetuk pintu, sehingga singa yang hampir memangsanya membatalkan niatnya. Malam ini Blaze batal menjadi santapan Ice, tetapi bukan berarti ia akan lepas begitu saja.

Mungkin hanya segelintir orang yang menyangka bahwa Ice bisa menjadi top. Perangainya yang pendiam dan pemalas membuat banyak orang tidak berpikir bahwa sewaktu-waktu Ice dapat bersikap agresif seperti Blaze. Bahkan jika dibandingkan dengan Blaze, Ice jauh lebih mahir dalam hal mendominasi.

"Kita akan lanjutkan lain kali." Ice melirik Blaze yang tengah memakai kembali bajunya yang sebelumnya dilempar ke sembarang tempat oleh Ice. Keagresifan Ice memang tidak pernah bisa disangka.

"Aku tidak ingin pergi ke sekolah dengan langkah lebar dan pinggang pegal." komentar Blaze dengan tatapan tidak suka yang mendarat pada sorot mata Ice yang teduh.

Ice terkekeh mendengarnya. Kemudian ia memutar kenop pintu kamarnya, kakinya melangkah keluar dari kamar. Blaze mengekori Ice yang terlebih dahulu keluar dari kamar, ia tidak mau terkena omelan Gempa karena terlambat untuk makan malam.

Di ruang makan ternyata semua orang sudah berkumpul kecuali Blaze dan Ice. Segera mereka duduk di dua kursi kosong yang tersisa.

Menu makan malam saat itu cukup menarik. Ada beberapa potong ayam goreng, sayur bayam serta tahu dan tempe goreng. Masakan Halilintar juga terasa lezat, tidak kalah dengan masakan Gempa.

Halilintar sering mendapat pelajaran memasak khusus dari Gempa, sekaligus ia mencari kesempatan untuk berdua dengan Gempa. Dari situ Halilintar mewarisi keahlian memasak milik Gempa, walaupun tidak semuanya. Halilintar belum mampu memasak banyak menu seperti Gempa, ia hanya dapat memasak menu-menu standar.

"Selamat makan!"

Ketujuh orang yang ada di sana berseru serentak sebelum mengambil nasi dan lauk pauk yang mereka inginkan. Mereka bergiliran mengambil nasi, Gempa sudah mengaturnya sedemikian rupa agar tidak ada kericuhan saat makan bersama.

"Blaze, kau harus makan sayur!" Gempa langsung mengomel saat melihat piring Blaze yang hanya berisi dua potong ayam goreng dan nasi.

"Aku tidak suka sayur itu!" Blaze membantah.

"Ayolah, sayur itu enak!" Thorn si pencinta sayur berkomentar.

"Ayo, kau juga harus mencicipi masakanku." Halilintar sengaja mengambil sayur dan menaruhnya ke piring Blaze.

Baru saja Blaze hendak mengoceh karena perbuatan Halilintar, mendadak ia merasakan aura tidak enak dari Gempa yang tersenyum penuh arti sambil menatapnya tajam. Akhirnya Blaze hanya pasrah sambil memaksakan diri memakan sayur tersebut.

Selebihnya mereka makan dengan tenang, tidak ada kericuhan karena Gempa yang sudah mengancam setiap dari mereka dengan death glare khas miliknya. Mungkin sedikit bising dari benturan beberapa alat makan, karena mereka tampak sangat lahap saat menyantap makan malam.

Saat semuanya sudah selesai makan, mereka menumpuk piring yang sudah mereka gunakan. Hari ini Solar yang mendapat giliran untuk mencuci piring.

Lima belas menit mereka sisihkan untuk berbincang bersama, kebiasaan mereka sejak kecil. Mereka membincangkan beberapa hal, jika ada yang ingin bercerita maka semua akan mendengar. Terkadang kegiatan ini bisa bertahan sampai tengah malam jika mereka memiliki cerita yang menarik.

"Hari Sabtu kalian akan datang 'kan?" Taufan mengangkat tangan tinggi-tinggi saat diberi waktu untuk berbicara sehingga semua mata tertuju padanya.

"Aku pasti ikut!" Thorn berseru semangat. Ia sangat menantikan festival tersebut, karena akan ada beberapa pameran tanaman yang membuatnya tertarik.

"Sepertinya semua akan ikut." Gempa menatap saudaranya satu per satu, tidak ada salah satu dari mereka yang tampak akan melewatkan acara tersebut.

"Wajar bukan? Ini adalah festival besar yang ditunggu hampir semua siswa di sekolah." Halilintar berkomentar sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya sendiri.

Semuanya terdengar bersemangat dan menyambut positif festival tersebut. Bahkan Ice yang terkenal pemalas ikut senang menyambut festival ini, mungkin karena ia memiliki rencana saat festival diselenggarakan nanti. Sementara Taufan yang membuka topik ini memang sudah merencanakan sesuatu saat festival ini berlangsung.

"Oh ya, tiga hari lagi mungkin aku tidak akan ikut makan malam." Solar mengangkat tangan saat semuanya sudah selesai membicarakan topik festival sekolah.

Gempa menatap Solar dengan tajam, ia kurang suka jika ada seseorang yang harus melewatkan makan malam keluarga. Waktu seperti ini adalah waktu emas yang sama sekali tidak boleh dilewatkan.

"Kenapa?" Gempa melontarkan pertanyaan singkat.

"Fang mengajakku pergi ke acara ulang tahun sahabatnya, kurasa acaranya akan selesai tengah malam." Solar menjelaskan tanpa menampakkan setitik pun kebohongan dari matanya.

Kali ini Halilintar ikut menatap Solar dengan tajam. Tampaknya telinga Halilintar cukup peka saat mendengar nama Fang diucapkan oleh Solar.

"Bisa kau usahakan untuk pulang sebelum makan malam?" sorot mata Gempa seakan hendak memaksa Solar untuk dapat hadir dalam acara makan malam keluarga.

Ketika Solar menatap Gempa dengan sorot mata demikian, ia sedikit berkeringat. Ia tidak tahu menahu soal acara ini secara lebih jelas karena ia hanya diajak oleh Fang. Bahkan Fang tidak memberikan keterangan lebih jelas soal tempat dan waktu berlangsungnya acara ini.

"A-akan aku usahakan." Solar tersenyum paksa, mencoba melunturkan tatapan menyeramkan dari Gempa.

"Oh, kau sudah dekat dengan Fang ya? Seberapa dekat kalian?" Halilintar mendekatkan wajahnya pada Solar yang ada di sebrangnya.

Melihat Halilintar terlihat tidak suka, Solar menghela napas. "Aku dengannya sekelas, wajar 'kan jika kami dekat?"

Halilintar meninggikan sebelah alisnya tanpa berhenti menatap Solar. "Benarkah itu, Ice?"

"Benar." Ice meneguk segelas air setelah menjawab pertanyaan Halilintar. Mereka bahkan tidak saling menatap, tetapi keduanya bertanya jawab dengan normalnya.

"Tidak apa-apa, aku mengijinkannya pergi." Gempa tersenyum hangat. Bukan senyuman penuh rasa haus darah, kali ini ia murni tersenyum hangat layaknya seorang Ibu.

Halilintar mengalah jika Gempa sudah berucap demikian. Ia memberikan ijinnya pada Solar, dan tidak lupa memberikan beberapa pesan pada saudaranya.

"Kalian ingin berkencannya?" Thorn berceletuk ketika pesan-pesan dari Halilintar selesai disampaikan.

Semuanya hening sambil menatap Thorn yang hanya tersenyum tanpa mengerti mengapa semuanya menatap ke arahnya.

"Apa aku salah?"

-To Be Continue-

-Narake-

Our StorylineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang