29. Permulaan Festival

2.2K 152 14
                                        

Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba, dan mereka menyambut hari itu dengan bangun pagi. Bahkan Ice yang biasanya harus dibangunkan, hari ini bangun sebelum Gempa sampai di kamarnya. Bagitu pula dengan Blaze, Taufan dan Thorn.

Halilintar dan Gempa memasak sarapan dengan buru-buru seakan tengah dikejar waktu. Bahkan mereka sampai tidak sempat untuk sarapan bersama.

"Memangnya kenapa mereka buru-buru sekali? Bukannya festival akan dimulai pukul delapan nanti?" Thorn yang pertama membuka obrolan setelah sarapan selesai.

"Mereka harus membantu anggota OSIS lagi." Ice membalas pertanyaan Thorn setelah selesia meminum susu yang ada di gelas miliknya.

Halilintar dan Gempa masih saja sibuk mengurusi festival meskipun mereka bukan lagi biagian dari OSIS. Mereka seakan ikut memikul beban para anggota OSIS untuk memeriahkan acara hari ini, dan hal tersebut disambut baik oleh para anggota OSIS yang merasa sangat terbantu.

"Mereka sibuk sekali ya," ujar Blaze yang baru saja bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang tengah.

"Ice, Thorn, hari ini tugas kalian." Solar mengingatkan.

Kedua orang yang namanya disebut hanya mengangguk patuh, keduanya tidak berencana untuk mengingkari jadwal mereka. Yang lainnya menikmati waktu senggang di ruang tengah sambil menonton televisi, sementara Ice dan Thorn harus berada di dapur untuk mencuci piring.

"Ice hari ini terlihat lebih bersemangat dari biasanya," ujar Thorn di sela pekerjaannya membilas piring yang sudah disabuni oleh Ice.

Ice mengukir senyum di bibirnya dan mengiyakan ucapan Thorn dengan suara yang lembut dan menenangkan. Thorn terlihat tidak kalah bersemangat, ia tampak sangat menantikan hari ini.

"Kau juga terlihat bersemangat hari ini," komentar Ice.

"Tentu, karena hari ini Taufan terlihat bersemangat, aku jadi ikut bersemangat."

.

.

.

"Wah, kau terlihat sangat cocok menggunakannya, Fang." salah satu gadis memuji penampilang Fang ketika ia baru saja selesai mengganti baju. Kini ia tengah menggunakan kostum khas pelayan, dan pakaian itu terlihat sangat cocok dengan Fang.

"Maaf jadi merepotkanmu, Fang. Jika dia tidak sakit, kau tidak perlu susah payah menjadi butler." gadis yang menjadi ketua kelas tampak merasa sangat bersalah karena terpaksa meminta Fang untuk menggantikan orang lain yang seharusnya ada di posisi Fang sekarang.

Namun Fang tampak tidak keberatan, ia justru merasa senang karena dapat membantu mereka. Ia tidak merasa dibebani karena ia tidak bisa berjalan-jalan bebas dan harus menjadi pelayan selama jam yang ditentukan.

"Kita kekurangan satu orang lagi, kira-kira siapa yang harus menggantikannya?" sang ketua tampak cemas mengingat kebanyakan murid laki-laki akan menghindari tugas ini. Menurut mereka tugas ini merepotkan dan sama sekali tidak menyenangkan.

"Kurasa ada satu temanku yang bisa membantu."

Tidak lama seseorang datang ke kelas dan langsung menyebut nama Fang. Dia, Solar, melihat Fang dibaluti pakaian bak seorang pelayan. Ketika Fang menoleh, ia melebarkan senyum seakan ia sangat menantikan kehadiran Solar di kelasnya. Segera Fang mnghampiri Solar, kemudian ia menariknya ke kerumunan perempuan yang juga tengah menunggu kedatangan Solar.

"Apa kau mau membantuku, untuk hari ini?" tanya Fang.

"Bantu ... apa?" Solar menelengkan kepalanya.

"Singkatnya, menjadi butler sepertiku." Fang memamerkan pakaian yang ia kenakan.

Solar memandangi Fang sejenak, kagum dan terpesona melihat penampilang Fang. "A-aku mau."

Setelahnya Solar diberikan kostum yang hampir sama dengan milik Fang dan dipersilakan untuk berganti baju di toilet. Fang menemani Solar berganti baju sambil memberi penjelasan lebih lanjut tentang apa yang terjadi sebelum Solar datang ke kelas. Solar hanya mendengarkan penjelasan Fang dengan seksama, setidaknya dengan penjelasan tersebut ia tidak akan menyesal karena bersedia membantu

Sementara Fang dan Solar membantu dengan menjadi pelayan sebuah café kecil di dalam festival, maka Halilintar dan Gempa bertugas di balik layar. Mereka mempersiapkan beberapa hal di bagian belakang agar acara dapat berlangsung dengan lancar.

"Semua sudah selesai, sisanya kalian bisa menyerahkan pada kami." Sang ketua OSIS tampak sudah sangat percaya diri. Ia langsung mengucapkan terima kasih pada Halilintar dan Gempa yang sudah membantu mereka beberapa hari ini.

Gempa dan Halilintar juga merasa senang karena dapat ambil bagian untuk melaksanakan acara ini, mereka mengaku tidak merasa keberatan. Mereka berharap acara ini dapat dilaksanakan tahun depan, meskipun mereka sudah lulus dari sekolah ini. Acara ini adalah acara turun-temurun yang tidak dapat dihilangkan begitu saja, justru diharapkan adanya pengembangan agar acara ini selalu tampil maksimal di setiap tahunnya.

Dan karena kerja keras Halilintar dan Gempa, mereka mendapatkan beberapa hadiah dari pihak OSIS. Seperti tiket gratis di beberapa stand permainan. Halilintar dan Gempa tidak dapat menolak karena semua anggota OSIS tampak memaksa mereka untuk menerimanya.

"Terima kasih banyak, aku sangat senang bisa membantu kalian." Gempa tersenyum lembut.

"Bukan masalah, Kak. Kami juga senang kalian mau membantu kami. Sekarang kalian bisa pergi untuk menikmati festival ini." Sang ketua OSIS balas tersenyum.

Setelahnya Gempa dan Halilintar berpamitan untuk undur diri, mereka juga ingin menikmati festival ini. Namun sepertinya Halilintar tidak demikian. Halilintar justru terlihat mencari seseorang di setiap kerumunan orang-orang. Tanpa bertanya pun Gempa sudah tahu siapa yang dicari oleh Halilintar.

"Mencari Solar?" tanya Gempa.

Halilintar hanya mengangguk, bahkan ia tidak menatap Gempa yang berjalan di sampingnya.

"Hali, berhenti bersikap seperti ini." Gempa berhenti berjalan dan tangannya memegang pergelangan tangan Halilintar.

Akhirnya Halilintar menatap Gempa yang tampaknya sudah lelah dengan sikap Halilintar. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk menghentikan Halilintar bersikap overprotective terhadap Solar.

"Sudah sejak awal aku tidak menyukai bocah itu, tapi kenapa kau masih membiarkannya? Kukira kau juga mengerti apa yang aku rasakan." tidak gentar, Halilintar justru tampak seperti tengah menantang Gempa.

Gempa menghela napas lelah, entah harus berapa kali ia berbincang dengan atmosfer seperti ini dengan kekasihnya. "Aku paham, aku tahu apa yang kau maksud. Aku tidak buta, aku tahu semuanya. Namun caramu salah, tidak seperti itu caranya jika kau ingin dia aman." Gempa mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Halilintar.

Tidak ada jawaban dari Halilintar.

"Apa kau mau ia kembali terkurung seperti dulu?" nada suara Gempa berubah, terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Dan kalimat tersebut berhasil membuat Halilintar tersentak, sekilas ia bernostalgia mengingat masa kelam yang tidak ingin lagi ia lihat.

"Aku tahu niatmu baik. Aku ini kekasihmu, jadi aku tahu betul bahwa kau ini bukan orang jahat. Namun terkadang caramu salah sehingga orang salah menilaimu." sebuah senyuman lembut Gempa berikan pada lawan bicaranya. Namun tetap tidak ada balasan dari Halilintar.

"Untuk hari ini saja, aku hanya ingin ada aku dan kamu. Kita nikmati berdua saja, ya?"

Halilintar menghela napas singkat dan tersenyum tipis. "Baiklah," ujarnya.

-To Be Continue-

-Narake-

Our StorylineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang