Ch.4: Mimpi Dalam Mimpi

12.2K 2.2K 102
                                        

Sorry for typo(s)





Langkah Chae Yong begitu cepat kala mendengar kabar dari Irene bahwa Jaemin telah dijemput oleh ibunya. Beruntung, keduanya masih berada di area parkir sehingga panggilannya masih terdengar.


Wanita yang tampaknya lebih muda dari dirinya itu memberi tatapan tak suka pada Chae Yong. Tangan yang mencengkeram ransel Jaemin juga tak lepas dari pandangannya.



"Jaemin masih terlihat lemas, bisakah anda berjalan pelan-pelan?"



Tidak ada sahutan, hanya dengkusan kasar serta wajah melengos. Chae Yong melangkah maju, ia menyamakan tingginya dengan Jaemin, wajah manisnya itu diusap dengan lembut.




"Kau bisa istirahat dua hari ke depan. Ibu guru sudah meminta ijin pada sekolah, nanti sepulang sekolah harus istirahat. Mengerti sayang?"




Bibir Jaemin mengulas senyum kecil, sang guru berniat ingin memberi pelukan tetapi tubuh anak itu sudah diseret paksa oleh ibunya yang membuat dirinya terkejut. Terlihat wajah yang meringis kesakitan saat memasuki mobil tersebut. Tanpa mengatakan apapun, bahkan ucapan terima kasih saja tidak terlontar.



Chae Yong tidak mempermasalahkan hal tersebut. Rasa khawatir menyelimutinya, berharap bahwa murid kesayangannya itu akan baik-baik saja.




"Dasar wanita menyebalkan!"


Chae Yong berbalik dan menemukan laki-laki yang diketahui adalah tukang kebun di sekolah. Melihat sikap sang guru, buru-buru ia membungkuk sopan.



"Maaf, Nyonya. Bukan anda."



Salah satu alisnya terangkat, bibirnya mengulas senyum kemudian setelah mengetahui siapa yang dimaksud, Chae Yong berdiri di sebelah laki-laki paruh baya tersebut melihat mobil Jaemin sudah menghilang dari area sekolah.




"Aku hanya khawatir pada Jaemin."



"Dia itu anak kuat, Nyonya. Aku pernah menangkap basah wanita itu memukul Jaemin," membuat Chae Yong menatapnya terkejut, "Aku ingin melaporkannya api Jaemin melarangku," senyum dari wajah lelaki itu tampak sendu, "Dia bilang bahwa Mama adalah harta satu-satunya. Dia yang nakal karena tidak menurut keinginan wanita tersebut, begitu."




Kini bukan lagi perasaan khawatir guru terhadap muridnya, melainkan hati nurani sebagai ibu.







***



"Maa! We!"



Tangan mungil itu tak hentinya menarik piyama sang ibu yang tengah sibuk dengan laptop di meja makan. Makan malam telah berakhir beberapa waktu lalu, Chae Yong melepas kacamatanya dan beralih pada putra bungsunya.


Wajah Jisung merajuk membuat sang ibu tertawa kecil, ia membawa si bungsu ke pangkuannya. Jemarinya membelai lembut rambut hitam tersebut, "Kenapa tidak minta Jeno hyung?"





Jisung menggeleng kuat, ia menyandarkan kepalanya di dada sang ibu dengan tangan yang tak sampai melingkarkan lengannya di leher Chae Yong.




"Hyung ambil we J'sung!"




"Ayo, dengan Mark hyung saja."



Keduanya menoleh pada si sulung yang merentangkan kedua tangannya. Chae yong menyunggingkan senyumnya, merasa lega bahwa Mark turun untuk membantu. Dengan luwesnya, ia menggendong adik bungsunya, mengecup pelan keningnya yang bersandar pada bahu.



Dilecto✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang