Sorry for typo(s)
"Kau yakin akan meninggalkan rumah? Meninggalkan Mama?"
Pertanyaan yang dilontarkan membuat pemuda yang di depannya tersenyum kecil, tangannya berhenti mengemasi baju-baju yang dimasukkan ke dalam koper berwarna hitam. Dihampirinya wanita paruh baya yang duduk di tepi ranjang dengan wajah sendunya, bersimpuh di hadapan sosok yang dipanggilnya Mama seraya menggenggam kedua tangan putih itu.
"Aku hanya tinggal di apartemen dekat kampus, aku tidak akan meninggalkan Mama."
Perasaan sedih seorang ibu yang ditinggal anaknya akan tetap ada di sana meskipun sudah ditenangkan dengan sebuah kata-kata maupun janji, wajah cantik itu ditangkup lembut oleh Mark dengan menyunggingkan senyum kecil.
"Satu persatu, anak Mama akan meninggalkan rumah."
"Mereka pergi untuk menimba ilmu dan membanggakan kedua orang tuanya."
Senyum wanita itu begitu sejuk dilihat oleh Mark, lengannya melingkar pada leher sang putra dan memberikan pelukan yang begitu erat seraya mengusap lembut punggung si sulung Lee.
"Jaga dirimu baik-baik, jangan nakal, jangan melanggar peraturan asrama, jangan apapun itu yang akan membuat Mama khawatir nantinya."
Lengan Mark juga melingkar pada pinggang sang ibu, mengeratkannya kemudian, "I will, Mom!"
"Hyuuung!"
Keduanya menoleh dan mendapati Jisung berlari menghampiri, wajahnya tampak kesal dan langsung berdiri di antara sang ibu dan kakaknya, "Jisung ingin ikut dengan Mark hyung! Jisung tidak mau dengan Jeno hyung! Dia menyebalkan!" adunya sembari menghentakkan kedua kaki, pipinya menggembung sampai membuat bola mata itu menyipit.
Sosok Jeno berjalan memasuki ruangan dengan tangan satunya sibuk memakan snack yang berada dalam wadah, rengekan Jisung semakin nyaring melihatnya. Tanpa mempedulikan adiknya, ia duduk di samping sang ibu seraya menjulurkan lidahnya.
"Cengeng, Jisung cengeng!"
Tangan pendeknya memukul paha sang kakak sedangan Chae Yong melerai mereka sembari menggelengkan kepala, "Kalian satu hari saja, Mama mohon akur."
"Kalau Jisung mau bermain game denganku oke-oke saja."
"Tidak mauuu!"
Mark tertawa kecil seraya berdiri kemudian melirik pada jam weker di kamarnya.
"Anak-anak!" suara sang Ayah menandakan keberangkatan si sulung. Jeno bertugas membawakan koper sang kakak sedangkan Mark menggendong Jisung sampai ke depan.
Jungjin sudah bersiap di samping mobil taksi dengan bagasi dibuka untuk beberapa barang yang akan dibawa oleh Mark.
Wajah sendu Chae Yong masih terlihat jelas di sana sedangkan Jisung memeluk kaki sang ibu, "Kamar hyung untukku, ya?" pekik Jeno tiba-tiba.
"Enak saja, nanti kalau aku pulang dan menginap beberapa hari? Kita sudah memiliki kamar sendiri, Jeno."
Anak tengah itu menggembungkan pipi seraya mendengkus pelan, "Kamar hyung lebih luas," sergahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dilecto✓
FanfictionTeruntuk kalian yang pantas dicintai. Termasuk dirimu, Na Jaemin.
