Senin. Hari yang identik dengan kesibukan dan kemacetan karena banyak orang yang berlomba-lomba untuk berangkat lebih pagi. Aku menghembuskan napas berat, menatap gedung besar di depanku.
" Selamat pagi, perkedel kesayangan." Baru juga aku melepas helem, sapaan Reno sudah membuatku ingin mencakar wajah gantengnya. Sableng begitu, aku tetap mengakui kalau Reno itu ganteng.
" Hm."
" Kok cemberut gitu sayangku? Biasanya kalau awal bulan semangat banget. Mata ijo dan dahimu seperti tertulis 'uang uang uang'." Reno terbahak di ujung kalimatnya. Sialan emang ini perasan kain pel.
" Diem lu!" Aku mendengus lalu pergi meninggalkan Reno yang masih menyisir rambutnya dengan tangan di depan kaca spion.
" Tunggu kek Dell." Reno berhasil menyamai langkahku dan kami masuk kantor beriringan.
Suasana kantor sudah mulai ramai. Memang begini kalau hari senin, rata-rata pegawai datang lebih pagi karena biasanya ada briefing.
" Eh Dell,"
" Hm?"
" Mulai hari ini kan, Pak Razan masuk kantor?" Aku mengangguk mengiyakan.
Alfarazan Syahreza Dwiputra. Laki-laki yang sama sekali tidak ingin aku temui. Tak peduli dia bossku atau bukan, aku berharap kami tidak akan ketemu lagi-meski itu tidak mungkin. Dua malam yang lalu masih tercetak jelas di ingatanku bagaimana dia mengomentari pembalutku. Rasanya aku ingin sekali membawanya ke kutub selatan dan membiarkan dia mati kedinginan di sana.
" Della." Aku menoleh begitu ada seseorang yang memanggilku. " Ya?"
Mataku langsung mengerjap dan badanku membeku begitu laki-laki yang ingin aku hindari justru berjalan ke arahku. Pak Razan dengan setelan kerjanya sudah berdiri sekitar tiga meter dariku.
" Kamu meninggalkan sesuatu malam itu." Katanya santai. Reno langsung menyenggol tanganku seperti minta penjelasan.
" Sesuatu apa ya pak? Dimana?" Tanyaku tak paham.
Sebentar, aku yakin malam itu hanya menjatuhkan satu bungkus pembalut dan sudah kurebut lalu kubawa pulang.
" Nanti istirahat makan siang ambil di ruangan saya."
Pak Razan pergi meninggalkanku yang diam di tempat sambil memikirkan benda apa yang aku tinggalkan malam itu. Aku menoleh ke arah Reno dan ternyata anak ini sedang menatapku tajam.
" Ini nggak seperti yang kamu bayangkan, Ren. Serius." Aku tidak tahu kenapa aku harus menjelaskannya pada Reno.
"Emang apa yang aku bayangkan?"
" Ya pokoknya yang ada di otakmu itu salah." Aku berjalan cepat mendahului Reno agar segera sampai ruanganku.
" Heh perkedel, jangan main tinggal dong!"
***
Aku berjalan mondar-mandir di depan ruangan Pak Razan. Sebelumnya ruangan ini adalah perpustakaan kecil yang sudah disulap sedemikian rupa. Sebenarnya aku masih bingung dengan posisi Pak Razan di perusahaan ini. Kalau dia memang menggantikan Pak Romi, kenapa aku masih melihat Pak Romi berangkat ngantor pagi tadi? Atau Pak Razan hanya ikut membantu ayah angkatnya mengelola perusahaan? Ah entahlah, yang penting dia tetap atasanku di kantor ini.
Oke, kembali ke posisiku saat ini, masih berdiri mondar-mandir persis seperti setrikaan.
Ambil nggak? Ambil nggak?
Aku tidak merasa meninggalkan apapun malam itu, tapi aku penasaran kenapa Pak Razan bisa mengatakan kalau aku meninggalkan sesuatu?
" Kenapa berdiri di situ?" Aku berjengit begitu tiba-tiba Pak Razan sudah berdiri menjulang di belakangku. Loh orangnya nggak di dalam ternyata?
KAMU SEDANG MEMBACA
Entire Love (END)
Narrativa generaleArdella Ayuning Putri (Della) dikhianati pacar sekaligus sahabatnya. Radit dan Rere, dua orang yang sangat dia sayangi, justru menghancurkan kepercayaannya hingga berkeping-keping. Di saat Della melampiaskan kekesalannya di atap hotel, dia bertemu...
