Bab 14

29.2K 2.8K 131
                                        

"Jangan lupa besok hari minggu, Dell." Aku menggeram sebentar lalu mendongak. Ini orang udah berapa kali sih, ngingetin hal ini?

" Iya bapak. Saya belum pikun." Aku melanjutkan aktifitas berkemas sebelum pulang.

" Dell, ntar aku jemput dimana? Depan gerbang rumah kah? Atau aku harus izin dulu sama ayahmu?" Suara Evan membuatku menoleh. Oh rupanya dia sudah selesai berkemas.

" Mampir dulu boleh kok Van, ayah udah tahu kamu ini. Kalau aku ketahuan keluar diam-duam malah ntar di introgasi macam-macam pas pulang."

" Oke, sekalian ketemu camer."

" Maumu!" Aku melempar bulpoin ke arah Evan dan Evan justru terbahak.

Aku celingukan mencari kertas oret-oretanku yang tadi aku gunakan untuk nulis poin-poin waktu rapat.

" Bapak! Kertasnya kok di remas?!" Aku mendelik lalu reflek merebut remasan kertas di tangan Pak Razan. "Kan bener, ini kertas milik saya."Aku menatap sebal ke arah Pak Razan yang wajahnya tampak sangat datar.

" Yuk Dell,"

Evan menghampiriku lalu tersenyum sopan ke arah Pak Razan. Pak Razan bukannya membalas, malah tak menggubris sama sekali.

" Irma sama Fatih ikutan juga tau Dell, habis bulan madu mereka."

" Iya kah? Bisa ntar, kita godain mereka Van. Cinlok KKN berujung pelaminan. Cihuy!"

" Kita nyusul ya Dell."

" Duh mas, terang-terangan sekali ya, anda ini?"

Busset nih si Evan, dia nggak ada malunya padahal masih ada Pak Razan yang berdiri di depan mejaku.

" Aku takut kamu diembat orang lain Dell, nggak rela."

" Apasih Van, nggak luc-"

Brak!

Pak Razan tiba-tiba pergi tampa pamit meninggalkan kursi kayu yang ada di depan meja Leni terjatuh begitu saja.

" Sudah kuduga."

Keningku mengernyit heran ketika Evan bicara seperti itu.

" Apanya Van?"

" Nggak, nggak papa Dell. Ini Pak Razan nggak sengaja nyenggol kursinya. Heee," Evan meringis sambil menarik kursi agar kembali berdiri.

" Ya udah ayo Van."

Aku dan Evan berjalan beriringan keluar kantor. Malam ini niatnya mau ada reoni kecil-kecilan antar anggota KKN dulu dan tentu saja aku sama Evan ikutan. Ya iyalah, yang luar kota aja ada yang belain datang masak yang asli Jogja malah ngilang?

" Dell,"

" Hm?"

" Pak Razan kayaknya suka kamu ya?"

Langkahku berheti ketika mendengar Evan tanya begitu.

" Suka aku? Hahahaha! Kaya nggak ada cewek lain yang lebih bagus aja, Van. Nggak mungkin lah!"

" Masa sih?"

" Dia udah punya calon kali Van. Dia emang gitu kok orangnya, suka aneh. Kalau misal dia suka sama aku, harusnya aku dibaikin, di kasih perhatian. Lah dia apa? Neror aku terus lha iya."

" Gitu ya?" Evan menggaruk pelipisnya sambil meringis sementara aku hanya geleng-geleng heran.

Bentar deh, Pak Razan suka sama aku? Nunggu Dimas tiba-tiba jemput aku plus anak itu nraktir aku makan, baru aku percaya. Aliasnya, itu nggak mungkin. Ya iyalah, anak itu sih kapan mau berbuat baik ke kakaknya? Yang ada, apa-apa harus ada imbalan. Dasar adek semprul!

Entire Love (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang