Kamis, 10 Agustus 2017

42 2 0
                                        

Pagi ini aku merasa sesuatu yang aneh dan mengganggu. Bukan merasakan kehadiran jin tomang ya? Apalagi kucing tomang. Aku merasakan tenggorokanku sangat sakit. Ini sangat menggangguku. Semua berawal ketika semalam aku jalan-jalan keliling Rejasari dengan Lisa, anaknya Pak Nanang sekaligus mengantarkannya membeli charger. Aku meminjam motor Yana, walaupun semalam kaki kiriku terluka oleh standar motor yang belum kunaikan.
Malam ini kuberfikir, sepertinya ini tanda-tanda sakit. Aku kesulitan tidur, hingga pagi dini hari kulihat Fitri sedang sholat tahajjud. Aku pun ingin. Namun, aku sedang berhalangan. Akhirnya kulanjutkan tidurku, walaupun teramat sulit, apalagi harus menahan sakit yang menyiksa diri ini.
Aku terbangun, kulihat handphoneku menunjukkan pukul 07:19 WIB. Aku bergegas mengambil baju dan kerudung untuk disetrika. Setelah itu, aku mandi. Jadwal hari ini adalah mengajar di PAUD Al-Barokah 2. Kukira hari ini aku mengajar berdua dengan Ulfah. Ternyata Asiyah, Arif, dan Gina ikut mengajar juga. Hari ini aku sedang tidak enak badan, kepalaku terasa pusing. Saat mengajarpun aku pilek berkali-kali, sampai ada yang bilang, “Bu guru lagi sakit?”
Aku hanya tersenyum, seusai mengajar aku mendokumentasikan area PAUD untuk diposting di blog KKN. Miris melihat keadaan sekolah ini. Tidak diberi kaca jendela, tidak berpintu, kayu-kayu telah dimakan rayap, dan tembok yang sudah usang. Tidak adakah kesadaran pemerintah untuk membantu mereka. Aku membatin sedih.
Sepulang dari PAUD, aku diajak Ulfah beli makanan di depan MIN 2 Kota Banjar. Dia mau beli gorengan sama tahu walik. Emmm, sepertinya enak. Aku pun akhirnya ikut membeli walaupun tenggorokan seperti sulit menelan. Sakitnya, luar biasa. Di tengah sakitku, Arif masih sempat-sempatnya meledekku.
Kemudian, aku pulang ke posko. Aku ke kamar tengah, mengingat ada tugas yang harus kukerjakan. Di sela-sela mengerjakan tugas Bahasa Arab. Rasa kantuk tak dapat tertahankan, aku merem melek di kamar. Berusaha untuk tidak tertidur, karena tugasku masih banyak. Apalagi besok adalah hari terakhir mengirimkan tugas. Duh gusti! Perjuangan sekali ya? Saat sibuk-sibuknya KKN, di sisi yang lain harus mengikuti kegiatan belajar online. Aku tidak putus asa. Hanya saja, dari sini aku belajar bahwa memanajemen waktu adalah sesuatu yang sangat penting.
Aku terbangun saat teman-teman KKN mengajak untuk mengikuti musyawarah desa (MUSDUS) di PAUD Miftahul Huda Al-Barakah 1. Sebenarnya agak malas, tapi ketua kelompok meminta kami semua untuk hadir. Baiklah, aku berangkat.
Sesampainya di sana, aku mengisi daftar hadir di pintu masuk ruang musyawarah. Kemudian aku duduk di bangku paling belakang. Sarif mengirim chat di grup Kelompok 327, “Udah mulai belum acaranya?”
Tak ada yang membalas. Akhirnya aku yang membalas, “Belum,”
Pantas saja ada yang kurang, ternyata Sarif belum datang ke sini. Kukira terselip di belakang pintu. Saat acara dimulai, kami sibuk mendokumentasikan kegiatan hari ini. Aku tidak ikut mendokumentasikan, kepalaku pusing, tenggorokan sakit, badan lemas, dan pilek. Ramelah rasanya.
Sepulang dari musyawarah, aku pamit ke Fey untuk berkunjung ke rumah nenek. Ia mengizinkan. Aku langsung menelepon nenekku dan bertanya naik angkot apa saja. Nenek memberitahukan bahwa kalau dari Langensari, naik angkot sampai terminal Banjar kemudian dari terminal Banjar naik jurusan Pamarican. Okey, berangkat!
Aku beres-beres baju dan buku yang akan kubawa ke rumah nenek. Sedikit yang kubawa, ngga semuanya. Nanti dikira mau minggat dari posko gara-gara ngga betah tidur beralaskan tanah beratap langit. Eh ngga beneran loh ini, hanya kiasan saja.
Selepas shalat ashar, aku meminta untuk diantar sampai pasar Langkap. Ulfah bilang sama aku kalau sore ngga akan ada angkot. Aku tidak langsung percaya begitu saja. Aku ke rumah orang tua Syifa untuk bertanya soal angkot. Namun yang kutemui hanya ayahnya. Kupanggil Syifa dari pintu depan. Ada yang menyahut tetapi orangnya ngga ada. Aku berencana untuk lari dari rumah Syifa sambil teriak-teriak. Eh ngga jadi, ternyata sumber suara itu ada di samping rumah. Ayah Syifa yang sedang menjahit baju di ruang kerjanya. Huft, untung belum lari. Haha...
Aku menghampiri ayah Syifa dan bertanya angkot jurusan Langensari sampai Terminal Banjar masih ada ngga. Beliau menjawab masih ada, sampai pukul lima sore. Ada nafas lega terselip dalam jiwaku yang sehat. Masih sehat? Alhamdulillah masih.
Aku kembali ke posko dan menunggu orang yang mau mengantarkanku ke Pasar Langkap. Aku duduk di teras posko ditemani Sarif yang sedang makan keripik. Eh dia malah tanya-tanya terus ke aku, udah kayak wawancara kerja. Aku lagi males ngomong waktu itu, tenggorokanku sakit. Akhirnya tidak semua pertanyaannya kujawab. Hadeh menyebalkan sekali dirinya.
Sarif bangkit dan masuk ke dalam posko. Mungkin dia merasakan ada hawa-hawa kemalasan menjawab pertanyaannya. Yasudahlah, lagipula apa yang penting dari pertanyaannya. Tak lama kemudian, Kang Dede keluar posko dan mengatakan bahwa ia akan mengantarku sampai Pasar Langkap, kita pinjam motor Fikri. Yana dan Ulfah ikut juga naik motor Yana. Aku taunya mereka mau steam motor. Aku lebih taunya, aku mau pulang ke rumah nenekku.
Okey, sesampainya di Pasar Langkap, aku turun dari motor dan berterima kasih ke Kang Dede. Aku melihat ada angkot di perempatan pasar. “Pak, ke terminal Banjar?” Tanyaku pada sopir angkot.
“Iya, Neng. Mau kemana?”
“Ke Banjarsari, Pak,”
“Naik Bis?”
“Engga, naik angkot aja,”
Aku berfikir, “Ah masa iya, cuma ke Banjarsari segala naik bis. Huft ada-ada saja sopir angkot jaman now,”
Kurang lebih perjalanan 45 menit, aku sampai di Terminal Banjar, aku membayar Rp. 5000 kemudian aku langsung otewe ke kamar mandi. Kebelet itu. Yasudah akhirnya aku ke sana, sekaligus merapikan kerudung yang berantakan diterpa angin badai.
Setelah itu, aku naik angkot. Eh aku salah naik angkot. Masa aku naik jurusan Langensari lagi. Untung angkot yang salah kunaiki adalah angkot yang tadi kutumpangi. Aku diarahkan pak sopir ke angkot jurusan Banjarsari. Ini adalah angkot terakhir karena waktu memang sudah menunjukkan pukul lima sore.
Perjalanan ini benar-benar mengasyikkan. Masih menghijau di sisi kanan dan kiri jalan, bagaikan berjalan-jalan di Syurga. Aku bisa menyebut ini Syurga, bagaimana wujud Syurga yang sesungguhnya. Pasti lebih hijau, lebih bersih, lebih indah, serta tertata daripada ini. Aku berdzikir berkali-kali. Ya Allah, mengapa masih banyak manusia yang lupa bersyukur?
Alhamdulillah pukul setengah enam sore aku sudah sampai depan Pangkalan Ojek Cikotok. Aku membayar Rp. 5000 dan naik ojek di jalan masuk menuju Sidaharja. Aku berfikir untuk jalan kaki. Namun, jalan masuknya sangat jauh. Kalau aku jalan kaki, mungkin bisa sepuluh kali membuat api unggun kali ya? Aku dan tukang ojek saling diam, aku bingung mencari topik pembicaraan. Akhirnya saat motor tukang ojek menginjak batu dan hampir meleset. Kami ada pembicaraan karena tukang ojeknya minta maaf ke aku. Ya setelah itu kami saling diam.
Menjelang senja, aku sampai di gang rumah nenekku. Aku ketemu Bu Iti, penjual sayur di samping gang. Aku menyalaminya. Oh ya, aku bayar ojek dululah. Lupa aku, aku bayar Rp. 10.000 dan ternyata aku ke nenek habis Rp. 20.000. Tak apa. Insyaa Alloh, ada gantinya di lain waktu.
Setelah mengobrol singkat dengan Bu Iti, aku langsung ke rumah nenek menyusuri gang penuh pohon pisang di sisi kiri dan selokan di sisi kanan. Kulihat nenek duduk di bangku depan rumah. Aku ngga kuat menahan tawa. Aku berlari dan menghambur memeluk nenek. Kangen pisan.
Saat mengobrol di teras, Ibunya Liska datang menghampiri. Aku bersalaman dengannya. Kemudian aku masuk ke dalam rumah dan duduk sambil menyalakan kipas angin. Nenek mengajakku mengobrol tentang Mas Teguh di kamar tengah sampai adzan maghrib berkumandang. Pak Dakir sholat ke masjid dan nenek di kamar belakang.
Aku ke dapur, masak mie. Duh badan rasanya ngga karuan. Aku ke kamar tengah untuk tiduran. Kemudian nenek datang dan membawa minyak kayu putih beserta uang koin untuk mengerok punggungku sambil bercerita tentang orang tuaku.
Setelah selesai kerokan, aku makan tempe buatan Pak Dakir. Enak banget. Setelah makan, aku disuruh nenek minum antangin, kemudian aku nonton TV judulnya Cantik-Cantik Kucing Dapur. Badanku ngga karuan, panas dingin dan rasanya ingin tumbang.
Aku ke kamar tengah, kurebahkan badanku di kasur dan bersiap-siap untuk tidur. Pilek ini menyiksaku. Aku kesulitan tidur karena hidung tersumbat. Akhirnya, aku meninggikan bantal dan tidur dengan posisi sekitar 110 derajat. Aku membuka facebook di handphone untuk menstalk facebook Ali.
Sayup-sayup mataku mulai berat. Aku log out facebook kemudian tidur dan berharap besok sudah sehat kembali.

KKN di Desa RejasariCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang