Sekitar pukul 4 dini hari, beberapa teman KKN berusaha membangunkan kami yang masih tertidur, salah satunya aku. Seketika saja aku langsung bangun dan teringat bahwa hari ini kelompok KKN kami akan berlibur ke Pantai Pangandaran. Giliran liburan aja semangat bangun pagi. Yah begitulah. Lalu aku segera mencari keberadaan hapeku untuk dicharger. Kan kita mau foto-foto di pantai. Eaaa...
Aku segera bersiap-siap untuk berangkat. Sholat shubuh, mandi, mencuci baju, menjemur baju, dan berdandan yang rapi. Beberapa orang meminta untuk segera naik mobil. Haduh, mana belum pakai kerudung.
Akhirnya aku meminta untuk ikut naik motor aja, tapi malah rebutan sama Fikri. Hidup kok pada rusuh gini sih. Kemudian kubawa tas kecil berisi dompet, hape, dan sorban. Pinjem dulu sorban bapak, hanya untuk selfie bukan untuk dakwah apalagi mualafin turis.
Aku menaiki mobil yang sudah terparkir di depan posko. Heran deh, tadi minta cepetan karena mobilnya mau berangkat, giliran aku udah naik mobil malah setengah jam kemudian baru berangkat. Hadeh mana duduk di bangku tengah pojok kiri bertiga sama Asiyah dan Fitri yang badannya lumayan lah. Nyiksa euy!
Mobil avanza melaju disupiri oleh Mas Mahpud, adiknya Pak Nanang yang punya posko KKN. Sepanjang perjalanan, aku hanya memandang keluar jendela. Aku menyukai pemandangan kota ini dan sempat bermimpi suatu saat bisa membangun tempat belajar di sini. Entah itu sekolah, pesantren, bimbel, tempat kursus, atau perpustakaan. Kuhela nafasku dan yakin masa depanku ada di tangan Allah.
"Huek!" kudengar suara mual dari sebelah kananku.
"Aa, berhenti dulu di depan. Ada yang mabok," kata Fitri kepada Mas Mahpud.
"Iya, nanti di depan,"
Kulihat ke arah Asiyah, wajahnya pucat, ia menutup mulutnya dengan kerudung. Hadeh, jangan muntah di mari neng. Mobil mahal ini masalahnya, nyuci aja harus di pemandian para gadis perawan. Eh kocak, haha...
Akhirnya Mas Mahpud menghentikan laju mobilnya. Ia menepi tepat di jalan samping kebun pisang. Asiyah segera turun diikuti Fitri, Gina, dan Uni. Kang Dede keluar mobil, ia menuju Alfamart.
Beberapa orang dari kami mengajak makan opor ayam dan soto di toko kecil pinggir jalan, hanya aku, Asiyah, Uni, Gina, Sarif, dan Arif yang makan. Selebihnya molor.
Tak lama kemudian kulihat Kang Dede keluar dari Alfamart, ia menenteng bungkusan plastik. Coba tebak apa isinya?
"Kang Dede, makan." Ajak Gina kepada Kang Dede yang menuju mobil.
"Henteu, abdi tos mamam (Ngga, aku udah makan)," ujarnya. Lalu ia mengobrol dengan Mas Mahpud di samping mobil.
Aku membuka chat whatsapp, tiba-tiba Asiyah meledekku, "Ridha, itu Sarif ada di depan kau. Ngapain kau chat dia."
Sarif hanya tersenyum memandang kami, lalu aku mengatakan, "Heh, Sarif tuh udah punya pacar. Kau ini gimana?"
"Iya, Asiyah. Sarif udah punya pacar. Ridha juga udah," sela Arif.
"Dih, kagak!" ujarku reflek.
"Ahahaha," Asiyah tertawa, "Oh bukan Sarif rupanya pacar kau, sekarang Arif yang jadi pacar kau, Ridha?"
Gina, Uni, dan Arif ikut tertawa juga. Sebenarnya dari segi perkataan tidak ada yang lucu, namun logat Medannya yang khas membuat kita jadi mikir, "Ini orang ngomong apa kumur-kumur sih?"
Sarif diam menikmati makanannya sambil sesekali melirik ke arah kami. Sepertinya aku menduga, ia berkata dalam hati, "parah, gue dibully,"
Setelah selesai makan, kita minum dulu dong, baru bayar. Harga seporsi soto dan es teh hanya Rp. 10.000, lumayan menguras keuangan. Haha, maklumlah mahasiswa pengangguran.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN di Desa Rejasari
No FicciónKota Banjar, Kecamatan Langensari, di Desa Rejasari tepatnya, kami mengukir cerita bersama. Sebelum menyelam ke dalam isi diary KKN ini, penulis akan memperkenalkan tokoh nyata dalam cerita KKN kelompok 327 yang berjumlah 14 orang.... 1. Feri Sandri...
