Aku membuka mata dan berdo'a. Karena di kamar tidak ada jam dinding, aku meraih handphone untuk mengecek jam. Innalillahi pukul 06 Pagi. Aku memang sedang tidak sholat, tetapi tanggung jawabku terhadap yang lain-lain juga penting.
Aku langsung mengambil handphone dan membuka blog karena ada yang perlu diedit. Hanya beberapa saja, tidak semua. Hanya diary tanggal 1, 2, dan 3 saja. Setelah beres, aku keluar kamar untuk bersih-bersih diri di kamar mandi, kemudian dilanjut mencuci dan langsung menjemur.
Setelah menjemur, kuambil laptop di kamar tengah. Aku melanjutkan untuk menulis blog sampai pukul 10:00 WIB. Aku langsung shut down laptop dan merapikan barang-barang untuk kembali lagi ke Sampih. Saat beres-beres, aku merasakan lapar yang luar biasa. Akhirnya, aku ke dapur dan melihat ada ayam goreng, sayur sawi, tempe, dan getuk.
Habis makan, nenek mencarikan orang yang mau mengantarku ke Gang Cikotok. Saat aku berjalan ke depan rumah, bapak yang akan mengantarku wajahnya terlihat bad mood. Kukira nenekku belum menemukannya, makanya aku dandannya lama. I am sorry, Master.
Saat akan berangkat, nenek memberiku uang saku sebanyak Rp. 4 Milyar alias Rp. 40.000 dan beras 5 Liter, kemudian aku pamit sama nenek dan Pak Dakir. Mereka mendo'akanku agar sukses. Aamiin. Aku langsung duduk di atas motor. Bahaya kalau berdiri, apalagi tiduran. Sepanjang perjalanan, aku dan bapak ojek saling diam. Tak ada sepatah kata pun keluar. Hingga akhirnya beliau mengalah untuk memulai pembicaraan.
Sesampainya di Gang Cikotok, aku minta diseberangkan ke jalan raya. Aku memberikan tip Rp. 10.000. Tip ya? Bukan tipi, aku ngga punya tipi di kost. Kalau di rumah mah banyak. Bapak tadi menemaniku menunggu angkutan umum. Lama sekali, udah lama, jumlahnya sedikit. Bisa-bisa kita jenggotan nih, Pak!
Kurang lebih 45 menit, aku menunggu angkutan menuju Terminal Kota Banjar. Alhamdulillah datang. Aku pamit kepada bapak yang mengantarku tersebut dan langsung naik angkutan umum dengan hati-hati khawatir ada emas dan permata jatuh, eh maksudnya terbentur pintu angkutan seperti yang sudah-sudah.
Aku masih kurang sehat. Sehingga selama perjalanan, aku batuk-batuk terus. Entahlah para penumpang dan pak sopir terganggu atau tidak, yang jelas aku tak mampu menahan rasa gatal di tenggorokanku yang malang ini.
Aku merasa malu dengan diriku sendiri. Kalian tahu? Di Banjar, sekaya-kayanya manusia, mereka ngga ada yang berkecimpung penuh dalam dunia maya. Tak kulihat satu pun penumpang yang sibuk mengotak-atik handphone. Aku tahu, mereka memiliki handphone. Namun, dunia mereka yang sebenarnya bukan di dunia maya, melainkan di dunia nyata. Aku salut dengan mereka, sehingga aku ingin budaya di sini menular hingga perkotaan Jakarta, bukan malah sebaliknya. Walau pun ada keperluan di dunia maya, mereka hanya membalas sekedarnya saja. Mereka lebih senang berinteraksi di dunia nyata. Saling tegur sapa, menyebarkan salam, dan mengajak bicara walau pun baru pertama kali bertemu dan belum mengenal satu sama lain. Masyaa Allah...
Kurang lebih 45 menit, angkutan telah sampai di Terminal Kota Banjar. Alhamdulillah langsung mendapat angkutan ke Langensari sehingga beras yang kubawa tidak terlalu menyusahkan. Di dalam angkutan, aku memilih untuk duduk di bangku paling pojok sederetan dengan pintu angkutan. Aku masih batuk-batuk, khawatir mengganggu penumpang lainnya. Ada tiga penumpang yang naik. Aku, seorang bapak tua yang duduk di seberangku dan seorang ibu yang duduk sejajar denganku di samping pintu masuk angkutan.
Angkutan pun melaju membawa kami ke Kecamatan Langensari, aku termenung memandangi keindahan karya Sang Maha Pencipta. Kulantunkan dzikir berkali-kali meski hati dan imanku sedang di titik nadir. Karena ada sebuah ungkapan bijak, Teringat apa yang dipesan oleh Imam Ghazali ketika muridnya bertanya,
"Tuan, bagaimana keadaanku ketika mulutku berdzikir tetapi hatiku masih lalai?"
Lalu Imam yang arif dalam soal keajaiban hati itu pun berkata, "Teruskanlah berdzikir walau hatimu lalai karena sekurang-kurangnya lidahmu akan terselamat daripada berkata-kata yang kotor dan sia-sia."
Seiring waktu berjalan, angkutan terus melaju membawaku kepada tujuan. Perjalanan panjang ini mengingatkanku pada seseorang, ya dia adalah cintaku. Lelaki yang telah menemui ayahku pada tanggal 1 Dzulqa'dah 1437 H dan aku sangat mencintainya. Ingin rasanya kumenangis mengingat dirinya, namun aku harus bersabar menanti hari itu tiba.
Aku masih batuk-batuk. Angkutan berhenti karena ada yang menumpang, tiga orang yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak yang hyperactive. Jalan sana jalan sini, ngomong ini ngomong itu, orang tuanya sangat sabar menghadapinya. Apalagi saat sang ibu mengeluarkan sekitar lima bungkus jajanan berwarna kuning panjang, sebut saja richeese nabati. Tak terasa air ini ingin meleleh keluar. Dalam hati kuberkata, "Bagi satu dong,"
Kendaraan masih melaju seperti biasa, semilir angin membawaku pada ketenangan tak terkira. Entah dengan apa lagi aku berterima kasih kepada Sang Pencipta. Di sela-sela lamunanku, angkutan berhenti karena ada yang akan turun. Aku menengok ke arah sang anak hyperactive itu. Ia memandang keluar.
Setelah penumpang yang turun tersebut membayar ongkos, angkutan melaju kembali. Sang anak yang tak bisa diam itu berlari menuju pintu angkutan. Sang ibu pun kaget, ditariklah si anak yang akan melakukan percobaan 'bunuh diri' itu. Aku jadi ingin tertawa, kualihkan pandangan keluar jendela sambil menutupkan mulutku dengan kerudung berwarna hitam yang kupakai. Aku tertawa dengan sedikit ditahan, khawatir ada yang berfikir aneh tentangku. Si bapaknya malah santai saja, ia bersandar di belakang bangku supir tanpa ada rasa panik sedikitpun. Dalam hati aku pun berkata, "Keluarga macam apa ini?"
Saat si anak mulai diam 'kelelahan sepertinya' si bapak berkata, "Iki rantene pegat."
Maksudnya rantainya putus, tapi kenapa harus menggunakan kata 'pegat' harusnya kan 'pedot', memangnya hubungan perkawinan segala ngomong 'pegat'. Jadi si bapak bilang seperti itu karena anaknya memakai celana yang ada rantainya. Aku yang sudah melupakan kejadian awal, malah dibuat tertawa lagi. Kuulangi cara tertawaku seperti tadi dengan menutup mulut menggunakan kerudung.
Aku jadi teringat, saat mamahku membelikan pakaian baru untuk adikku pada bulan Ramadhan 'entah tahun berapa hijriyah', mamahku melihat-lihat pakaian yang sekiranya cocok untuk adikku. Saat memilih celana jeans, adikku menolak karena ada rantai di sakunya.
"Adek mau celana ini?" Tawar mamahku.
"Ngga mau ah, kayak preman," Tolak adikku.
Duh Gusti, tiba-tiba rindu keluarga.
Tak terasa sudah sampai Desa Rejasari, aku turun di sawah Dusun Sampih. Aku membayar ongkos angkutan dan menyeberang jalan. Tidak sulit, karena jarang ada kendaraan melintas. Saat menyeberang, aku bertemu seorang nenek tak kukenal namanya menyapaku, "Lain kali bawa motor. Hehe."
"Nggeh, Mbah." Aku menimpali dengan tersenyum.
Ketika berjalan di jalan sawah yang telah di aspal, semilir anginnya menyejukkan, pemandangannya sangat indah. Aku merasa seperti di Syurga sebelum Syurga. Masyaa Alloh. Aku mau bilang apa lagi kalau sudah melihat Mahakarya Alloh?
Cuaca panas pun tak terasa, namun lelahnya membawa beras 5 Kg sangat terasa. Aku terus berjalan sampai akhirnya aku menuju ke posko lewat pintu samping rumah Pak Nanang, kulihat Gita sedang membuat air berwarna yang dimasukan ke dalam plastik untuk giasan pohon memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus mendatang.
Aku tak langsung ke posko, aku membantu Gita memasukkan air berwarna merah dan hijau ke dalam plastik. Bu Kusniah sewot sama anak-anaknya hanya karena warnanya terlalu tua. Aku jadi ketakutan waktu itu. Namun apa daya, aku sudah terlanjur asyik dengan kegiatan ini.
Setelah banyak plastik berisi air berwarna, aku, Gita, Bu Kusniah, dan Yasir memasang plastik-plastik tersebut ke ranting pohon jambu biji yang telah digugurkan daun dan buahnya. Setelah selesai, Pak Nanang menggali tanah untuk memasang pohon air tersebut. TADA! Jadilah kue basah. Lah! -_-
Usai berlelah-lelah memasang pohon air, aku, Gita, dan Bu Kus mengambil jambu air putih di belakang rumah Pak Nanang untuk membuat rujak. Karena gula merahnya kurang, aku dan Gita membeli gula ke Dusun Bojongkantor karena yang di Dusun Sampih tutup warungnya. Setelah membeli gula, kami membeli gorengan. Lumayan lama karena harus digoreng terlebih dahulu.
20 Tahun Kemudian... eh 20 menit kemudian, gorengan sudah siap saji. Aku membayar harganya kemudian kami kembali ke rumah untuk membuat rujak. Tetapi Gita malah mengajakku ke rumah Bu Hurnia untuk membeli jeruk nipis untuk obat batukku. Saat bertemu Bu Hurnia, beliau bilang ambil saja, tidak usah beli.
Oke, setelah mendapatkan yang didapatkan, aku menuju ruang belakang rumah Pak Nanang untuk merujak. Bu Kus ngga ada di sana. Akhirnya aku dan Gita yang membuat rujak. Aku memotong jambu dan mangga, Gita yang mengulek sambalnya. Saat dicoba, Slurp! Mantap!
Setelah makan rujak, Bu Kus menawariku makan dengan labu siam, akwalnya aku menolak namun beliau sedikit memaksa dan akhirnya aku mengalah walaupun sebenarnya ini yang kuinginkan. Makan!
Sehabis makan, aku pamit sama Bu Kus untuk masuk ke posko karena Kang Dede, Ulfah, dan Yana sudah bolak-balik ke sumur melihatku. Aku jadi ngga enak kalau sampai mereka membicarakan dan bertanya-tanya mengapa aku belum kembali juga.
Aku masuk ke posko, aku hanya melihat Fitri dan Reka sedang tiduran di ruang tengah. Sungguh pemandangan yang tidak enak dilihat namun apa daya suara terbanyak selalu dimenangkan oleh mereka. Aku hanya bertanya yang lainnya kemana. Sudah cukup, hanya itu. Mereka menjawab sedang mengajar di sekolah.
Aku langsung menuju ke kamar tengah, kamarku tercinta untuk mengambil baju bersih untuk kupakai setelah mandi dan baju kotor yang akan kucuci. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan mencuci, kemudian menjemur pakaian di ruang belakang rumah Pak Nanang.
Semua sudah selesai, aku melanjutkan tugas bahasa arabku. Belum selesai, Gita mencariku. Ia mengajak nanti malam ke Alun-Alun Langensari naik motor bertiga sama Dila, kakaknya Gita. Usai sholat maghrib kita berangkat.
Aku, Gita, dan Dila naik motor bertiga menuju Alun-Alun Langensari. Namun sebelumnya kami ke silaturahim rumah Mbahnya Gita dan Dila. Di perjalanan banyak patung-patung yang dibuat dari jerami yang dipakaikan pakaian layaknya manusia. Aku hampir tidak bisa membedakan mana patung mana manusia pada malam itu. Namun, sungguh aku sangat bahagia meskipun saat itu merasa liar dan bebas.
Setelah pamit kepada si Mbah, kami menuju Alun-Alun Langensari. Awalnya kami foto-foto di fly over, kemudian turun ke lapangan untuk membeli sosis bakar dan gelang couple. Ih lucunya.
Kemudian kami pulang karena malam semakin larut. Walau pun di Kecamatan Langensari sudah terbukti tidak rawan, tidak ada begal, penjahat, garong, atau kucing garong, bagaimana pun juga kami harus tetap pulang.
Aku turun di depan rumah Pak Nanang. Di depan posko ada Gina dan Asiyah, aku ikut duduk bersama mereka. Bercerita apa saja yang penting mampu menghibur mereka hingga saat Fey datang, ia bertanya mengenai Sarif yang selalu menyendiri. Aku heran, mengapa harus bertanya kepadaku. Mungkin karena aku sering mengobrol dan tilawah bersamanya sehingga mereka mengira aku mengetahui tentang Sarif.
Aku jawab seadanya, khawatir menjadi fitnah yang tidak sesuai dengan keadaan Sarif yang sebenarnya. Aku dan Sarif itu sama saja, kita sama-sama senang menyendiri dan menghindari keramaian atau perhatian orang banyak. Namun bedanya, aku selalu menyendiri karena aku harus mengerjakan tugas-tugas onlineku yang bejibun banyaknya. Kalau aku ngga ada tugas online, aku pasti akan sering berkumpul bersama mereka.
Saat waktu semakin larut, aku masuk ke kamar tengah. Kulanjutkan tugas bahasa arab semampuku. Hingga kanntuk menyerang, kututup tugas rumahku dan bersiap untuk tidur. Bismillah...
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN di Desa Rejasari
No FicciónKota Banjar, Kecamatan Langensari, di Desa Rejasari tepatnya, kami mengukir cerita bersama. Sebelum menyelam ke dalam isi diary KKN ini, penulis akan memperkenalkan tokoh nyata dalam cerita KKN kelompok 327 yang berjumlah 14 orang.... 1. Feri Sandri...
