Seperti yang telah direncanakan kemarin, hari ini anak-anak warga Dusun Sampih mengajak kami, para mahasiswa KKN untuk lari pagi bersama. Seusai shalat shubuh, kami bersiap-siap di posko. Belum juga siap, adik-adikku sudah memanggil dari luar posko, “Assalamu’alaykum... Kakaaaaak! Lari pagi yuuuuuk!” Panggil mereka dari luar posko seirama seperti paduan suara pada upacara tujuh belas agustusan.
Aku yang masih di kamar tengah beranjak keluar. Saat itu, aku mengenakan kaos panjang berwarna merah, rok hitam, dan kerudung merah. Sepertinya hanya aku dan Asiyah yang lari pagi dengan rok. Hati-hati keserimped! Ngga apa-apa sih, biar ada yang nolongin. Haha.
Tujuan pelarian kami adalah jalan samping sungai pembatas antara Dusun Sampih dengan Bojongkantor. Di jalan itulah, kami melukis kenangan dengan para adik-adik kami, lari pagi dan bercanda bersama. Oh ya, diriku hampir lupa bahwa hari ini ada janji dengan mamahnya Syifa untuk membantunya berjualan baju di pasar. Okay! Aku harus mengajak teman ke sana. Akhirnya kuajak Sarif. Karena saat itu, posisi lariku dekat dengannya. “Sarif, hari ada kegiatan ngga?”
“Ngga sih, paling beres-beres aja,”
Aku pikir dia mau beres-beres minggat dari posko KKN karena ngga betah di sini. Ternyata beres-beres posko. Sing rajin lah, biar calon istrinya beruntung memiliki suami sepertimu.
“Aku disuruh ibunya Syifa untuk menjaga toko di Pasar Langkap. Mau ikut ngga?”
“Oh, yaudah atuh,”
“Nanti berangkat jam setengah delapan,”
“Iya,”
Kemudian, aku berlari menyusul Arif yang sudah sampai di perempatan Pasar Langkap. Arif dan satu laki-laki belum diketahui identitasnya berlari mengelilingi Pasar Langkap. Aku mengikuti mereka. Astaghfirullah... melelahkan sekali. Aku rasa Arif ingin berhenti, tetapi dia gengsi. Sudahlah paksa... paksa... siapa tahu ada doorprize menanti di depan.
Selesai lari pagi, aku ganti baju untuk kemudian mengunjungi posko laki-laki menjemput Sarif dan langsung ke rumah mamahnya Syifa untuk berangkat ke Pasar bersama. Selain berjualan baju, mamah Syifa juga berjualan es kelapa. Makanya dari rumah membawa kelapa, gelas, air gula, dan lain sebagainya.
Kami berangkat pukul 08 lewat menuju pasar Langkap. Huh! Kukira seperti di Ramayana, SGC, atau pasar Ujung Berung. Ternyata tidak. Kelihatannya sepi dan belum apa-apa, aku sudah merasa bosan. Karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Pokoknya mah bedalah sama pasar-pasar lainnya. Kami hanya disuruh duduk saja, menunggu pelanggan yang akan mengunjungi toko atau membeli es kelapa mamahnya Syifa.
Di sela-sela menjaga toko, aku dan Sarif keliling pasar Langkap. Aku minta antar ke konter untuk membeli pulsa. Seusai itu, kami makan di suatu tempat di pasar karena saat akan berangkat ke pasar, kami belum sarapan. Akhirnya aku mengajak Sarif untuk makan kupat tahu dan ia yang membayarkanku. Aku ngga minta dibayarin ya? Tapi dia yang ingin membayarkan.
Setelah makan, aku membuka facebook. Ada postingan Putri mengenai ingin makan kupat tahu. Wah pas banget. Aku habis makan kupat tahu. Entah kebetulan atau memang ini jalannya. Sudahlah tak usah dipermasalahkan. Kami langsung menuju toko mamah Syifa. kemudian, mengobrol sebentar. Sarif langsung mengajakku untuk Sholat Dhuha. Aku pun izin ke mamah Syifa dan beliau mengizinkannya. Kami berdua pun ke masjid dekat kampung KB.
Seusai sholat, kami ke toko mamah Syifa lagi. Mengobrol bertiga di dalam toko, aku, Sarif, dan mamahnya Syifa. Ada sedikit salah paham di sini. Masa mamahnya Syifa bilang kalau Sarif calon suami aku. Haha kami berdua langsung tertawa. Aku bingung mau jawab apa.
Waktu pun menunjukkan pukul 12 lewat, kami izin pulang dan mamah Syifa mengizinkannya. Karena belum shalat dzuhur, kami pun mencari masjid di tepi jalan untuk menunaikan kewajiban shalat.
Sepulangnya, kami ke rumah keluarga Syifa untuk mengembalikan motor dan aku mengobrol dengan kakaknya Syifa. Aku sebenarnya lelah dan mengantuk. Tetapi ingin mengobrol sebentar. Sarif izin pulang, entah ke posko laki-laki atau perempuan. Yang jelas aku masih di rumah Syifa.
“Itu di bangku buku siapa?” Ujar kakak Syifa sambil menunjuk ke arah bangku teras.
Aku menengok ke arah bangku di depan teras rumah Syifa, Buku Diaryku. “Oh iya itu bukuku, Teh. Ya Alloh kelupaan ngga dibawa,”
“Iya tadi ngeliat, ini teh bukunya siapa,”
“Jangan diliat isinya teh, malu.”
“Ngga kok. Cuma liat sampulnya aja,”
Ah! Akhirnya....
Aku pamit pulang, namun lewat jalan lain. Aku melewati jalan yang menembus ke mushola al-Hidayah. Berharap di sana ada adik-adikku yang ingin belajar bersamaku. Ternyata di mushola ada Sarif sedamg tiduran. Yaelah dia lagi dia lagi. Bosen aku! Haha bercanda, Rif.
Habis itu, aku bertemu Gita, salah satu adikku di tempat KKN. Aku jalan-jalan dengannya naik sepeda. Awalnya kami hanya ingin keliling dan foto-foto di sawah. Tapi ternyata, dia malah mengajakku ke Alun-Alun Langensari. Yasudah akhirnya kami pulang lagi karena Salsa, adik tirinya Gita ingin tidur. Kami ke Alun-Alun berdua. Gita bawa sekantong plastik makanan. Haduh serasa piknik aja.
Setelah memberikan PR matematika kepada adik-adikku di mushola, aku berangkat ke alun-alun bersama Gita dengan menggunakan sepeda masing-masing, kalau aku pakai sepeda pinjaman. Sssttt! Minjem...
Perjalanan ke sana ternyata tidak memerlukan banyak waktu. Walaupun aku selalu mengalami kendala, rok tersangkut di gigi roda dan Gita ditabrak sepeda anak laki-laki, namun kami akhirnya sampai juga di tempat. Hanya butuh sekitar 30 menit saja. Di sana kami makan, mengobrol, dan foto-foto bareng. Pokoknya have fun lah... tak terasa, adzan ashar berkumandang.
Kami menuju masjid Pusat Dakwah Islam yang dekat dengan alun-alun. Selesai sholat kami ke alun-alun lagi untuk mengambil sepeda. Pulangnya kami lewat jalan fly over. Innalillahi, sepedanya ngga kuat nanjak. Akhirnya kami berdua menuntun sepeda sampai puncak. Ya Allah, geli pisan tawanya melihat Gita naik turun sepeda karena takut jalan di fly over. Baiklah, tantangan fly over selesai. Kami sudah di jalan normal. Lagi-lagi kendalanya, rokku tersangkut gigi roda. Aku pun menduduki rokku agar tidak tersangkut lagi.
Sesampainya di sawah Dusun Sampih, kami berhenti sejenak untuk berfoto lagi. Ini Gita yang pengen ya, bukan aku. Walau pun aku juga pengen. Hehe. Tak terasa senja mulai nampak. Sudah berapa juta foto yang tercetak di kamera. Entahlah. Hanya kami dan Alloh yang tahu.
Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing. Aku sih ke posko. Setelah itu, aku mandi dan bersiap-siap sholat maghrib karena adzan akan berkumandang. Di ruang tengah, Fey menginterogasiku, karena seharian ini aku tidak ada di posko. Aku jawabnya bingung, entahlah. Aku langsung lari aja ke masjid.
Seusai sholat dan mengaji bersama, aku ke teras depan. Para ibu dan bapak jama’ah sedang mengobrol. Aku ikut nimbrung aja, saat itulah banyak yang menanyakan segalanya tentang aku. Ea, serasa artis baru nih.
Adzan Isya berkumandang, kami semua sholat berjama’ah. Setelah itu, aku duduk di masjid sejenak karena lelah yang tak tertahankan. Di balik hijab masjid, kudengar suara merdu Sarif yang sedang membaca al-Qur’an. Sedikit tenang hati ini. Tapi kutak bisa lama-lama di sini. Khawatir terjadi fitnah. Karena di masjid hanya ada aku dan Sarif di balik hijab sana. Aku pun langsung ke posko lagi, teringat tugasku yang belum selesai. Kubuka WhatsAppku.
Saat akan memulai mengerjakan tugas, tugasku sudah tak diterima lagi oleh pembimbing karena waktu telah menunjukkan pukul 7 lewat. Satu lagi yang menyedihkan adalah aku di DO dari kelas Tamyiz. Ya Allah galau! Padahal aku berusaha mempertahankan kelas ini sampai akhir. Tetapi takdir berkata lain. Ingin rasanya menangis, tapi apa yang harus kutangisi, ini salahku yang menunda tugas satu pekan belum dikerjakan dan lupa laporan. Setidaknya masih ada tiga kelas lagi yang harus kupertahankan selama KKN ini. Bismillah...
Di tengah kegalauanku, aku juga diamanahkan untuk membuat postingan blog KKN. Apa ngga mumet coba? Tapi pesan ummiku, “Kerjakanlah sesuatu dengan senang hati, agar tidak mudah lelah,” tapi aku akui memang benar. Karena segala sesuatu yang dikerjakan secara terpaksa memang hasilnya tidak akan baik, malah akan menambah lelah serta kesia-siaan.
Di sela-sela mengerjakan tugas blog, Sarif datang dan duduk di sampingku. Ia bilang tertidur di masjid. Kulihat jam di laptopku menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. ia juga bilang pusing habis tidur. Aku dan Asiyah memang dari tadi sempat mengobrol dan bercanda, namun Sarif tidak tertawa, Jangan-jangan.... dia pusing beneran. Haha.
Saat waktu menunjukkan pukul sepuluh, Sarif dan Yana pulang ke posko laki-laki. Tapi Yana malah ikut bakar ikan di samping posko dengan para bapak warga Dusun Sampih. Aku ditawari untuk makan ikan, tetapi aku malu karena di sana banyak laki-lakinya. Akhirnya, aku memilih untuk tidur dan makan ikan besok pagi. Alhamdulillah, hari ini berjalan lancar dan masih diberi kesehatan oleh Alloh. Tak lupa bersyukur atas kebahagiaan yang Alloh berikan ke aku hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN di Desa Rejasari
No FicciónKota Banjar, Kecamatan Langensari, di Desa Rejasari tepatnya, kami mengukir cerita bersama. Sebelum menyelam ke dalam isi diary KKN ini, penulis akan memperkenalkan tokoh nyata dalam cerita KKN kelompok 327 yang berjumlah 14 orang.... 1. Feri Sandri...
