Hari ini adalah hari kemerdekaan Indonesia, katanya. Aku pun bertanya, apakah Indonesia sudah merdeka? Padahal kita masih dijajah. Ya, dijajah! Dijajah oleh bangsa sendiri. Bagaimana mungkin bangsa ini bisa merdeka, jika bangsanya sendiri belum merdeka!
Merdeka yang sesungguhnya adalah ketika bangsa ini bersatu, ketika tiap-tiap individu mempunyai kekuatan mutlak untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Kemerdekaan seharusnya dapat menuntun kita untuk bisa menjadi manusia yang bertanggung jawab atas segala yang kita lakukan.
Kemerdekaan yang hakiki itu pada dasarnya muncul dari dalam hati, ketika kita merasa tenang dan lepas dari rasa takut akan sesuatu, lepas dalam berbicara dengan sopan, santai dalam bertindak dalam kebenaran, rileks dalam ketenangan perbuatan baik, bersabar untuk berfikir positif, tenang dalam menghadapi persoalan.
Itulah tanda kemerdekaan yang sesungguhnya!
Kemerdekaan bukan di luar sana, bukan di dompet kita, bukan di senyum orang penting, bukan lolos dari hukum, bukan dusta yang terlupa, bukan kabur tanpa tertangkap, atau bukan seolah hilang tanpa makna.
Kemerdekaan itu di sini, di hati!
Dan bagiku merdeka itu adalah sebuah singkatan. Merdeka, “Meried Dengan Kamu”. Iya kamu! Kamu yang nengok ke belakang. Huh, dasar!
Sini maju ke depan...
Oh ya aku lupa, pada tanggal 17 Agustus ini diadakan upacara bendera di Alun-Alun Kecamatan Langensari dan untuk seluruh warga Langensari yang mampu menghadiri upacara diharapkan untuk hadir, yang tidak bisa tidak usah hadir. Cukup payungi para peserta yang hadir. “Yeuh, sama bae suruh hadir!”
Oke, pagi ini sebelum berangkat ke alun-alun, aku sukses lapar. Aku bingung mau makan apa, rasanya ingin main ke rumah Mbah Zaenab. Ah, untuk apa merepotkan orang lain. Aha! Di dapur ada telur, aku goreng ah. Saat aku memasak telur, Sarif ke dapur. Mondar-mandir, ngga tau nyariin apa. Kalau mau minta dimasakin, ngomong atuh. Jangan mondar-mandir terus. Huft! Pusing pala, Nyai.
Alhamdulillah, akhirnya bisa sarapan juga. Walaupun hanya sebutir telur dadar dan ribuan butir nasi. Aku bersujud syukur dalam hati, kalau dipraktekkan nanti dibilang orang aneh. Haha. Enak, jadi rindu masakan mamah. Ah, jadi terhura kan!
Orang tua Gina, teman KKNku datang berkunjung. Banyak sekali makanan yang dibawa. Yaa Allah, nikmat yang tak terduga. Waktu telah menunjukkan pukul 07 lewat, ayah Gina mengantar kami ke alun-alun Langensari. Hanya Gina yang tidak ikut upacara karena menemani ibunya di posko. Aku duduk di bangku paling belakang bersama Sarif dan Feri.
Sesampainya di alun-alun Langensari, aku dan para peserta KKN lainnya dari berbagai desa berkumpul di lapangan menunggu intruksi dari petugas upacara. Cuaca cukup panas sehingga aku rela menyeret sebagian uangku untuk membeli air mineral. Di saat yang sama, aku bertemu dengan Firda, mahasiswi jurusan jurnalistik yang kutemui sekitar satu tahun yang lalu di Prana University. Dia memelukku, erat sekali. Uh! Sesak nafas. Yaa Alloh, tolong lepaskan aku dari cengkeramannya.
Waktu telah menunjukkan pukul 07:50 WIB, upacara belum juga dimulai. Petugas pengibar benderanya pada kebelet apa ya? Huft! Kepanasan nih. Di ujung sana, dekat pohon berbentuk kerucut, ada seorang kakek gagah membawa radio yang dikalungkan di leher. Beliau sedang berdiri sambil merokok dengan gaya coolnya. Aku tertarik. Aku meminta tolong kepada Sarif untuk memotret kami berdua lewat handphoneku.
CEKREK! 4 foto sudah terambil. Kemudian giliran aku foto berdua dengan Sarif. Eh si Fikri malah ikut kefoto, dia di belakang kami. Tampangnya kayak lagi nahan mules. Hahaha! Peace, Fik!
Tak lama kemudian, ada pemberitahuan bahwa upacara akan dimulai. Namun, tak ada tempat untuk mahasiswa KKN. Hingga akhirnya kami terdampar tak karuan. Tidak tahu harus kemana dan berbuat apa. Saat akan mencari barisan yang teduh, ada seorang laki-laki tanpa identitas dengan postur tubuh tidak kurus –ya begitulah untuk menyenangkan hatinya. Ia meminta air minum yang kupegang. Aku pun memberikannya, kasihan sekali dirinya yang kehausan. Cup... cup... cup...
“Makasih ya?” Ucapnya.
“Iya, sama-sama,”
Ia tersenyum kepadaku.
Aku balas senyumannya. Sekilas wajahnya mirip Rizal. Yaa Alloh, aku rindu dia. Setahuku dia KKN di Ngamprah, Bandung. Semoga dia betah di sana. Ngga nyusahin orang yang lagi sedih. Pan, dia mah lucu orangnya. Hahaha!
Kemudian, laki-laki tanpa identitas yang meminta air minumku berlalu dari hadapanku untuk bergabung dengan komplotan KKNnya. Aku memandang kepergiannya. Lama, namun merasa ada yang aneh.
Fikri dan Uni mengajakku menonton pengibaran bendera di dekat tempat duduk bertenda khusus tamu VIP. Pasukan pengibarnya lumayan kompak, barisannya teratur dan tertib. Aku jadi teringat tetangga PMR SMK Negeri 1 Cikarang Barat. Siapa coba? Ya! Paskibra Brigaspad namanya. Ruang PMR dan Paskibra saling membelakangi. Namun, ada sebuah sekat dari papan yang menjadi salah satu keisengan anggota PMR dan Paskibra untuk memukul-mukul sekat tersebut saat ingin berinteraksi atau sekedar mengajak bercanda.
Apalagi sama Eka, sahabatku, teman sekelasku. Setiap dia kumpulan di ruang Paskibra dan aku kumpulan di ruang PMR, dia selalu dibercandain sama aku dan anak-anak PMR lainnya. Bukan hanya dia, Jonter juga, Sopian juga. Lucu deh!
Yang paling berkesan untukku, saat aku berinteraksi dengan Wahyu lewat sekat pembatas tersebut. Lucu rasanya, masih keingetan masa-masa manja dan sering pulang berdua sama dia.
Eh tunggu, kok jadi ngomongin mereka sih! Haha... tidak apa-apa. Nostalgila dulu. Tapi sebentar.
Setelah melihat pasukan bendera mengibarkan bendera sampai ujung tiang. Aku yang sejak tadi merekam, kemudian menghentikan rekaman saat petugas upacara berkata dengan rantang, eh lantang. “SIAAAAAAAAAAP, GRAK!
Kemudian, Uni mengajakku membeli es krim bersama Fikri dan Dian. Aku ikut saja. Setelah terbeli, kami duduk di warung –aku lupa jualan apa, intinya warung. Di warung ini, kami menikmati es krim. Tak lama kemudian, Arif dan Feri datang. mereka memesan makanan di warung yang kami singgahi.
Cuaca semakin panas, tak terasa siang telah menunjukkan dirinya. Asiyah pun sudah tidak sabaran untuk pulang, sepertinya ia mulai bete. Ia memaksa Rusmi untuk mengantarnya pulang ke posko. Akhirnya, ia pulang duluan. Kami yang masih di alun-alun bergegas untuk menuju ke pintu keluar karena ayahnya Gina akan menjemput kami. Merepotkan sih iya, tetapi beliau yang mau. Baiklah, kami turuti.
Tak lama kemudian, mobil ayah Gina sampai di lokasi. Tinggal Dian yang tertinggal di alun-alun. Namun, ia meminta kami untuk pulang duluan. Baiklah, kami turuti. Aku masih duduk di tempat yang sama.
Hanya Dian dan Asiyah yang tidak ada di mobil, sehingga tempat duduk terasa lebih luas. Senangnya, eh tapi aku jadi rindu naik mobil bareng bapak. Huhu! Rindu bapak jugaaaaaa.
Sesampainya di posko, aku duduk di ruang tengah. Hari ini, kami kebanjiran rezeki. Orang tuanya Gina membawa banyak makanan dan memasak beraneka ragam makanan. Alhamdulillah, jadi seneng. Haha. Aku mengambil bolu yang sudah dipotong, rasanya enak. Aku ketagihan. Namun, tak kulanjutkan karena mengantuk.
Aku menuju kamar untuk tidur siang dan terbangun pukul 12:45 WIB. Saat keluar kamar, ada pemandangan tak enak dilihat antara Arif dan Dede. Entah apa itu, yang pasti aku yang seharusnya ikut tertawa malah merasa malas untuk ikut tertawa. Aku bergegas menuju kamar mandi, sekalian berwudhu untuk menunaikan shalat dzuhur.
Selepas shalat, aku duduk di ruang tengah. Melanjutkan makanan yang belum habis. Bilang aja laper. Emang iya sih. Hehe. Saat aku menyantap bolu yang manis ini, Reka yang sedang tiduran di dekat jendela berkata kepadaku, “Ridha, aya kuota teu?”
“Aya, kangge naon?”
“Pinjem hotspot dongs,”
“Oke. Sok nyalain WiFina,”
Aku melanjutkan santapanku yang sempat tertunda. Setelah bolu hampir habis, aku masih merasakan hal seperti biasa. Kepala gatal, ini ketularan salah satu orang yang tidur denganku. Kurang asem emang. Huft!
Akhirnya, aku melangkah keluar posko dan mematikan hotspot. Jahil dikit teu nanaon kan? Hehe. Aku ke rumah Mbah Zaenab yang sedang duduk di teras rumahnya sambil mengerik daun kelapa dengan pisau kecil untuk dijadikan sapu lidi. Aku duduk di sampingnya, meminjam serit si Mbah.
Gila! Aku bersekutu. Eh maksudku, rambutku ada kutunya. Ada rasa jengkel juga, karena mengganggu aktivitas dan sangat memalukan jika garuk-garuk kepala di saat yang tidak tepat. Aku sungguh tak menyukai hal ini, karena mengurangi etika dan adab sopan santun. Sebenarnya aku malu.
Setelah si Mbah selesai menyiangi daun kelapa, sapu lidi pun jadi. Beliau mengajakku ke dalam rumahnya. Oemji, aku mau diapain? Hehe, aku ditawarin makanan. Seperti biasa, aku dan si Mbah mengobrol banyak hal di dapur. Salut! Setiap perkataanya sangat menyentuh hati. Namun, dia sering mengulang-ulang pembicaraan tersebut. Tak apalah, setidaknya agar aku tidak mudah melupakannya.
Adzan ashar berkumandang, aku dan si Mbah bergegas ke Langgar untuk menunaikan shalat berjama’ah. Selepas shalat, Mbah masih dzikir sehingga aku harus ke posko duluan untuk makan rujak di ruang depan bersama ibunya Gina.
Di sana, ada Dila dan Dian. Dila bawa jeruk, nawarin ke aku. Aku kok agak sebel ya, Dila minta dibuatkan tugas powerpoint ke Dian. Sampai pas Dila nawarin jeruk ke aku, akunya diem aja. sebenernya mau, tapi sebel sama orangnya. Tapi di akhirnya, aku sempat menyesal, kenapa aku harus sebel sama dia? Lagian aku juga yang salah. Orang minta tolong, bukannya ditolong, malah kabur-kaburan. Ya itulah aku, ngga betah dengan suasana posko.
Habis itu, aku dikasih air kelapa sama Asiyah. Kelapa milik Pak Nanang yang diambil oleh ayahnya Gina. Sudah izin tentunya. Masa iya nyolong, wah ngga beres nih. Enak rasanya, walau agak sepet. Iya, kayak janjimu.
Aku ke kamar, kuambil handphone. Ngga ada chat pribadi. Hanya ramai dengan grup. Ah tak mengapa, memangnya apa yang perlu kubicarakan dengan orang lain di kejauhan sana. Yang dekat saja sudah cukup bagiku. Aku langsung menaruh handphone kembali, kemudian mencuci pakaian. Lalu menjemurnya di belakang rumah Pak Nanang. Setelah itu aku mengobrol dengan Gita dan Dila yang kebetulan ada di sana.
Aku mencharger handphoneku. Kemudian sejenak melihat pemberitahuan facebook, karena tak ada yang memberitahuku di dunia nyata. Ali menandaiku pada sebuah postingan pribadi, hanya Allah, malaikat, aku dan dia yang tahu. Aku bahagia sekali. Jadi tambah sayang. #Eh
Waktu semakin senja, sebentar lagi maghrib. Aku dan Asiyah ke Langgar. Kami di Langgar sampai shalat Isya berlangsung. Selepas itu, aku mengambil buku Ilmu Sharaf di rumah Mbah Zaenab, karena tertinggal tadi siang saat aku menyerit kutu di rumahnya. Ah, untung tidak hilang. Lagi pula siapa yang akan mengambil?
Oh ya, saat di Langgar tadi, ada seorang nenek muda yang mengajakku mengikuti kajian di daerah Bojongkantong. Aku tertarik dong. Setelah aku sampai di posko, aku istirahat sebentar di kamar. Eh si Sarif nyariin aku. Ada perlu apa sih?
Tak lama kemudian, ada ibu-ibu menghampiri posko KKN untuk mengajakku ikut pengajian. Fikri dan Uni ikut dengan kami. Tempatnya dekat rumah Rusmi, sehingga kalau tersesat tidak terlalu sulit untuk mencari jalan keluar. Haha, lagian siapa yang mau menyesatkan kami? Mungkin hanya iblis saja yang berani. Itu pun tidak akan terjadi, jika Allah menyelamatkan kami.
Oke, sesampainya di tempat pengajian, kami duduk di teras seorang warga. Acara dimulai pukul 00:00 WIB. JEGER! Bagaikan tersambar petir –lebay sedikit. Kok acaranya dimulai tengah malam? sekarang masih pukul..... pukul kucing yang mencuri ikan. Oke, oke jangan bercanda. Sekarang pukul 20 lewat, alias setengah sembilan. Masih lama, tetapi kami sudah mengantuk. Aku pun bicara kepada Fikri dan Uni untuk pamit pulang kepada ibu-ibu lainnya. Bukan tak betah di pengajian, namun mengingat waktu yang tak menentukan. Apalagi besok kami harus piket, memasak, dan mengajar di sekolah pada pagi hari.
Sesampainya di posko, aku disuruh memasukkan sepeda ke dalam garasi bambu. Saat keluar posko, ternyata sepedanya sudah dimasukan oleh Uni. Di depan garasi ada Pak Nanang dan Salsa, anaknya. Aku mengobrol dengan mereka, terutama tentang keluarga kecil Pak Nanang dan tentang apa saja, tentang banyak hal.
Waktu semakin larut, sudah saatnya aku istirahat. Di ruang depan, ada Sarif sedang tiduran di karpet. Aku duduk di dekatnya sambil melihat-lihat isi buku catatan KKN, entah milik siapa. Sarif mengajakku mengobrol tentang banyak hal, terutama tentang tulisan-tulisanku di blog. Yasudah aku temani dia, tak lama kemudian Asiyah datang membawa bolu. Kami jadi mengobrol bertiga.
Melihat waktu yang semakin larut, Sarif diminta untuk pulang. Bukan aku yang menyuruhnya pulang ke posko laki-laki tetapi Fikri, sebenarnya aku masih betah berlama-lama dengannya. Selama apapun aku mengobrol dengannya, ia tak pernah berani menyentuh bagian tubuhku. Itulah mengapa aku percaya bahwa ia laki-laki yang baik dan tak meragukan bila kuajak berduaan. Eits! Bukan berduaan dalam artian negatif ya? Maksudnya berduaan yang tak disengaja, seperti tilawah di Langgar berdua, menulis blog berdua, bedah buku berdua, dan hal-hal baik lainnya. Ia orang baik, tak mungkin sampai mengajakku berdua dalam kemaksiatan. Kalau pun hampir terjerumus, biasanya salah satu di antara kami yang pergi. Alhamdulillah, selama satu bulan bersamanya, tak pernah sekali pun ia berani melecehkanku atau pun menyentuh bagian tubuhku.
Ini bukan mencari kesempatan dalam kesempitan ya? Sungguh, aku tak pernah mengerti. Antara aku dan Sarif memiliki banyak kesamaan. Tak sengaja bertemu dan memang bertemunya berdua. Tak ada yang lain, itu pun tak disengaja. Kelompok sensus penduduk pun berdua. Ah segalanya serba berdua dengannya. Bukan dengan yang lain, padahal sama saja. Mungkin dia dan aku adalah kembaran yang tertukar. Haha aya-aya wae.
Baiklah! Setelah Sarif pulang, aku makan kacang yang ada di dekatku. Tak ada maksud apa-apa. Hanya lapar. Saat sedang asyik menikmati kacang, ada yang mengetuk pintu posko. Aku langsung loncat, buru-buru ke kamar untuk mengambil kerudung. Aku tahu itu bukan setan iseng, aku tahu itu Yana, Ulfa, dan Reka. Karena mereka habis pergi dari suatu tempat, sepertinya ke Banjar Atas. Melihat tingkahku, Asiyah tertawa, aku juga.
Setelah puas melepas tawa, kami rebahan di kasur tipis dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Tiba-tiba Asiyah memarahiku karena pakaiannya yang sudah dilipat berantakan tersenggol olehku, makanya aku disuruh geser ke tengah tidurnya. Setelah marahnya reda, aku segera berdoa sebelum tidur. Dan tertidurlah aku. Good Night!
KAMU SEDANG MEMBACA
KKN di Desa Rejasari
Non-FictionKota Banjar, Kecamatan Langensari, di Desa Rejasari tepatnya, kami mengukir cerita bersama. Sebelum menyelam ke dalam isi diary KKN ini, penulis akan memperkenalkan tokoh nyata dalam cerita KKN kelompok 327 yang berjumlah 14 orang.... 1. Feri Sandri...
