—Wedding Ruiner—
"Ori." Laki-laki di depanku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya. "Ara," kenalku juga. Bisa kulihat Kak Atha tersenyum.
"Harus banget ya, Tha? Lo ngintilin sampai ke sini." Ori berdecak kesal. Kak Atha tertawa lalu menunjukku. "Ara yang minta, loh. Takut dia sama lo."
Aku memberengut. "Maaf ya, Kak Ori," lirihku. Sambil memilin jemariku sendiri, aku kembali melanjutkan, "aku takut canggung. Jadi, bawa Kak Atha supaya ada senjata cadangan."
Tawa Ori meledak. "Nah, enggak bakalan canggung kok. Apalagi kalau kamu manggilnya Ori aja, enggak usah pakai kakak. Jadi, kayaknya lo, boleh pulang deh, Tha."
Kak Atha menegakkan duduknya. Alih-alih bangkit, dia malah bersedekap dan memasang wajah serius. "Enggak ada, enggak ada. Jadi curiga gue, lo nyuruh gue pulang. Adik gue nih!" Kak Atha meletakkan telapak tangganya di puncak kepalaku, dan menggoyang-goyangkan kepalaku.
Ada sisi hatiku yang menghangat, tetapi ada juga yang merasa pedih. Kak Atha menjagaku, begitu protektifnya, tapi sebagai adik, bukan seperti yang kuinginkan. Ironi ya?
"Posesif ya ini, Kak Athanya?" Ori menatapku. Rupanya itu pertanyaan untukku. "Eh? Gak tau nih, Kak, tumben."
"Kan, kakak lagi. Ori, Ra. Ori," katanya. Aku mengangguk mengiyakan.
Obrolan berlanjut. Kami bertukar cerita tentang aktivitas sehari-hari dan pengalaman. Terkadang Ori dan Kak Atha saling membuka cerita lucu di masa lalu yang hanya bisa kutanggapi dengan tawa. Dari interaksi kami, aku bisa menyimpulkan Ori adalah pria pintar yang juga luwes bergaul.
Tiba-tiba Kak Atha membuka jaket warna hijau botol yang ia kenakan dan mengembangkannya di atas pahaku. Aku sedang mengenakan summer dress kotak-kotak. Bajuku ini, jika aku berdiri, panjangnya sampai tepat di atas lutut. Namun, jika sedang duduk, bajuku akan menjadi tampak lebih pendek. Kondisi kami yang sedang duduk di sofa sebuah kafe yang sedang hits hanya dengan meja petak rendah yang memisahkan aku dan Ori, pasti membuat kakiku dapat diperhatikan lebih mudah.
Aku tersenyum dengan perilaku Kak Atha. Benar sekali, protektif. Padahal menurutku, baju ini tidak terlalu terbuka. Masih batas normal. Aku juga teringat, tadi saat berangkat, aku memilih mencepol rambut cokelatku agar terkesan lebih santai. Namun, sesaat sebelum masuk kafe ini, Kak Atha dengan santainya mencopot ikatannya. Aku terkejut, tetapi Kak Atha bilang, "you look better this way." Aku tergagu.
Padahal, aku tahu jelas alasan Kak Atha melakukan hal itu. Kak Rendi bilang, leher jenjang wanita itu jadi pusat perhatian lelaki dan aku punya leher yang jenjang. Makanya, Kak Rendi selalu memintaku menggerai rambutku setiap aku ketahuan akan pergi ke bar atau music lounge untuk sekedar menikmati live music. Bahkan, terkadang dia menyarankanku untuk mulai memikirkan untuk mengenakan hijab.
"Okay, kalau gitu gue jemput Avantika dulu. Ri, adek gue wajib sampe rumah dengan selamat ya." Atha berpesan saat pamit.
"Iya, lo tenang aja. Oiya, salam buat Avantika ya." Ori bangkit dan bersalaman dengan Atha. Otomatis aku melihat Ori dari samping. Tubuhku menegang. Aku tanda dengan siluet pria ini.
—Wedding Ruiner—
"Yuk, jadi mau nonton?" tanya Ori ketika kami sudah menyelesaikan makan malam.
"Eeh, Ori...," panggilku menggantung.
"Ya?" Ori menatapku. Ori punya tipe mata sendu, tetapi mata yang menarik perhatian. Seakan-akan tatapannya menyedotku ke dalamnya. Iris matanya cokelat gelap, seperti kebanyakan orang Indonesia. Bentuknya downturn atau sedikit turun di ujung luarnya. Itu yang membuatnya selalu terlihat sendu tapi meneduhkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wedding Ruiner
RomansaParticipant of MWM NPC 2020 Dosakah aku mencintaimu ? Peluklah aku, jangan menyerah Mereka bukan hakim kita - Dosakah Aku, Nidji.
