—Wedding Ruiner—
"Mau kemana?" Kak Atha berdesis melihatku susah payah berdiri.
"Enggak kemana-mana. Mau duduk dekat Kakak."
Buru-buru laki-laki itu membimbingku berjalan. Yaelah, Kak. Berasa jompo aku tuh.
Kami berdua duduk di sofa cokelat yang bersandar pada jendela besar. Berada di lantai 18 membuat kami bisa melihat langit luas serta rumah-rumah di bawah sana. Ada juga sorotan lampu mobil yang bergerak cepat. Aku menumpukan lenganku di atas sandaran sofa. Kemudian, kepalaku bertumpu di atas lengan tersebut. Tanganku yang bebas memegang tiang infus. Aku melihat ke arah langit, berharap bisa melihat bintang. Sayang, polusi Jakarta tidak mengizinkan. Aku memberengut sedih.
Kak Atha duduk di sudut sofa. Ia bersandar di sana dengan kaki diluruskan seutuhnya, bertumpu pada sebuah kursi plastik. Sementara, kakiku yang tertekuk lemas di atas sofa mendarat tepat di paha sampingnya. Aku bisa merasakan kak Atha menatapku intens. Tak berkutik, aku mencoba fokus pada langit hitam keabuan tanpa bintang. Kak Atha menyentuh lenganku yang melingkari tiang stainless itu. Ia mencoba melonggarkan peganganku dan menggantikan tiang itu dengan tangannya. Jemari kami bertaut di atas sofa. Ujung jari-jari panjang kak Atha menyentuh kepala infus. Dengan tangannya yang bersisian dengan tubuhku, ia meraih rambut-rambutku yang menutupi wajah, menyugarnya pelan agar tetap berada di atas tak turun lagi ke wajah.
"Ara." Panggilannya terdengar begitu peduli.
Aku bergumam. Masih dengan pipi menempel di lengan, aku mengubah pandanganku mengarah padanya. Kami saling tatap. Ketika getar tubuh itu sudah satu frekuensi, aku bisa merasa detak jantungku memacu. Kak Atha mengeratkan lagi kaitan jemari kami. Dia sentuh lagi pipiku, mengelusnya sekejap.
"Cepat sembuh, please," pintanya. Aku mengiyakan.
"You've no idea how worry I am. Aku sendiri hampir pingsan pas jemput kamu di kantor, Ra. Kamu kelihatan kesakitan banget. Mana pake antuk-antuk kepala lagi. Aku serem, Ra!"
Hah? Tunggu! Jadi, aku tidak berhalusinasi saat melihat Kak Atha menjemputku di kantor? "Kakak yang jemput aku?" Aku tidak bisa menghentikan mulutku bertanya.
Kak Atha terlihat sangat sedih. "Sesakit itu ya, Ra? Sampai enggak ingat?"
Aku mengangguk. "Banget, Kak. Pengen mati aja rasanya. Capek muntah-muntah."
"Ara!" Kak Atha sangat tidak menyukai ucapanku.
"But, I'm better now. Tadi bisa minum aplukat secepat itu udah sesuatu banget, Kak." Aku tersenyum mencoba mengurai keresahannya. Tangan kami masih saling mengisi. Kak Atha seakan tidak mau melepaskanku. Boleh enggak, jangan lepas aku selama-lamanya, Kak?
"Aku enggak mau liat kamu sakit lagi, Ara. Aku sudah lama banget enggak lihat kamu ketawa. Kamu enggak riang lagi kaya dulu."
And there we go. Sebuah percakapan yang aku tahu semua orang berusaha menahannya. Namun, aku juga sudah menyangka bahwa semuanya pasti sudah mendengar tentang kelakuanku sesaat sebelum masuk rumah sakit. Perilaku yang sama sekali tak lazim. Aku pun yakin, Kak Atha sudah mengetahui rinci.
"Like I said before, I don't see the energy anymore. It's like you have this heavy shoulder." Kak Atha menepuk pundakku lagi. Ia masih berlanjut. "I lost you. We lost you. I need you to be happy. You have to be happy, Ara. Please." Kak Atha benar-benar memohon.
Ia kembali membelai pipiku. Selanjutnya, memainkan rambutku. Why you do this, Kak? Aku tahu kak Atha mengkhawatirkanku. Masalahnya, hatiku yang tidak tahu diri akan menganggapnya sebagai sebuah harapan. Harapan yang tidak seharusnya menggantung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wedding Ruiner
RomansaParticipant of MWM NPC 2020 Dosakah aku mencintaimu ? Peluklah aku, jangan menyerah Mereka bukan hakim kita - Dosakah Aku, Nidji.
