—Wedding Ruiner—
Dari kamarku, aku bisa mendengar sayup-sayup pertengkaran Avantika dan kak Atha. Wow. Pertengkaran pertama banget nih? Dari jarak suaranya, aku berasumsi mereka sedang duduk di ruang keluarga yang berada tepat di depan kamarku. Biasanya jika mengobrol dengan volume standar, apalagi dengan adanya TV yang menyala, dibutuhkan konsentrasi dan fokus yang sangat besar untuk mendengar percakapan di luar. Ya, saat ini aku sedang mengeluarkan energi ekstra untuk mendengar percakapan mereka yang sepertinya berisi topik kecemburuan Avantika dan ketidakpekaan kak Atha. Jadi, apakah ini termasuk menguping?
Kurasa tidak menarik, aku hendak menyumpal telingaku dengan earphone ketika namaku tersebut di dalam percakapan mereka. Wah, apa nih apa? Jadi penasaran. Aku terus berusaha mencuri dengar debat pasangan itu. Bahkan, aku sudah duduk di balik pintu. Dari sini, suara mereka lebih jelas, walau dialog antara Penn Badgley dan Victoria Pedretti mendominasi.
"Ya, kali kamu sukanya sama Ara. Kamu perhatian gitu sama dia."
"Ya ampun, sayang." Suara kak Atha terdengar lembut. "Cemburu kok sama Ara, sih. Kayak enggak ada yang lain aja yang bisa dicemburuin."
Kretek. Itu suara gips hatiku yang yang patah. Baru saja mengobati luka, sudah kecelakaan lagi. Bahkan, yang patah bukan lagi hatiku, tapi obatnya. Aku cukup sadar kak Atha tidak pernah menganggapku ada, tetapi mendengar langsung penolakan itu, kembali meluluhlantakan segenap asa yang ada. Sesakit itu.
Aku meninggalkan daun pintu yang menjadi tempatku bersandar. Kurebahkan tubuh lemasku di kasur empuk tapi tak mampu membuatku nyaman. Kuingat satu demi satu kenangan manis bersama lelaki itu membuatku memikirkan mengapa aku bisa sampai ke posisi yang menyedihkan ini? Mengapa, dari puluhan ribu manusia yang ada di sekitarku, tidak ada satupun yang mampu menyaingi keindahan kak Atha?
Dia adalah sosok yang selalu ada untukku—setidaknya, aku selalu beranggapan seperti itu. Dia sosok pria bukan keluarga pertama yang memberikan perhatian untukku. Senyumnya, tawanya, belaian gemasnya lah yang pertama kali membangkitkan nyawa kupu-kupu di dalam perutku. Dia tidak akan membuatku menangis, seperti yang dilakukan kedua abangku saat mengerjaiku sewaktu kecil dulu. Dia tidak akan mencurangiku dengan memberikanku stik PS tetapi tidak dicolokkan, dia memang benar bermain bersamaku. Dia tidak akan protes jika aku menantangnya bermain winning eleven, tetapi hanya disetel babak pinalti yang kata kak Pandu sangat membosankan. Malah, dia akan mengalah agar aku menang. Dia adalah pria pertama yang dijadikan bulan-bulanan oleh teman-temanku ketika dia duduk di atas motornya dengan jaket denim di depan sekolahku, khusus menjemputku karena kak Pandu sibuk pacaran. Jadi, adakah pria yang akan menandingi itu?
Aku tahu, Avantika cemburu melihat kedekatanku dengan Kak Atha. Perempuan itu juga tidak segan-segan mengakuinya. Setelah percakapan kami tempo hari, Avantika beberapa kali memprotes jika aku bermain ke rumah kak Atha. Tidakkah wanita ini sadar, bahwa puluhan ribu jam yang telah aku dan kak Atha lalui tidak mungkin tidak membuat kami menjalin keakraban? Tidakkah dia sadari, meski begitu, kedekatan kami tidak menutupi perasaan kak Atha padanya. Perempuan itu sudah menjadi pusat dunia laki-laki impianku. Tidakkah bisa ia syukuri saja? Masih haruskah dia merenggut satu-satunya alasan agar aku masih bisa menikmati senyum dan tawa favoritku itu, pertemanan kami? Padahal Kak Atha tidak akan melihatku sebagai perempuan dewasa. Dia akan selalu melihatku sebagai gadis kecil lugu yang cuma mau ditemani karena tidak punya banyak teman seperti kedua abangnya. Tidakkah sepupuku itu melihat bahwa tidak ada yang pantas dicemburui dariku?
Sebagai lelaki yang baik hati dan sangat menghormati perempuan yang dicintainya, aku sangat sadar kak Atha akan melakukan apa saja untuk perempuan yang menghabiskan masa remajanya berpindah-pindah pulau itu. Jadi, aku tidak lagi ragu ketika kak Atha menciptakan jarak di antara kami setelah pertemgkaran yang sengaja kudengarkan itu. Komentarku di berbagai instastory miliknya tidak lagi berbalas, begitupun dengan instastory-ku yang tak pernah ia respon lagi. Tidak ada notifikasi Adhyasthapranaja liked your post di setiap foto estetik yang aku upload. Bahkan, sapaanku di Whatsapp pagi ini hanya di balas dengan tiga karakter, 'ya?'. Biasanya, laki-laki itu akan membalas dengan stiker-stiker atau GIF nyeleneh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wedding Ruiner
RomanceParticipant of MWM NPC 2020 Dosakah aku mencintaimu ? Peluklah aku, jangan menyerah Mereka bukan hakim kita - Dosakah Aku, Nidji.
