BAB 18 - Bangkit (1)

4.6K 576 23
                                        

—Wedding Ruiner—

Ak menyelesaikan suapan terakhir makan pagiku. Mama menarik piringnya dan mengelus kepalaku lembut. Kulirik jam di atas TV, sudah hampir pukul 11. Bahkan, sebentar lagi petugas layanan gizi akan kembali muncul membawa makan siang. Sepayah itu perjuanganku menghabiskan sarapan yang telah dibagikan sejak pukul 6 pagi. Suapan demi suapan berjarak puluhan menit. Terselip di antara perih dan mual yang muncul setiap menelan nasi lembek itu. Belum lagi, hidangan yang mendingin itu semakin membuatku muak.

Ini hari ketiga aku di rumah sakit. Secara medis, aku sudah masuk dalam masa pemulihan tahap awal. Di hari pertama, setelah tersambung dengan selang infus, tusukan di lipatan dalam siku terasa menggigit saat darahku ditarik paksa keluar. Kemudian, aku menghabiskan waktu di berbagai ruang pemeriksaan. Hingga akhirnya, mereka menemukan sebuah lesi di dalam lambungku. Perdarahan saluran cerna bagian atas itu diakibatkan dari erosi asam pada dinding lambung. Kemungkinan, karena kebiasaan makan yang buruk.

Kata dokter, Peptic Ulcer yang kualami masih ringan. Sangat beruntung diketahui sebelum memberat. Mereka hanya melakukan penanganan via endoskopi. Tidak perlu pemasangan selang NGT maupun transfusi darah yang mungkin dilakukan jika keadaan memburuk, seperti yang dijelaskan di awal penanganan. Saat itu, bisa kulihat raut lega dari seluruh keluargaku. Termasuk Mama yang secepat kilat pulang dari Bandung.

Satu-satunya yang masih buruk adalah kemampuanku untuk makan terhambat rasa sakit yang ada. Di hari kedua, aku masih belum bisa makan sama sekali. Pesan dokter, makan sedikit tapi sering. Aku mencoba melakukannya, tapi gagal. Terapi diet lunak yang rumah sakit terapkan tidak membantu. Aku hanya bisa minum air putih dan susu berkeping gandum. Itu pun tak banyak. Rasa terbakar di ulu hati benar-benar membuat tidak nyaman. Padahal, berbagai macam terapi farmakologi baik oral maupun intravenous telah diterapkan. Hari ketiga, aku sudah bisa menelan walau butuh waktu yang tidak manusiawi untuk makan satu porsi kecil.

Dua hari pertama, aku tidak banyak berbicara. Semua anggota keluarga menanyaiku apa yang terjadi sehingga aku bisa sampai seperti ini. Aku hanya menggeleng. Jika tidak mencoba makan atau sedang diperiksa, aku akan memejamkan mata sehingga keenggananku berbicara tidak memgundang tanya. Tidur adalah pelarian terbaik. Hari ini pun aku merencanakan hal yang sama. Hanya saja ini hari Sabtu dan sekarang pasukan lengkap sedang menunggui di ruang inap. Tentu kasak-kusuk dari mereka mengangguku atau mungkin cairan saline botol kesekian telah mengembalikan seluruh energiku. Jadi, tidur bukan suatu kegiatan yang melenakan lagi.

Aku membuka mata. Mata sayuku memindai ruangan. Mama yang tampak lelah sedang dipijit oleh Avantika. Syukurlah meski ada Avantika tidak ada kak Atha. Aku hanya ingin istirahat. Tak mau kehadiran sosok jangkung itu membuat semuanya semakin memburuk. Beralih ke sebelah Mama, ada Papa sedang menonton berita. Lalu, menuju sumber yang sedari tadi grasak-grusuk, ada kak Rendi dan kak Pandu yang sedang bersiap-siap.

Menemukan aku yang terjaga, Kak Pandu menghampiri. "Mau makan? Minum?" Aku menggeleng. Sebenarnya ingin ke toilet, tapi nanti saja lah. Masih bisa ditahan.

"Gue balik dulu ya. Antar Rendi ke stasiun. Makan yang bener." Kemarin, Kak Rendi kembali ke Jakarta bersama Mama. Sehingga mobilnya ia tinggal di Bandung dan memilih pulang menggunakan kereta api. Aku mengangguk tak mengambil pusing kenapa kakakku kembali ke perantauannya padahal besok hari Minggu. Kak Rendi kerja di perusahaan pengelola bandara milik negara, membuatnya terkadang bekerja di hari Minggu.

Hari berlalu lambat. Aku bosan tergeletak dengan selang cairan membatasi pergerakan. Kerjaku hanya berusaha menghabiskan porsi makan siangku, tidur, tertatih ke toilet dan ulangi. Avantika sempat menawarkan diri mendorong kursi rodaku dan mengitari taman atap rumah sakit. Aku tertarik bahkan izin dari suster sudah dikantongi. Sialnya, hujan intensitas sedang mengguyur sepanjang hari.

Wedding RuinerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang