Nb. Dengerin Adpatasi di Multimedia yakkkk
—Wedding Ruiner—
Aku menghempaskan tubuhku ke pangkuan kak Pandu. Dia mengerang dan berusaha melepaskan rangkulanku di lehernya. "Enggak malu lo, dilihatin temen-temen gue? Tiba-tiba nemplok gini."
Aku menatap teman-teman yang dimaksud kak Pandu. Hanya ada kak Rendi, kak Atha, satu teman SMA-nya, Kak Tama serta satu anggota Arsier yang sekaligus teman kuliah mereka, Mas Dirga. Semua sudah kukenal sejak lama walau kak Tama sudah lama tidak main ke rumah. Jadi, aku santai saja.
"Cuma mereka juga." Aku merespon santai.
"Mau apa sih, Ra?"
"One hug a day keeps the doctor away," sindirku. Seperti yang sudah kuduga, kak Pandu tidak bertahan lama dengan kebiasaan barunya. Sudah berminggu-minggu dia tidak melakukannya lagi.
Kak Pandu membalas pelukanku. "Sudah kan? Sana. Kita mau lanjut ngobrol."
Tidak beranjak, aku hanya menatap yang lain satu persatu. "Lagi pada ngobrolin apa sih? Masa Ara enggak boleh denger?" Aku berujar manja. Kak Pandu menjitak kepalaku. Mungkin dikiranya aku sedang kesurupan. Hanya saja, gabut melanda di hari Sabtu. Bosan sendirian, aku berpikir gabung bersama mereka akan seru. Avantika sedang lembur. Mama tampaknya ada arisan kaum jetset. Sebenernya, aku yang asli seperti ini. Dulu, terutama saat aku puber, aku selalu merusuh saat Kak Pandu membawa teman-temannya apalagi kalau bawa pacarnya. Sudah pasti akan kuintilin sampai ke ujung dunia pun.
"Lagi rencanain bachelor party-nya Atha." Kak Rendi merespon. Mungkin dia jengah melihat kelakuan adiknya yang aneh. Dia menyuruhku turun dari pangkuan Kak Pandu. Aku menurut dan menyelip ke antara Kak Pandu dan Kak Rendi yang duduk pada sebuah sofa yang sama. Kak Rendi bergeser membuatku mendapatkan tempat yang lebih lega. Aku tahu, kehadiranku selalu disambut di antara mereka. Sejak dulu, aku memang sering nimbrung dengan kak Pandu dan teman-temannya karena aku jarang keluar rumah.
"Ih, asik. Kapan?" tanyaku. Mengingat pernikahan kak Atha akan diselenggarakan dua minggu lagi. Sejak tujuh hari sebelum hari H, kak Atha akan dipingit di Jogja.
"Weekend, depan. Sekalian nganterin ini anak ke Jogja."
"Road trip?" Aku memastikan. Mereka semua mengangguk. Wah, seru! "Destinasi kemana aja?"
"Semarang aja, nginep satu malam." Aku membulatkan bibir mendengar jawaban Kak Pandu. "Proyek vila lo kemarin? Gak modal." Semua tertawa tetapi tetap mengiyakan.
"Ikut, dong!" Tiba-tiba saja aku membayangkan keseruan road trip mereka. Aku tahu lingkaran pertemenan kak Pandu yang satu ini memang seru banget. Asik pasti.
"Apaan? Gak usah ngadi-ngadi lo." Kak Pandu tidak menyukai gagasanku. "Cowok semua juga."
"Ih, duanya abangku juga," argumenku. Aku beralih ke kak Atha, "Kak! Ikut," rengekku. Kak Atha mengatakan itu bukan ranahnya. Semua ada di tangan panitia. Dia saja cuma pasrah dibawa ke sana kemari. Aku mengerucutkan bibir.
Aku ingin ikut karena memang butuh liburan, bukan karena memanfaatkan waktu untuk bersama kak Atha, ya. Bahkan, aku merasa bersemangat mendengar rencana bachelor party untuk Kak Atha. Aku jauh dari kata sedih. Aku benar-benar ingin ikut merayakannya. Aku sudah bisa menerima semuanya. Agak tak terduga, tapi kusyukuri saja. Lagi pula, kalau liburan sama kak Pandu dan Kak Rendi selain yang pasti bakalan mengasyikkan, aku juga tahu keselamatanku pasti terjamin serta yang paling mantul adalah dompetku juga terjaga. Tidak akan ada uang keluar sepeser pun. Menang banyak 'kan. Aku terkekeh mendengar keoportunitisanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wedding Ruiner
Roman d'amourParticipant of MWM NPC 2020 Dosakah aku mencintaimu ? Peluklah aku, jangan menyerah Mereka bukan hakim kita - Dosakah Aku, Nidji.
