—Wedding Ruiner—
Menyembunyikan perasaan bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi kalau kamu harus bertemu orang yang kamu taksir setiap hari. Lima tahun sudah berlalu sejak mereka berpikir aku telah mengakhiri segalanya, bukannya mati, perasaan itu semakin berakar di hatiku. Apalagi sejak Kak Atha dan Kak Pandu membuka sebuah biro arsitektur—Arsier—yang kantornya ada di lantai dua rumahku membuat aku harus melihat wajahnya setiap hari meski hanya selintas.
Untungnya, sudah tiga bulan ini aku bekerja di sebuah bank milik negara yang mengharuskanku pergi pagi dan pulang malam, sehingga aku berhasil menghindari Kak Atha. Namun, hal tersebut tidak berarti perasaanku pergi begitu saja. Malah semakin membuatku menderita malarindu. Terkadang, rasanya ingin sekali pada saat lelah selesai bekerja, aku menghubunginya lalu berbagi keluh kesah sambil mendengarkan suaranya yang begitu menenangkan. Jelas, semua hanya mimpi, tidak mungkin hal itu kulakukan, selain hanya akan membongkar perasaan yang kusembunyikan, Kak Atha juga memiliki kekasih. Namanya Kak Sera, dan iya, dia adalah wanita yang sama dengan wanita yang Kak Atha bawa lima tahun lalu ke rumahku. Mereka sudah berhubungan selama itu. Terkadang aku membayangkan jika mereka menikah nantinya, entah apa yang akan kurasakan.
Setelah sekian lama berhasil menghindari sekaligus menahan rindu, hari ini entah harus kusyukuri atau kurutuki ketika melihat Kak Atha sedang bersenda gurau di ruang keluarga rumahku. Memang masih pukul lima sore, sementara biasanya aku sampai rumah pukul tujuh malam. Hari ini hari Jumat dan pekerjaanku telah selesai semua membuatku bisa pulang tepat waktu.
"Aduh, Mbak yang satu ini, sejak kerja, sibuknya udah saingan sama presiden. Susah bener ketemunya," Kak Atha mengomentari kepulanganku.
"Iya 'kan, Tha! Tante minta tolong temenin ke mall aja susah bener sekarang."
Aku hanya tersenyum menanggapi komentar mereka dan berpamitan masuk ke kamar untuk mandi dan mengganti baju sebelum kembali bergabung bersama mereka. Sebenarnya, dalam hati kecilku, aku berharap ketika selesai mandi nanti, Kak Atha sudah pulang. Namun, semua hanya angan-angan.
"Tha, kamu kapan nikah sama Sera?" Pertanyaan Mama membuatku duduk gelisah. Hatiku was-was ingin mendengar jawaban Kak Atha. Sementara Kak Pandu yang baru datang dari dapur cekikikan mendengar pertanyaan Mama.
Kak Atha menggaruk tengkuknya. Aku bisa menyadari mukanya sedikit memerah. Malukah? Walaupun aku sedikit bingung kenapa dia harus malu?
"Waduh, Tante! Bingung jawabnya nih. Calonnya 'kan udah gak ada."
Aku dan Mama sama-sama tersentak. Bahkan kami berdua sempat saling pandang antara bingung dan penasaran. Seperti aku yang sudah lama tidak bertemu dengan Kak Atha, selama itu pula aku tidak melihat Kak Sera. Dulu aku selalu berjumpa dengan Kak Sera, setidaknya satu kali dalam seminggu, karena Kak Sera sering mampir ke Arsier. Jadi kupikir, Aku saja yang tidak bertemu dengannya bukan karena mereka tidak lagi bersama.
"Loh? Kamu putus sama Sera? Pantes Tante gak lihat dia lagi belakangan."
Kak Atha mengangguk-angguk pelan. "Ya, gitu deh, Tan."
"Kenapa? Udah lama loh kamu sama dia?" Mama benar-benar menyuarakan kekepoanku. Aku jadi tidak perlu mati penasaran. I love you, Mom.
"Di selingkuhin dia, Ma." Ini Kak Pandu yang menyeletuk. Aku melihat Mama mendelik kaget. Sementara aku sendiri tidak terlalu terkejut, meski tidak percaya sepenuhnya.
"Hah? Masa sih, Tha? Gak mungkin lah Sera begitu."
Kak Pandu mengedikkan bahu dan Kak Atha hanya tertawa miris. "Ya, gimana ya, Tan. Gitu lah pokoknya, Tan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wedding Ruiner
Storie d'amoreParticipant of MWM NPC 2020 Dosakah aku mencintaimu ? Peluklah aku, jangan menyerah Mereka bukan hakim kita - Dosakah Aku, Nidji.
