—Wedding Ruiner—
Soekarno-Hatta siang ini ramai. Liburan tahun baru, baru saja usai. Banyak keluarga berbondong-bondong kembali ke kota untuk beraktivitas seperti sedia kala.Aku menggantungkan jaket yang kubawa pada tas selempang yang kukenakan. Kacamata hitam, aku sangkutkan di kepala. Menoleh ke kiri, Kak Atha sedang menurunkan barang-barangku. Dia tersenyum ketika mata kami bersirobok, Aku berniat mengambil troli yang ia gunakan, tapi Kak Atha tak mengizinkan. Bahkan dia memimpin masuk ke area check-in. Aku mencebik dengan kesemena-menaannya. Segera kuikuti langkahnya.
Tiba-tiba, lenganku di gandeng. Mama berdiri sampingku dan membawaku jalan lebih cepat. Menyusul kak Pandu dan Kak Atha yang sudah mengantrikan barang-barangku di barisan konter check-in maskapaiku. Papa tegak dibelakangku. Lucu juga, cuma ditugaskan ke Banda Aceh saja yang mengantar satu RT. Bagaimana kalau dulu aku benar memaksa kuliah di luar negeri? Mungkin satu kecamatan yang ikut mengantar.
Setelah menyelesaikan proses check-in yang membuatku cukup lama mengantri, karena rombongan di depanku membawa barang yang cukup banyak, aku kembali kehadapan keluargaku yang mengamati dari kejauhan. Rayi yang masih dengan seragamnya sudah bergabung di sana. Aku tersenyum. Kalau Rayi datang, itu artinya dia sudah tidak marah lagi padaku.
"Araaaa," pekiknya. Dia menghambur kepelukanku. Rok span tidak menghalangi geraknya karena memiliki belahan tinggi. "Untung pesawat gue enggak delay. Jadi, bisa sempat ketemu lo," terangnya.
Uluh-uluh. Aku gemas sendiri dengan Rayi yang saat ini memelukku erat sambil bergoyang ke kanan dan ke kiri. "Suruh siapa kemarin-kemarin ngambek sama gue? Di-chat enggak dibalas, ditelepon enggak angkat. Padahal 'kan gue mau ngajakin girls day out." Rayi ngambeknya kaya ngambek sama pacar saja.
"Biar! Biar lo tahu rasa," katanya. Rayi tidak mau kalah.
Jadi, sejak kejadian di Semarang minggu lalu, Rayi marah padaku. Sepergi kak Atha dari kamar waktu itu, kami bertengkar. Rayi dengan amarahnya yang tak terbendung mencaci-maki kelakukaanku. Aku masih dalam mode bertahan, menganggap pelukan itu hanya pelukan pertemanan. Waktu itu, Rayi menatapku dengan pandangan tak percaya. Dia bilang, dia bodoh kalau dia percaya. Puncaknya ketika Rayi bilang, "Lo kalau disuruh ngangkang sama Atha juga kayanya manut."
"That's rude, Rayi," responku waktu itu. Rayi sadar dan segera meminta maaf seadanya, tetapi dia masih berlanjut menceramahiku. Akhirnya, saat itu aku cuma berkata, "This is the end, Ray. Percaya sama gue. Semua sudah berakhir. Gue enggak lagi mau tahu apapun tentang dia lagi. Biar saja dia terpuruk dengan rasanya. Gue enggak mau lagi. I let him go and I'm so glad that I'll be gone soon."
Waktu itu aku hanya menempelkan dahi di bahu Rayi. Perempuan itu tidak lagi dalam mode menasihati. Dia sudah percaya. Cuma dasar gengsinya tinggi, dia mendorong keningku sambil mencebik. "Pokoknya, gue tetap ngambek sama lo!" Kemudian, aku ditinggal tidur. Kami baru kembali berbicara lagi hari ini. Di bandara. Di hari kepergianku.
Rayi melepas pelukan kami. Dia berjanji akan menyempatkan bertemu denganku kalau-kalau dia punya waktu yang panjang saat terbang ke Banda Aceh. Sementara, aku menjanjikan kami agar terus berhubungan. Jangan sampai terputus lagi seperti dulu. Setelah Rayi melepasku seutuhnya, aku beringsut menuju mama. Mama mengerucutkan bibirnya. "Anak wedok mama satu-satunya, kerjanya kenapa jauh banget sih?"
Aku tertawa. "Jauh apaan, Ma? Tiga jam aja kok naik pesawat."
"Pokoknya kamu harus pulang tiap bulan, ya. Kalau perlu dua minggu sekali. Nanti, mama kirimin tiketnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wedding Ruiner
RomanceParticipant of MWM NPC 2020 Dosakah aku mencintaimu ? Peluklah aku, jangan menyerah Mereka bukan hakim kita - Dosakah Aku, Nidji.
