Handphonenya masih menyala, menampilkan banyak sekali chat yang dia kirimkan pada laki-laki yang selalu mengganggu pikiran nya setiap waktu. Masih tak ada balasan, bahkan chat yang ia kirimkan 2 bulan yang lalu pun tak ada balasan.
Kenapa jadi begini?
Apa yang harus dia lakukan sekarang, menuruti pikiran nya yang menyuruhnya melupakan laki-laki itu atau mendengar kan hatinya untuk tetap bertahan. Dirinya dilema, bahkan dia selalu memikirkan hal tersebut setiap malam, tanpa henti.
Tok tok
Naeun segera menghapus air matanya dengan cepat, mematikan handphone dan memasukannya pada saku jeans yang dia pakai. Naeun menarik nafas pelan, berbalik saat ibunya sudah menunjukkan kepala di bibir pintu kamarnya.
"Udah di tungguin tuh"
Naeun mengangguk, mengambil tas ransel miliknya dengan cepat. Menerobos ibunya yang masih di depan pintu.
"Kamu yakin mau pergi?" Tanya ibunya yang entah ke berapa kali.
Berbalik, mencoba tersenyum tipis pada ibunya. "Iya, kapan lagi aku kayak gini?" Sebenarnya dia ingin menangis saat ini.
Ibunya menghela, "Yaudah, Mama udah pesen ke Jaemin buat jagain kamu di sana, awas kalo macem-macem"
Naeun berjalan menuruni tangga sambil mendengarkan ibunya, dia hanya mengangguk saja. "Kamu di sana ceweknya gak sendiri kan?"
Langkah nya terhenti, berbalik ke arah ibunya, "Enggak kok ma, ada temen cewek kok" Bohong nya.
"Syukur deh, Mama kira kamu cuma sendiri ceweknya, kamu kan bergaul rata-rata sama cowok mulu, jadi Mama pikir kamu juga perginya sama cowok doang" Ibunya tersenyum.
Naeun menggeleng, mencoba meyakinkan Ibunya terhadap kebohongan yang dia ciptakan. Ia benar-benar berbohong, karena jika tidak, ibunya tak akan mengijinkan, lagi pula mereka tidak akan berbuat jahat padanya.
Dan... sejujurnya ada alasan lain. Dan dia harus menghindari itu semua, walaupun sejenak.
Jaemin bangkit dari sofa, berjalan mendekati Naeun, mengambil alih tas ransel miliknya. Jaemin tahu, jika gadis itu habis menangis, terlihat dari mata sembabnya. Apakah ibu gadis itu tak menyadari??
"Makasih" Ujar gadis itu, lalu bersalaman dengan ibunya setelah itu ganti Jaemin.
"Pergi dulu ya tante" Jaemin tersenyum, lalu melepaskan tangannya dari sang ibu.
"Iya, jagain Naeun ya Jaem, tante percayain dia sama kamu" Ibunya Naeun menepuk bahu Jaemin pelan, dan Jaemin hanya tersenyum mengiyakan.
"Pamit ya tante, asalamualaikum"
Ibu Naeun mengangguk, "Waalaikumsalam" membiarkan putrinya pergi dengan teman-temannya. Ia harap putri nya bisa sedikit melupakan Jeno. Ia tak mau jika Naeun terus kepikiran dan akhirnya jatuh sakit seperti tempo hari.
"Ayok masuk" Jaemin membukakan pintu mobil Vans milik Chenle, dia hanya menuruti Jaemin lalu duduk di sebelah Jisung yang rupanya malah asik tidur.
Jaemin duduk di sampingnya setelah dia menaruh tas miliknya di belakang. Melihat deretan laki-laki yang malah asik mabar, fokus sekali sampai-sampai tak menyadari keberadaan nya.
"Wey! Ayokk buruan gas!!!" Jaemin menepuk bahu Hyunjin yang menjadi supir mereka semua, Chenle yang menyuruh tentu saja, sebenarnya Hyunjin sempat menolak, tapi Chenle mengancam jika Hyunjin tak mau maka dia terpaksa tidur di luar nantinya.
"Loh, udah ternyata, okayyy berangkat!!" Hyunjin menginjak pedal gas, mobil vans milik Chenle sangat luas, bahkan mereka bisa tiduran semua di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Like | Lee Jeno [REVISI]
FanfictionSuka? Gak mungkin, dia cuma temen, gak lebih. Tapi emang boleh gue suka dia? -------------- [Start : 21/07/19] [Fin : 15/01/20]
![Like | Lee Jeno [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/193773640-64-k922813.jpg)