L♥51

1.4K 114 3
                                        


Lagi-lagi, untuk kedua kalinya Jaemin membawa gue quality time. Dia mengajak gue kembali taman saat gue dan dia bertemu untuk pertama kali. Hanya saja bedanya kali ini dia ngajak gue ke sebuah taman sebelah barat, bukan ke danau lagi, tepatnya di sebuah padang bunga.

Kenapa gue sebut ini padang bunga?, ya karena sekeliling nya banyak banget bunga, bahkan hampir semua hamparan nya hanya bunga. Gak hanya itu, biasanya di sebelah taman yang lain cuma rumput biasa yang ada. Tapi di sebelah ini beda, bahkan rumput nya berbunga, dan pas banget lagi mekar.

Gue sih kurang tahu ya bunga apa, tapi yang gue tahu ini bunga cantik banget. Sayangnya gak boleh di petik.

Jaemin ada di depan gue, melihat berbagai macam bunga tersebut sambil memakan kebab yang dia beli barusan di salah satu kios deket sini.

"Jaem?"

"Hum?" Jaemin berbalik, dengan kebab yang penuh di mulutnya. Gue tersenyum tipis.

Gue terdiam sejenak, memikirkan apa yang akan gue ucapkan pada Jaemin. "... kenapa lo selalu tahu perasaan gue?"

Jaemin terdiam, kemudian tersenyum. "Entahlah, tapi yang gue tahu kita itu temen" Jaemin mengunyah kembali kebab yang masih tersisa sedikit di tangannya.

Gue gak ngomong apapun, memilih diam, melihat ke arah lain.

"Lo tahu, saat ini gue rasa lo punya masalah, ---ah emang iya, lo punya. Tapi masalah lo itu gak bisa di selesein dengan mudah. Lo harus bisa nyelesain nya bukan dari sudut pandang lo aja, tapi liat dari sudut pandang Jeno" Jaemin memegang sebuah bunga anggrek yang menempel bebas di sebuah pohon.

"Jeno itu sulit di tebak, dan yang gue liat dia sedikit berubah"

Gue terdiam, semua kata-kata Jaemin memang benar. Gue menghela, menyandarkan punggung pada kursi yang gue tempati.

"Apa sebelum nya lo pernah berantem sama Jeno sampai kayak gini?" Tanya Jaemin, dia bersender pada pohon itu.

Gue menggeleng, sambil mengingat semua kejadian yang pernah gue alami. "Selama gue kenal sama Jeno, dia gak pernah secuek ini sama gue, dan bahkan dia gak pernah pulang sampai larut kayak beberapa minggu terakhir"

"Dan... dia selalu ngalah kalo gue sama dia berantem, dia selalu gak mau memperpanjang, selalu dia yang ngalah" Ucap gue lagi.

Jaemin memasukan kedua tangannya ke saku jeans yang dia pakai, melihat gue yang menatap lurus hamparan bunga yang masih bermekaran beberapa.

"Apa sebelum ini lo pernah berantem sama Jeno dan belum kelar sampe sekarang?" Tanya nya.

Terdiam, rasanya gue mengingat perdebatan beberapa minggu lalu saat Jeno melarang gue untuk bertemu lagi dengan Eric. Dan sejak saat itu... --

"Kalo ada,... berarti dia gak main-main. Pasti ada sesuatu, tapi dia gak mau ngasih tahu lo" Ucap Jaemin lagi.

Gue menggigit bibir bawah gue pelan, memikirkan setiap perkataan Jaemin, lalu mengingat perdebatan gue sama Jeno yang terakhir kali.

"Jauhin dia"

"Lo yang harus dengerin gue--- "

"Intinya lo harus jauhin dia"

Gue meneguk ludah gue kasar, ingatan tentang hari itu kembali terngiang di kepala dan telinga gue. Suara Jeno yang terdengar memaksa dan menuntut malah buat gue merasa bersalah.

Ck sialan!

Jaemin tersenyum tipis saat melihat raut wajah gue yang mengkerut, dia memetik sebuah bunga Aster berwarna merah dari tangkainya. Dia mendekati gue, duduk di dekat gue.

Like | Lee Jeno [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang