DUA PULUH DELAPAN

2.3K 318 27
                                        

*Intensive Care Unit Royal Family Hospital*

Sudah lima hari ini Vannya terbaring di Ruang Intensif. Sudah mulai ada kemajuan dari kondisi kesehatannya. Saat awal masuk, dia sama sekali tidak sadar. Dia mengalami gangguan elektrolit dimana semua kadar ion natrium, kalium dan klorida di tubuhnya sangat rendah.

Kini dia mulai bisa membuka mata ketika dipanggil, walaupun setelahnya masih cenderung tidur. Hanya keluarga inti yang diijinkan untuk masuk dan menjenguk. Semua terlihat syok mendengarkan penjelasan dokter Rianita, Spesialis Penyakit Dalam, Konsulen Penyakit Tropik Infeksi.

Dokter memberitahukan penyakit pasien hanya kepada keluarga yang diijinkan oleh kedua orangtua Vannya. Ayah Renald, Mama Shinta, Opa yang datang setelah Vannya dilarikan ke rumah sakit, dan juga Rara. Bahkan Reyga dan Zidan yang datang belakangan, tidak diijinkan untuk mengetahui penyakit yang diderita oleh Vannya.

Suasana family conference berjalan baik, meski di awal antara Opa dan Om Renold sempat terjadi ketegangan.

"Dari kondisi klinis dan pemeriksaan laboratorium yang telah kami lakukan untuk pasien, kami mendiagnosis dengan HIV stadium 3. Dengan hasil CT Scan kepala menunjukkan adanya toksoplasmosis, masih memungkinkan pasien mulai masuk ke stadium 4.

Untuk kondisi Hemoglobin di awal masuk adalah 6, setelah ditransfusi 4 kantong darah merah, sudah perbaikan menjadi 9. Trombosit yang turun dari angka 45.000, setelah transfusi juga telah naik menjadi 70.000. Melihat kondisi kesadaran mulai membaik, kami tim yang menangani masih optimis, pasien bisa perbaikan kondisi. Untuk infeksi lain seperti Tuberculosis paru maupun ekstra paru, saat ini tidak muncul pada pasien. Sejak screening awal penyakit TB negatif, kami mulai memasukkan obat Anti Retroviral. Apakah ada lagi yang ingin keluarga tanyakan?"

Dokter Rianita mempersilahkan untuk bertanya. Sebelum akhirnya penjelasan dilanjutkan oleh dokter Anestesi yang akan mengevaluasi untuk melepas ventilator alat bantu napas besok lusa. Apabila kondisi semakin membaik, Vannya bisa pindah ke ruang High Care Unit (HCU).

Setelah pertemuan tim dokter dan keluarga berakhir, Opa masih terlihat  lesu. Di hari pertama perawatan Vannya, Opa hampir  memukul Om Renold karena tidak becus mengurus anak perempuannya. Apalagi setelah beberapa teman karib Vannya datang menjenguk dan mengatakan cucunya itu kurang perhatian dari Orangtua, sehingga mencari kesenangan dengan mencoba dunia malam. Minum alkohol di klub, berhubungan seks bebas dan berganti pasangan. 

Beruntung Ayah Renald berhasil melerai sehingga tidak terjadi baku hantam antara Opa dengan Om Renold. Kedua orangtua Vannya menyesal dan masih menangisi kondisi putrinya yang masih belum sadar penuh.

"Opa, Om, Tante, Mama, Ayah... Sekarang, yang bisa kita lakukan adalah sama-sama berdo'a semoga Vannya bisa pulih. Karena upaya secara medis sudah dilakukan oleh tim dokter dan kita mempercayakan kepada mereka. Kalau Om Renold mengijinkan, apa boleh Vannya dikunjungi tim bimbingan rohani dari rumahsakit, untuk mendo'akan juga memberi semangat."

Om Renold dan istrinya mengangguk setuju. Istri Om Renold memeluk Rara erat.

"Terimakasih, Sayang. Rara, kami memang baru mengenal kamu. Tapi kamu seperti malaikat dikirim Allah untuk keluarga kami. Terimakasih sudah mau mendonorkan darah untuk Vannya, juga mencari teman-teman lain yang bisa menjadi donor."

Ayah Renald terlihat bangga dan juga terharu melihat adik iparnya memeluk Rara. Demikian juga Opa, yang Opa sesalkan adalah mereka bertemu dalam kondisi seperti ini. Saat melihat Opa datang, Rara juga sama terkejutnya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Kakek yang beberapa hari lalu ditemuinya di rumah sakit adalah Opanya.

"Opa istirahat saja di rumah. Jangan sampai kecapekan. Rara ijin pamit dulu. Ayah sama Bunda sudah menunggu di rumah. Besok siang pas jam besuk, Insya Allah Rara kesini lagi."

AuroraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang