Lee Taeyong tampak duduk di kursi belakang mobil hitamnya.
"Taeyong, kau harus benar-benar mempertimbangkan hal ini. Album terakhirmu selalu menjadi nomor satu. Single-mu merajai tiap chart bahkan ketika baru dirilis." Jihoon, sang manajer, memohon padanya.
"Tidak." Taeyong menyilangkan tangan.
"Taeyong," Jihoon melanjutkan dengan suara lembut. "Pada akhirnya, kau harus melangkah keluar dari zona nyamanmu. Kau harus melakukan tur atau kariermu benar-benar hancur."
"Aku tidak mau dan kau tahu alasannya. Kau tahu bahwa aku tidak bisa." Kesedihan mengisi pandangan, bersamaan dengan adrenalin yang meningkat dalam dirinya.
"Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk mencoba sesi terapi lagi," Jihoon melanjutkan.
"Oh, tentu. Media akan menyukai hal itu. Lee Taeyong, si rapper hit sekaligus pasien gangguan mental!"
Jihoon memutar kepala menghadap lelaki itu. "Mungkin kita bisa menggunakan program rawat inap untuk proses penyembuhanmu. Meminta orang-orang yang bersangkutan untuk menandatangani perjanjian dan melakukan segala hal secara rahasia."
Kemarahan sontak meningkat dalam diri Taeyong. "Kau mau mengurungku?" Nada suaranya meninggi, seiring dengan rasa panik yang menguasai. "Apakah ini yang diinginkan perusahaan? Menyembunyikan penghasil uang terbesar mereka di rumah sakit jiwa?" Taeyong semakin panik ketika Jihoon berusaha menyentuh tangannya. "Jangan sentuh aku!" Ia lantas meraih pegangan pintu dan mengayunkannya terbuka, bersamaan dengan naluri pemberontak yang timbul dalam dirinya.
Mendapati hal itu, Jihoon kontan berseru. "Jangan, Taeyong! Jalanannyaㅡ"
Namun, Taeyong tidak sempat mendengar itu, sebab ia sudah melompat keluar dari mobil lebih dulu.
:::
Jung Jaehyun hayut seorang diri di bawah paparan sinar mentari seiring dengan langkah kaki menuju tempat kerja. Ia menyingkirkan rambut cokelat gelapnya agar tak menutup mata dan menyipit memandang langit. Hari yang indah. Terlalu indah untuk dihabiskan di kantor yang memonopoli hari-harinya.
Ia menyenandungkan sebuah lagu dalam suara rendah, sesuatu yang ia dengar dari radio, mungkin lagu terbaru seorang idol populer, bersama segelas kopi favorit di tangannya, flat white dengan tambahan gula. Daun-daun berguguran dalam embusan angin hangat, pertanda musim panas akan berganti menuju musim gugur.
Ia hendak menyeberang ketika sebuah mobil hitam melintas di depannya. Mobil-mobil yang lain pun melaju dari kiri dan kanan, membuat ia sedikit melangkah mundur, menunggu lampu lalu lintas berubah merah. Tiba-tiba, pintu sebuah mobil terbuka di depannya, disusul seorang lelaki berambut merah jambu yang meloncat keluar, bersamaan dengan sebuah van yang tengah melaju ke arahnya.
Andrenalin mengalir di dalam tubuh Jaehyun seiring waktu yang seolah terasa berhenti. Kopi di genggaman otomatis melayang ketika ia melompat ke arah si lelaki dan meraih lengannya. Usaha tersebut membuat tubuh Jaehyun menubruk tubuh kecil lelaki itu, sehingga mereka jatuh menabrak permukaan tanah dengan cukup keras. Kepalanya membentur jalan. Van tadi berada beberapa inci dari mereka, nyaris menabrak. Dan seketika, semua tampak gelap.
:::
"Jihoon, panggilkan ambulans!" Taeyong berteriak pada si manajer. Ia membutuhkan waktu sepuluh detik untuk kemudian menyadari bahwa kulitnya telah bersentuhan dengan pemuda tadi. Taeyong kontan merasa panik.
"Tasku. Di mana tasku?" Ia merampas ransel dari dalam mobil dan meraih selembar tisu antiseptik. Rasa panik pun mereda bersamaan dengan tisu basah yang menyentuh kulitnya. Kemudian, ia menyadari bahwa orang-orang mulai berkumpul di sekitar pemuda yang sudah tak sadarkan diri tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Cure [Bahasa]
FanfictionTaeyong adalah lelaki cacat dan Jaehyun adalah sosok yang andal memperbaiki hati yang rusak. Akankah itu cukup untuk membuat mereka tetap bersama, atau akankah segalanya lantas memisahkan mereka? -- Terjemahan fanfiksi Jaeyong karya abnegative (yo...
![[✔] Cure [Bahasa]](https://img.wattpad.com/cover/216228909-64-k668989.jpg)