Jaehyun merengkuh tubuh Taeyong di atas ranjang.
"Jaehyun, biarkan aku bangun, tolong ...." bisik Taeyong seiring dengan air mata yang mengaliri wajah. Napasnya telah memelan tetapi tampak akan kembali memberat.
"Tidak," kata Jaehyun. Ia mengusap rambut si lelaki. "Dengar suaraku. Bernapaslah," ucapnya sambil mengusap lembut rambut Taeyong dan memberi kecupan di lehernya. "Rileks." Jaehyun memberi kecupan lagi dan lagi seiring dengan suara madu yang mengalunkan kata-kata penenang bagi Taeyong.
"Tidak ada yang akan terjadi. Bernapaslah ...." Jaehyun menarik si lelaki cacat merapat ke dadanya, merengkuh tubuh Taeyong dengan lengan kukuhnya. "Rileks dan bernapas."
Napas Taeyong pun memelan. Kulitnya masih terasa gatal tetapi rasa geli sudah tertekan oleh suatu emosi yang lain.
"Kau merasa lebih baik? Sudah lebih mudah?" Jaehyun memberi usapan naik turun di punggungnya seiring dengan mulut yang mengulum lembut kulit leher bagian belakang Taeyong. Rasa remang menyerang tubuh bagian atas si lelaki. Ia mengangguk dan sudah berhenti menangis.
Jaehyun menenangkan Taeyong di dalam rengkuhan sebelum membebaskannya.
Taeyong segera bangkit. Ia menatap seprai sebelum beralih pada kamar mandi yang terhubung dengan kamarnya.
"Mandilah dulu. Lalu aku akan membantumu mengurus kasurnya," kata Jaehyun sambil tersenyum padanya.
"Kemarilah bersamaku." Taeyong tersenyum, tiba-tiba kembali merasa malu, pun meraih tangan Jaehyun.
:
Jaehyun tidak pernah mendapati kamar mandi dengan lebih dari satu pancuran. Bahkan ruangan ini lebih besar daripada kamar mandi apartemennya.
Taeyong memencet sebuah tombol dan air pun memancur ke luar, secara instan dalam temperatur yang sempurna. Ia melepas seluruh pakaian dan meletakkannya ke dalam mesin cuci di sudut ruangan.
Jaehyun menatap Taeyong melangkah telanjang melintasi ruangan. Tubuhnya sangat kurus, dengan warna kulit yang sangat putih, menjurus ke pucat. Jaehyun tidak pernah melihat sosok sesempurna ini dalam hidupnya.
Pemuda itu mengikuti langkah Taeyong dengan menanggalkan pakaian juga. "Bolehkah milik kita bercampur?" tanyanya. Taeyong berpikir sejenak kemudian mengangguk. Jaehyun pun memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci dan bergabung bersama si lelaki di bawah guyuran air hangat.
Taeyong merasa amat rileks di bawah guyuran air. Jaehyun tahu bahwa ini adalah tempat teraman baginya, tempat di mana lelaki itu merasa benar-benar bersih dan bisa melepas segala kecemasan.
Taeyong menyemprotkan sabun jel beraroma sedap ke telapak tangan sebelum digosokkan ke permukaan dada Jaehyun. Ia sangat putus asa untuk terus merasakan tubuh kukuh si pemuda di bawah telapak tangannya. Ini adalah cara terbaik. Mungkin Jaehyun akan datang dan mandi ke sini setiap hari? Ia menertawakan diri sendiri sambil menggerakkan tangan turun ke perut pemuda itu.
Jaehyun lantas terkekeh. "Kau sudah tidak mabuk, kan?"
"Tidak," jawab Taeyong. "Aku hanya sedang merasa senang."
:
Jaehyun menatap penuh rasa penasaran ketika ia dan Taeyong melangkah memasuki lemari yang bahkan lebih besar daripada kamar miliknya.
Taeyong tengah mencarikan baju yang sekiranya pas dengan tubuh besar Jaehyun. Ia menemukan beberapa celana olahraga, yang bahkan tanpa sadar ia miliki, dan sebuah kaus oversized. Taeyong menyerahkan semuanya pada Jaehyun dan membuka sebuah laci, di mana susunan rapi bergulung-gulung celana dalam baru diletakkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Cure [Bahasa]
FanfictionTaeyong adalah lelaki cacat dan Jaehyun adalah sosok yang andal memperbaiki hati yang rusak. Akankah itu cukup untuk membuat mereka tetap bersama, atau akankah segalanya lantas memisahkan mereka? -- Terjemahan fanfiksi Jaeyong karya abnegative (yo...
![[✔] Cure [Bahasa]](https://img.wattpad.com/cover/216228909-64-k668989.jpg)