Taeyong bekerja di studio selama berhari-hari, dan Jaehyun mulai kewalahan dengan perasaan baru ini. Rasa membutuhkan? Ia merasa butuh akan sesuatu. Ia merindukan Taeyong.
Mondar-mandir di apartemen, Jaehyun merasa bosan. Memasuki ruang belajar dan membuka buku materi, mendapati bahwa semua sudah selesai dibacanya. Dua kali. Kuliah berjalan lancar, dengan ia yang menghadiri setiap kelas setelah kepindahan. Jaehyun yakin akan mendapat nilai terbaik untuk ujian-ujiannya, begitu juga perbaikan nilai untuk tugas-tugas yang telah lalu. Ia kemudian menelepon Johnny, bahkan tidak repot-repot mengatakan pada Taeyong bahwa ia akan pergi.
Jaehyun tertarik untuk melihat isi apartemen Johnny yang ia bagi bersama Ten. Ten masih merupakan sedikit misteri bagi Jaehyun. Johnny terkesan terlalu bersikap tertutup mengenai hubungan mereka. Itu berarti semua berjalan baik, pikir Jaehyun, sembari menaiki lift.
:
Johnny telah menunggu bersama secangkir kopi hangat. Jaehyun tertawa pada diri sendiri dan mengingat tentang hubungan mereka yang telah berubah menuju titik ini. Ia menatap sekitar sambil menyesap kopi. Tempat itu menarik dan enak untuk ditinggali. Terasa nyaman dengan hiasan benda-benda khas Thailand. Ada banyak warna kayu cokelat alami, dan sebuah tikar buatan tangan yang menutupi lantai ruang tamu. Ada juga barang-barang milik Johnny; Jaehyun tahu bahwa bingkai foto Chicago Bulls berukuran besar adalah milik pemuda itu, begitu juga poster band-band Amerika yang tertempel di sepanjang lorong.
"Ada apa, Jaehyun?" Johnny tidak sedang dalam situasi hati yang tepat untuk basa-basi. Ia tahu Jaehyun sedang ingin mengungkapkan sesuatu yang tertahan dalam dadanya.
Jaehyun memandang ke luar jendela. "Johnny, apa kau pikir aku hanya bisa menyembuhkan orang?" Ia kembali beralih pada pemuda tinggi yang bersandar di ambang pintu.
"Apa maksudmu?" tanya Johnny.
"Kau tahu maksudku. Kau jelas tahu lebih dari siapa pun. Kita bersama ketika kau sedang dalam masa-masa sulit. Tepat ketika kau sudah merasa baik-baik saja, segala hal di antara kita jadi memburuk. Aku khawatir, Johnny. Ketakutan, sebenarnya. Apa yang harus kulakukan ketika Taeyong tidak lagi membutuhkanku?" Air mata memenuhi netranya ketika ia memandang ke arah kota di balik jendela. Menahannya agar tak jatuh sebelum kembali menoleh pada Johnny.
"Dia sudah lebih baik. Sudah jauh lebih kuat. Setiap hari dia jadi lebih berani, lebih bahagia, dan percaya diri. Dan setiap hari, dia semakin tidak membutuhkanku. Dia lebih banyak melakukan segala sesuatu seorang diri." Jaehyun duduk di atas sofa dan Johnny duduk di sebelahnya, meremas bahunya.
"Jae, memang sudah seharusnya begitu. Aku mencintai Ten, tapi dia selalu keluar bersama teman-temannya ke studio tari. Nanti, dia akan menghadiri kelas. Baru kemudian pulang ke rumah, kepadaku. Sekarang aku duduk bersamamu di sini, nanti akan keluar dan membeli jaket baru. Dan ketika pulang beberapa saat kemudian, Ten sudah di sini. Dan kami akan berbincang-bincang, bercerita, membahas hal-hal random. Itu normal, Jae. Sehat, kok. Cinta tidak hanya tentang memperbaiki pasangan. Dan ketika mereka sudah lebih baik, bukan berarti cinta berakhir."
Johnny mendesahkan napas keras. Semua ini bukanlah hal baru. Ia sudah melaluinya bersama Jaehyun, dan berharap pemuda itu akan mendengarkan perkataannya.
"Belajarlah mencintai dari sisi lain, Jae. Cintai sosoknya yang akan datang. Cintai Taeyong yang kuat dan percaya diri sebagaimana kau mencintainya yang lemah dan rapuh. Tolong jangan sia-siakan semua." Seperti kau menyia-nyiakanku, adalah akhir dari kalimat yang tak terucap. Meski begitu, mereka sama-sama paham.
Jaehyun berjalan pulang. Ia menghindari sopir pagi ini, memilih pergi berjalan kaki seorang diri ke apartemen Ten dan Johnny. Ketika melangkah di tengah angin dingin siang hari, ia memikirkan apa yang Johnny katakan tadi. Jaehyun tahu bahwa ialah alasan mengapa hubungan di antara mereka berakhir gagal. Sepanjang waktu ini, ia hanya mengurusi si cantik cacat tanpa menyadari bahwa dirinya pun rapuh dan rusak.
Jaehyun mencapai rumah dan langsung membeku hingga ke inti. Taeyong tengah menunggunya.
"Dari mana saja? Kau bahkan tidak pamit." Taeyong menyadari pemuda itu menggigil. "Di luar dingin. Jangan bilang kalau kau jalan kaki? Kenapa harus begitu kalau ada sopir yang siap mengantarmu ke mana pun?"
Jaehyun mengedikkan bahu. Ia sudah menjadi sangat kekanakan dan menyadarinya. Ia pantas kedinginan.
Taeyong mengisi bathup dengan air hangat. Jaehyun pernah membantunya menggunakan benda ini, sehingga menjadi hal yang baik ketika ia membantu pemuda itu kali ini. Taeyong sadar ada sesuatu yang salah, tetapi tak tahu bagaimana menanyakannya.
Ia menggandeng tangan si pemuda bersurai lembut dan membawanya ke kamar mandi. Membantu melepas pakaian dan merasa puas ketika Jaehyun yang gemetar membenamkan diri ke dalam air hangat.
"Jaehyun, kau harus bicara padaku. Aku tidak bisa mengerti kecuali kau mengatakan apa yang salah." Taeyong mengusahakan yang terbaik untuk mengeluarkan suara menenangkan sebagaimana milik Jaehyun. Jaehyun membenamkan wajah ke lengan dan ketika mendongak, air mata mengisi maniknya.
"Aku takut," katanya, seiring dengan kesedihan mengalir membasahi pipi. "Aku takut hanya akan mencintaimu ketika kau dalam kondisi hancur. Kau yang lebih baik membuat peranku jadi tak berguna. Aku takut kau akan sembuh, dan tidak ada lagi tempat untukku." Ia menutup mata lagi.
Jaehyun merasa bahwa volume air hangat meningkat dan ketika ia membuka mata, Taeyong sudah berada di dalam air bersamanya.
"Aku akan selalu rusak, Jaehyun." Taeyong memosisikan diri di antara kedua kaki Jaehyun dan menekan punggungnya ke dada pemuda itu. "Aku tidak bisa sembuh dan akan selalu jadi orang yang payah. Tapi aku ingin merasa cukup baik untuk membangun kehidupan bersama di mana kita bisa melakukan hal-hal normal." Ia memutar kepala dan menangkup pipi si pemuda. "Seperti berciuman di bibir. Meminum kopi dan pergi ke pantai."
Bibir Taeyong mendarat pada milik Jaehyun, menciumnya dengan penuh gairah, sementara lidahnya menjelajahi mulut si pemuda.
"Aku bahkan tidak mau sembuh sampai aku bertemu denganmu. Aku tidak butuh apa pun, hanya ingin tetap dengan kehidupan yang berantakan. Sekarang ketika aku memilihmu, aku merasa ingin memiliki hidup yang benar-benar hidup."
Tangan Jaehyun bergerak dengan sendirinya menuju rambut Taeyong. "Aku mencintaimu," suaranya berat; beremosi. "Aku mencintaimu yang rusak dan mencintaimu yang kuat. Aku hanya berharap kau bisa mencintai sisi rusak dari diriku juga."
Taeyong mengangguk dan menekan kening pada milik Jaehyun. Tenggelam bersama pemuda itu di dalam air hangat, merasa lebih kuat dari apa yang sudah terlewat.[]
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Cure [Bahasa]
ФанфикшнTaeyong adalah lelaki cacat dan Jaehyun adalah sosok yang andal memperbaiki hati yang rusak. Akankah itu cukup untuk membuat mereka tetap bersama, atau akankah segalanya lantas memisahkan mereka? -- Terjemahan fanfiksi Jaeyong karya abnegative (yo...
![[✔] Cure [Bahasa]](https://img.wattpad.com/cover/216228909-64-k668989.jpg)