Enam hari berlalu. Enam hari panjang yang Jaehyun lalui dalam kegiatan dan kehidupan biasa. Pergerakan kosong tanpa suara Taeyong. Dia bekerja. Belajar. Mengontrol diri sendiri. Tahu bahwa membuat Taeyong menunggu akan membuahkan hasil. Menggunakan emosi lain untuk mengesampingkan kecemasannya tampak sebagai strategi yang sukses. Namun Jaehyun sudah cukup menunggu. Sudah saatnya untuk mendorong lelaki itu melakukan sesuatu lagi.
Hari ini, 8:19 PM
Apa kau punya waktu besok?
Hari ini, 8:19 PM
Selalu punya waktu untukmu :) Bisakah kita pergi ke kedai kopi?
Hari ini, 8:21 PM
Aku punya sesuatu yang lain. Bisa temui aku di tempat kerja jam 2 siang?
Hari ini, 8:22 PM
Tentu. Sampai jumpa
Jaehyun terlalu berangan tinggi. Dia tidak yakin apa Taeyong sudah siap untuk pergi ke tempat selain kedai kopi—toko buku, tetapi mereka akan mencari tahu.
:::
Taeyong meringkuk di atas ranjang dengan tangan memegang ponsel.
Enam hari terakhir benar-benar hari di mana emosinya campur aduk. Mereka tidak bicara sejak kejadian di shower. Ia ingin mengirim pesan teks ribuan kali, tetapi juga ingin Jaehyun tahu bahwa ia adalah lelaki yang kuat. Ia sudah meminta Jihoon untuk menyediakan pekerjaan agar ia bisa tetap sibuk, dan Jihoon mengatur beberapa interview jarak jauh dan juga pemotretan majalah. Pemotretan dilakukan di apartemennya, yang mana membuat Taeyong lebih mudah menjalaninya, walau keesokan hari ia harus membersihkan seluruh rumah. Hal-hal itu mengisi waktunya, sampai pesan teks Jaehyun masuk beberapa menit lalu. Taeyong tidak sabar untuk besok.
:
Lelaki itu bangun sangat pagi keesokan harinya, lalu bekerja di studio apartemen sampai pukul dua belas. Ia terbangun dengan banyak ide di kepala dan hanya ingin merealisasikan ide itu secepat yang ia bisa.
Ketika sudah waktunya untuk menemui Jaehyun, Taeyong membersihkan diri dan memilih pakaian. Ripped jeans, kaus hitam dan hoody hitam menjadi pilihan. Ia senang bahwa udara sudah semakin terasa dingin. Orang-orang menatapnya aneh ketika ia berdandan seperti itu di musim panas. Tetapi, ia tiba-tiba memikirkan hal lain.
Taeyong mengacak lemari besarnya, menemukan terlalu banyak pakaian yang baru digunakan sekali untuk panggung atau jadwal-jadwal lain, pakaian yang diberikan setelah pemotretan, baju-baju yang dikirim oleh perusahaan. Ia menemukan celana panjang cokelat dan memilih untuk mengenakannya. Ia kemudian mencari sesuatu: kaus v-neck putih, pun mengenakannya. Sebagai sentuhan akhir, Taeyong menambahkan kupluk dan hoody hitam sebelum ke luar, sadar bahwa akan tetap membutuhkan mereka.
:::
Jaehyun menunggu di luar klinik. Ia hampir tidak menyadari Taeyong berjalan ke arahnya. Lelaki itu tampak luar biasa. Meninggalkan ripped jeans yang biasa dikenakan, berikut kaus berwarna senada. Ia berjalan ke arah Jaehyun dalam balutan celana cokelat panjang dan kaus v-neck putih yang mempertontonkan lekuk pinggang dan bentuk tubuhnya. Ia membawa hoody hitam di tangan, serta ransel di sebelah pundak. Kupluk dan masker hitam menyembunyikan identitas. Jaehyun belum pernah melihat lelaki itu dalam tampilan seperti ini. Terlihat bagai sosok yang keluar dari majalah.
Untuk pertama kali sejak bertemu Taeyong, Jaehyun merasa amat berkekurangan. Ia menatap pada apa yang ia kenakan dan merasa kecewa.
Untuk pertama kali sejak bertemu Taeyong, Jaehyun memandang lelaki itu sebagai TY, si rapper terkenal.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Cure [Bahasa]
FanfictionTaeyong adalah lelaki cacat dan Jaehyun adalah sosok yang andal memperbaiki hati yang rusak. Akankah itu cukup untuk membuat mereka tetap bersama, atau akankah segalanya lantas memisahkan mereka? -- Terjemahan fanfiksi Jaeyong karya abnegative (yo...
![[✔] Cure [Bahasa]](https://img.wattpad.com/cover/216228909-64-k668989.jpg)