Bab 8 :: Klinik

1.4K 229 13
                                        

Jaehyun menangkap Taeyong ketika lelaki itu jatuh pingsan. Ia tahu Taeyong tidak akan senang akan ini, tapi Jaehyun tidak punya pilihan. Ia menelengkan kepala dan mencari ponselnya.

"Wendy, ini Jaehyun. Bisa kau buka kunci pintu klinik bagian samping? Akan kujelaskan nanti." Ia menyudahi panggilan.

"Taeyong, aku tahu kau tidak akan senang dengan ini, tapi kau harus memakluminya." Ia berbisik di telinga si lelaki.

Menggantungkan ransel Taeyong ke pundaknya, ia meraih si lelaki ke dalam gendongan dan berdiri. Diam-diam berterima kasih pada Johnny karena sudah membawanya ke gym untuk kemampuan ini.

Taeyong sudah berada dalam gendongannya. Bobot lelaki itu terlalu ringan. Jaehyun mengatasi berat badannya dengan mudah dan membayangkan bahwa lelaki ini tidak mengonsumsi makanan sebanyak apa yang diperlukan. Ia berjalan menuju kampus dengan Taeyong dalam gendongan. Merasa lega karena waktu sudah hampir sore sehingga tidak banyak orang di sekitar. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan tidak penting.

Taeyong bermimpi bahwa tubuhnya terayun dalam gendongan seseorang seperti bayi. Ia merasa hangat, lebih hangat daripada apa yang pernah dirasakan. Hangat dan aman.

Jaehyun mencapai klinik dan senang ketika menemukan pintu samping tak terkunci. Ketika ia masuk, Wendy muncul dari ruangan lain. Wajahnya meredup ketika menemukan seseorang tak berdaya dalam dekapan Jaehyun. "Jae, apa dia baik-baik saja?"

"Ya, Wendy. Dia hanya pingsan. Gula darah rendah." Jaehyun memandang Wendy dengan tatapan yang langsung dimengerti oleh gadis itu. Ia pun melangkah kembali ke balik meja sembari bergumam.

Jaehyun membawa Taeyong ke salah satu ruang periksa yang kosong. Membaringkan tubuh si lelaki secara perlahan di kasur lalu berbalik untuk menutup dan mengunci pintu, pun setelahnya kembali ke sisi Taeyong.

Jaehyun bernapas kasar. Taeyong terlihat bagai malaikat yang tertidur. Ia melepas kupluknya, mengusap lembut rambut lelaki itu. Taeyong benar-benar indah. Ia jadi membayangkan bagaimana kalau ia menindih dan mencium bibirnya, akankah si lelaki ingat ketika bangun nanti? Menampis pemikiran itu, Jaehyun beranjak dan berjalan menjauh.

"Jae, apa yang salah denganmu?" ia berbisik pada diri sendiri.

Jaehyun berbalik dan melihat kelopak mata Taeyong yang mengepak, membuatnya bergerak cepat ke samping lelaki itu. "Taeyong, maaf. Aku tadi menggendongmu," akunya cepat.

"Kau menggendongku? Kau menyentuh kulitku?" Taeyong mencoba bangkit tetapi kembali berbaring.

"Tidak, tidak. Hanya bajumu."

Taeyong tampak lega. "Oke. Apa kau benar-benar menggendongku ke sini? Di mana aku?" Ia tiba-tiba duduk dan langsung melihat sekitar dengan panik.

"Tidak apa-apa. Kita di klinik. Semua bersih," kata Jaehyun. Ia duduk pada kursi di samping ranjang. "Maaf, Taeyong. Aku sebenarnya menyentuhmu. Aku menyentuh rambutmu. Aku lupa. Aku terbuai. Bisakah kau memaafkanku?" Rasa bersalah mengambang di wajah Jaehyun, seolah ia baru saja menghancurkan kepercayaan Taeyong.

Taeyong tersenyum lemah. "Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu."

Jaehyun meleleh. Ia sudah jatuh terlalu cepat dan terlalu dalam pada lelaki indah nan rapuh ini.

"Maaf," kata Taeyong. "Aku seharusnya tidak menatapmu di toko buku. Aku juga terbuai, jadi tidak bisa mengontrol diri dan mengacaukan hari kita. Aku ingin kita bersenang-senang, membelikan buku dan melihatmu tersenyum padaku. Aku menyukai tamannya. Indah. Dan aku mengacaukan semua." Taeyong mulai menangis, membuat Jaehyun ingin semakin menyakiti lelaki itu. Ironi.

Ia bergerak sedekat mungkin tanpa menyentuh kulit si lelaki. "Taeyong, kau menegang hanya karena menatap tubuhku, kan?"

Napas Jaehyun terasa hangat di telinganya, membuat lelaki itu merasakan hangat di sekujur tubuhnya.

"Dan kau tahu aku sudah menyentuh pakaianmu, kan?"

Taeyong mengangguk.

"Oke. Aku akan menyentuhmu lagi. Jika kau merasa kecemasan sudah di luar ambang batas, kau bisa menyuruhku berhenti dan aku akan berhenti. Kau ingin mencoba ini?"

Ia memejamkan kedua mata dengan erat dan mengangguk.

"Aku tidak akan menyentuh kulit telanjangmu. Mengerti?" Napas Jaehyun semakin hangat seiring dengan langkah yang semakin dekat. "Suatu hari kau akan memohon akan sentuhan dan ciumanku di tubuhmu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, Taeyong."

Jaehyun melarikan tangan menuju dada Taeyong. Ia mampu merasakan kekakuan si lelaki atas sentuhannya, tetapi tidak ada protes. Ia mengusap perut rata Taeyong dengan satu tangan.

"Ingat untuk bernapas," perintah Jaehyun. Hasratnya sudah terbuai. Ia menggerakkan tangan naik menuju dada Taeyong dan membiarkan jempolnya berputar di sekitar puting lelaki itu. Napas Taeyong memendek seiring dengan puting yang mengeras di balik baju. Jaehyun menaiki ranjang sempit itu dan menindihnya.

"Buka matamu. Aku ingin kau menatapku."

Taeyong melakukan apa yang diperintahkan. Ia menatap kedua mata Jaehyun seiring dengan tangan si pemuda yang bergerak semakin turun dari dadanya.

Jaehyun mengusap paha bagian dalam lelaki itu, dan ketika ia bergerak naik, ia merasakan ereksi Taeyong yang menggembung di balik celana.

"Tubuhmu tahu apa yang dia inginkan. Aku akan memberikannya padamu, Taeyong. Mengerti?" Manik kecokelatannya menatap si lelaki hingga sosok itu mengangguk sebagai pengiyaan.

"Aku sangat berharap bisa menciummu." Jaehyun mengembuskan napas di sekitar leher Taeyong. Ia berbaring di sisi Taeyong, dan Taeyong bisa merasakan ereksi pemuda itu yang menggesek sisi tubuhnya, seiring kaki mereka yang saling bersentuhan.

Kecemasan Taeyong meningkat pesat, begitu pula nafsunya. Jaehyun menurunkan ritsleting celana dan dengan cepat memasukkan tangan ke dalamnya tanpa memberi kesempatan bagi Taeyong untuk protes. Pemuda itu mengusap kemaluannya di balik celana, sementara ia menggelinjang. Tangan Jaehyun bergerak sama cepat dengan napas memburu Taeyong.

"Aku akan membuatmu klimaks, Taeyong. Aku akan membuatmu klimaks ratusan kali jika memang itu yang dibutuhkan." Ia menggerakkan tangan dengan cepat. "Aku akan membuatmu mencintaiku, menginginkanku." Taeyong mendesah dan melenguh. "Sst ... Jangan biarkan Wendy mendengarmu." Jaehyun memperingatkan tetapi tidak mengurangi kecepatan tangannya.

Tubuh Taeyong mengejang dan ia melenguh ketika mengeluarkan cairan di seluruh celana dalamnya. Terengah-engah, ia meraup udara sebanyak-banyaknya, dan ketika napas berubah stabil, Taeyong menyadari bahwa ia benar-benar kotor.

"Bantu aku, Jaehyun." Dia panik. "Aku butuh ranselku."

Jaehyun memberikan ransel padanya. Taeyong mengacak-acak isi tas dan dengan cepat mengeluarkan tisu basah, tisu dan celana dalam baru yang masih terbungkus secara higienis. "Tolong, jangan lihat aku." Matanya memohon, membuat Jaehyun memunggunginya. Taeyong pun segera membersihkan diri.

"Aku bahkan tidak bermaksud meminta maaf." Jaehyun berkata seiring dengan tubuh yang membelakangi Taeyong. "Aku memang bermaksud melakukannya. Aku tidak bisa terus-terusan berada di sekitarmu, Taeyong. Aku berusaha membantu tapi juga sangat menginginkanmu. Aku ingin kau menginginkanku juga. Aku ingin kau mencintaiku."

Kesedihan mengisi mata Jaehyun seiring dengan rasa bersalahnya. Apakah ia membantu Taeyong atau malah membuat keadaan lelaki itu semakin buruk? Ia berbalik dan melangkah mendekati ranjang, duduk di sisinya. Tidak berhasil. Dua butir air mata mengalir membasahi pipi. Namun, ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat. Membuka mata, Jaehyun terkejut saat melihat Taeyong yang kini duduk di pangkuannya.

"Kau membantu." Si lelaki rapuh berbisik seiring dengan tangan kurus yang melingkar di pinggang Jaehyun. "Dan itu berhasil. Kurasa kau membuatku jatuh cinta padamu."[]

[✔] Cure [Bahasa]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang