Bab 18 :: Sakit

1.3K 175 15
                                        

Jaehyun membayangkan dirinya yang harus bekerja di musim salju. Ia akan membutuhkan mantel baru, sebab tahun ini akan lebih dingin ketimbang biasa. Ia kemudian mengecek ponsel dan tidak menemukan satu pun pesan baru.

Jaehyun belum mendapat kabar dari Taeyong sejak pertemuan mereka di kedai kopi, yang mana empat hari lalu. Ia tahu bahwa lelaki itu mungkin saja sibuk, dan berpikir bahwa Taeyong tengah memberi sedikit jarak sehingga ia bisa lebih fokus pada kuliahnya. Tetapi ia merindukan lelaki itu. Dan sangat tidak biasa bahwa Taeyong tak mengiriminya satu pun pesan.

Jaehyun duduk di balik meja, merasa bosan harus berurusan dengan beberapa klien juga telepon yang terus-terusan berdering. Ia sesekali mencuri kesempatan supaya bisa membuka buku materinya sehingga tidak ketinggalan pelajaran. Ia pun memutuskan untuk menghubungi Taeyong setelah selesai bekerja, membuat waktu untuk bertemu walau hanya beberapa saat. Jaehyun sangat merindukannya. Setiap menit tanpa Taeyong sama dengan setiap menit jantungnya yang terbelah dua.

Jaehyun menelepon setelah waktu kerja usai, hanya demi mendapati Taeyong yang tidak memberi respons sama sekali. Jaehyun mengirim pesan setelah makan malam, tetapi masih juga tanpa balasan. Ia merasa sedih, lantas beranjak menuju ranjang.

Masih tidak ada respons di hari kelima. Jaehyun mulai berpikir mengenai kemungkinan bahwa ponsel lelaki itu tengah bermasalah. Dan ketika di hari keenam masih berstatus sama, ia mulai merasa khawatir. Hari ketujuh, Jihoon menemuinya di klinik.

"Jaehyun, aku perlu bicara denganmu," katanya.

Rasa dingin berlari di seluruh tubuh Jaehyun. Mereka berjalan ke luar klinik.

Jihoon terlihat seperti orang yang kurang tidur, mengusapi rambutnya yang tak beraturan. "Jaehyun, kita punya masalah besar."

:::

Taeyong duduk di ujung sofa. Setiap ponselnya berbunyi, ia tersentak. Ibunya menatap hal itu dengan curiga.

"Siapa yang mengurusmu selama aku tak ada?" tanya wanita itu. Ia berubah, tampak sepuluh tahun lebih tua, juga kurus dan kelabu.

"Tidak ada. Aku sendiri." Tangan Taeyong bergetar. Ia menggesek-gesekkannya tanpa henti, menciptakan luka lecet baru. Ia mengubah ponsel dalam mode hening, sehingga wanita di depannya tidak akan tahu perihal Jaehyun.

"Kau berkelakuan buruk. Lihat betapa sakitnya dirimu. Gemetaran dengan tangan-tangan yang tampak buruk. Siapa doktermu?" Wanita itu menatap tangan Taeyong, di tempat jejak pecah-pecah juga luka gores berdarah.

"Sudah makan? Biar kusiapkan sesuatu untukmu makan."

Taeyong ingin menggeleng tatpi ia tidak memiliki kekuatan untuk itu. Ia duduk diam selama yang ia mampu.

"Apa yang mau kau makan?" tanya wanita itu lagi, sambil melihat ke dalam kulkas.

"Aku mau panekuk dengan krim," suara Taeyong terdengar pelan.

"Kau tidak boleh makan panekuk. Kau alergi gluten dan susu. Mau bunuh diri?"

Wanita itu meletakkan sepotong apel ke atas piring dan menyodorkannya ke arah Taeyong. "Makan," katanya.

Pikiran Taeyong sontak kembali pada masa di mana ia sama sekali tidak bisa menolak.

:::

Taeyong berbaring di atas kasur, terjaga, sambil memandang langit-langit. Ia merindukan boneka beruang favoritnya. Ibunya bilang benda itu mengandung debu dan bisa mengakibatkan asma. Padahal itu adalah satu-satunya mainan yang tersisa. Sekarang, ia hanya sendiri. Perutnya bergemuruh akibat lapar, dan ia merasa lebih baik.

[✔] Cure [Bahasa]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang