Taeyong seolah bersembunyi dalam sebuah bola, merasa ingin menghilang. Ia bagai kembali menjadi bocah berusia enam, dengan tusukan yang terasa samar di lehernya. Beragam suara terdengar dari kejauhan, tetapi yang tertangkap hanya gaung seperti ketika ia berada di bawah air. Air mata meledak tanpa suara.
Kau sakit. Kau lemah. Kau tidak cukup baik. tidak ada seorang pun yang mencintaimu selain aku. Tidak ada yang akan merawatmu seperti aku merawatmu.
Insektisida, obat, tes lab, dan rasa sakit. Aku akan menghancurkanmu. Aku akan menghancurkan dia.
Apel. Dia benci apel.
:::
Jaehyun terpaku. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Untuk pertama kali dalam hidup, ia merasa tidak berguna. Johnny muncul di sampingnya dan meraih tangannya.
"Sudah panggil polisi?" Jaehyun berbisik padanya.
"Ya. Ten bilang mereka sedang dalam perjalanan."
Jaehyun hanya harus membuat wanita itu bertahan menyuntik Taeyong. Berapa lama yang ia butuhkan?
Jaehyun melangkah keluar dari kerumunan. Wanita itu mencengkeram baju Taeyong semakin kuat ketika melihatnya, membuat Taeyong tercekik. Jaehyun mampu melihat bahwa lelaki itu tersiksa dengan napas yang berubah kasar. Berapa lama lagi waktu yang ia punya?
"Taeyong," Jaehyun memanggil dengan suara lembut. "Aku di sini. Semua akan baik-baik saja. Bertahanlah."
Wanita itu mencengkeram semakin kuat dan mulai memelintir kain dalam genggamannya. Jaehyun berubah panik.
"Lepaskan dia. Kau akan membunuhnya," suaranya goyah.
"Aku tahu." Wanita itu tertawa. "Lebih baik dia mati. Kau tahu, dia tidak akan pernah sembuh. Kau tidak bisa memperbaikinya. Tidak ada yang bisa." Ia melirik cairan dalam suntikan. "Dia membutuhkan obat ...."
Pikiran wanita itu memudar untuk beberapa saat. Jaehyun sekarang mengerti. Wanita ini harus terus dialihkan perhatiannya.
:::
Taeyong mendengar sebuah suara, suara yang familier, sebuah suara menenangkan. Ia tahu suara itu. Suara debur ombak pantai. Suara musik dan tawa, panekuk dan toko buku, suara derik api serta cinta dan kekuatan. Ia mencari suara itu lagi, hal yang mampu menyalakan api dalam jiwanya. Dirinya seolah kembali. Tenggorokan dan matanya seolah terbakar, terasa seperti disiram air garam, tetapi lebih tak menyenangkan. Pikirannya menjadi lebih jelas seiring waktu. Api dalam diri berkobar-kobar.
Taeyong membuka mata. Ia menyadari apa yang terjadi. Wanita itu tengah mencekiknya. Jalang ini mencoba membunuhnya.
Jaehyun memandang horor seiring dengan cengkeraman wanita itu yang semakin kuat. Tiba-tiba Taeyong tersadar. Insting bertahan hidup membara, sehingga ia meraih dan memelintir tangan ibunya, sampai wanita itu melepas cekikan dari lehernya.
"Persetan kau!" Taeyong meneriaki wanita itu. "Lepaskan aku. Aku membencimu!"
Tangan si monster yang memegang jarum suntik tiba-tiba kembali mendekati tubuh Taeyong. Jaehyun memanfaatkan kesempatan pendistraksian itu untuk mengambil tindakan. Ia berlari ke arah mereka dan meraih tangan si wanita yang memegang suntikan. Wanita itu memberontak, tetapi berusaha melawan dua orang pria tersebut, di saat bersamaan mengurangi kekuatannya. Suntikan jatuh ke tanah bersamaan dengan suara sirine yang terdengar di kejauhan.
"Ini belum berakhir. Tidak akan pernah berakhir."
Wanita itu tertawa dan menepis pegangan Jaehyun. Ia berlari dengan Jaehyun yang mengejarnya. Segala hal harus berakhir. Taeyong tidak bisa hidup dengan terus dihantui hal ini. Lelaki itu harus terlindungi dari wanita yang tidak mau enyah ini.
"Berhenti!" Taeyong berseru ke arah Jaehyun. "Biarkan dia pergi. Kembali. Kumohon, kembali!"
Namun, Jaehyun mengabaikannya.
Pemuda itu terus mengejar si wanita melintasi kampus dan area parkir. Ketika mereka mencapai jalan utama, wanita itu berhenti dan menoleh padanya.
"Sudah kubilang agar kau jauh-jauh darinya. Sudah kuingatkan agar tidak berusaha mencintainya. Dia membutuhkanku. Hanya aku. Sudah kubilang aku akan menghancurkanmu."
Wanita itu tertawa sambil meraih Jaehyun dan mengempas tubuh keduanya ke tengah jalan. Hal terakhir yang Jaehyun ingat adalah decitan rem dan lengkingan dari si monster.
:::
Taeyong berusaha mengejar Jaehyun dan wanita itu, tetapi tertahan akibat masalah pernapasan. Leher dan tenggorokannya serasa terbakar. Seseorang datang dan berusaha membantunya.
"JANGAN MENYENTUHKU!" teriaknya, bahkan tidak tahu pada siapa.
Taeyong terhuyung ke arah Jaehyun dan ibunya berlari. Ia bisa melihat mereka dari kejauhan. Jaehyun sudah menangkap wanita itu. Mereka bertengkar, saling memberontak. Taeyong berteriak ketika melihat mereka menghilang di depan sebuah mobil. Para polisi datang tepat pada waktu si monster menarik Jaehyun ke depan sebuah mobil.
Dunia jadi hening. Orang-orang membuat kerumunan baru. Para polisi dan paramedis berlalu-lalang. Penonton. Media. Taeyong jadi panik.
Johnny bergerak dan mengontrol keadaan. Ia menuntun Taeyong ke arah salah satu ambulans, menjelaskan pada petugas paramedis mengenai siapa Taeyong, apa yang telah terjadi dan bantuan macam apa yang lelaki itu butuhkan. Si petugas mengerti. Ia menutup pintu mobil tempat Taeyong berada setelah Johnny pergi.
"Tn. Lee, kami akan membawa Anda ke rumah sakit."
Taeyong menggeleng. "Di mana Jaehyun? Aku membutuhkannya. Di mana wanita itu?" Tubuh kecilnya yang rapuh bergetar.
"Anda bisa melihatnya ketika kita sampai di sana," si petugas medis berkata lembut. Pintu tertutup dan mereka berkendara melintasi kota.
:::
Jihoon menunggu sampai pintu ambulans terbuka.
"Taeyong, kau baik-baik saja?"
"Di mana Jaehyun?" Taeyong bahkan tidak menjawab pertanyaan sebelumnya. Hanya satu hal yang berarti untuknya saat ini.
"Dia di ruang operasi. Aku minta maaf, Taeyong."
Taeyong hancur. Di lobi ruang darurat, ia hancur berkeping-keping. Lelaki itu menangis, tidak bisa bernapas, merasa kembali tenggelam. Ia mengingat air asin dan toko buku, panekuk dan restoran. Ia berjuang melawan segala hal dan membentuk setiap bagian dari dirinya kembali. Taeyong kuat sekarang. Ia harus.
Taeyong membiarkan Jihoon menuntunnya menuju ruang tunggu, sambil membiarkan seseorang mengecek keadaannya. Orang-orang asing menyentuhnya, tetapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah satu: Jaehyun.
Ny. Jung berlari memasuki ruang tunggu dan Taeyong langsung jatuh dalam dekapannya. "Aku minta maaf. Ini semua salahku." Lelaki itu menangis lagi.
"Tidak. Bukan." Wanita itu tersenyum padanya dan ketika Taeyong menatap senyuman penuh cinta itu, ia kembali merasa rapuh. "Jaehyun selalu kuat untuk orang lain. Sekarang, kita yang harus kuat untuknya, Taeyong."
Taeyong tahu Ny. Jung benar.
Tak lama, dokter pun keluar dan bicara pada mereka. "Dia mengalami cedera di kepala akibat benturan keras. Kami harus melakukan operasi untuk mengeluarkan tekanan di otaknya. Tidak ada pendarahan internal. Dia sekarang koma dan kami berharap dia akan segera sadar. Ini tidak terduga. Aku minta maaf karena tidak punya kabar baik, tapi kita harus tetap menunggu dan memantau perkembangannya."
Taeyong menguatkan diri sendiri. "Aku ingin melihatnya."
"Kami minta maaf," kata si dokter. "Hanya pihak keluarga yang diperbolehkan."
Ny. Jung berdeham. "Maaf? Tidak ada keluarga yang lebih berarti bagi putraku kecuali lelaki ini. Taeyong adalah keluarganya. Kau harus membiarkannya masuk."
Dokter itu menolehkan pandang dari Ny. Jung, tiba-tiba gentar, dan memandang kembali pada si lelaki cacat. "Baik. Tapi masuklah bergiliran." Si dokter kemudian menuntun mereka menuju ruangan Jaehyun.[]
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Cure [Bahasa]
FanfictionTaeyong adalah lelaki cacat dan Jaehyun adalah sosok yang andal memperbaiki hati yang rusak. Akankah itu cukup untuk membuat mereka tetap bersama, atau akankah segalanya lantas memisahkan mereka? -- Terjemahan fanfiksi Jaeyong karya abnegative (yo...
![[✔] Cure [Bahasa]](https://img.wattpad.com/cover/216228909-64-k668989.jpg)