Part XXI [Rencana Junior]

2.5K 149 4
                                        

***
Prilly's POV

    Aku tersenyum melihat bayangan diriku di cermin, ah calon mama muda yang kece, hehehe. Kami semua sedang sibuk membantu persiapan pernikahan ka Emily yang akan dilaksanakan sebulan lagi. Usia kandunganku sudah memasuki bulan kedua dan kemarin aku baru memeriksakan kandunganku, sendiri tentunya. Perlahan namun pasti aku harus bisa menghadapi situasi seperti ini, tidak mungkin aku terus-terusan menangis dan mengurung diri meratapi nasib, aku sadar itu tidak akan pernah memberikan solusi apapun.

    Hari ini aku akan ke boutique mamaku untuk mem-fitting gaun dan kebaya yang nanti akan aku gunakan di acara akad dan resepsi pernikahan ka Emily. Aku tidak diantar oleh Oscar seperti biasanya karena dia masih harus menunggu kepulangan ka Dominique dan Helena di bandara. Jadi aku berangkat hanya di antar oleh supir biasa.

    Sa'at di perjalanan tidak sengaja mobilku terjebak macet dekat sebuah gang, aku ingat sekali di dalam gang itu ada banyak sekali para pedagang kaki lima yang menjual pernak-pernik sekolah dan hiasan kamar.

    "Mang nanti cari tempat buat parkir di depan yah, Prilly mau turun ke situ" ucapku menunjuk ke arah gang itu.

    "Jangan atuh non, itu bahaya jangan atuh" oh mang Didi kau terlalu parno.

    "Prilly udah biasa kok ke sini pas dulu masih sekolah"

    "Itu kan dulu non, sekarang kan lagi ada bayi dalam perut non maksud mang teh hamil"

    "Hehehe enggak apa-apa kok mang tenang aja" tak mau mendengar jawabannya lagi aku pun turun setelah memastikan tidak ada kendaraan lewat.

    Aku menyusuri jalanan ramai ini sambil memperhatikan sekitarnya, terakhir kali aku ke sini sa'at aku duduk di banku SMP dan sekarang sudah banyak yang berubah. Aku berhenti di salah satu toko kecil dan menatap ke dalamnya, aku ingin lihat apa pemilik toko ini masih sama?
    Sa'at sedang memperhatikan tak sengaja aku melihat ke arah ujung jalan ini, lelaki yang kutabrak beberapa hari lalu juga ada di sana, sedang apa dia?

    Entah mengapa aku pun melangkah untuk mendekat ke arahnya, kali ini dia tidak menggunakan kaca-mata.

    "Ma'af om yang waktu itu kan?"

    Seperti sebelumnya, dia tidak menjawab malah balik menatapku. Tapi tunggu! Aku seperti melihat sesuatu dari tatapannya, antara kenal dan argh, aku tidak mau berburuk sangka.
    Karena dia tidak menyahut maka aku pun beranjak pergi tapi sebelum itu dia bersuara.

    "Putri Calistro" apa? Dia mengenalku dan keluargaku?

    Aku berbalik menatapnya "Om siapa? Om kenal dengan papa saya?"

    "Hahaha tentu aku mengenal penghianat itu" penghianat? Apa maksudnya?

    "Ma'af maksud om apa? Papa saya penghianat?"

    Lelaki ini memajukan langkahnya mendekat "Kamu ingin tahu? Papamu itu adalah seorang penghianat besar, bajingan"

    Aku menunduk berusaha menyembunyikan perih di hatiku, meskipun papaku itu keras tapi dia tetap orang tuaku dan aku sakit hati ketika ada yang mengatainya buruk.

    "Tapi om __" ucapku menggantung. Kemana pria tadi? Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan dalam benakku, apa dia sengaja mengikutiku atau memang kami tidak sengaja bertemu.

     Aku berbalik dan rasanya waktu seketika berhenti ketika ku dapati orang yang begitu ku rindukan berada tak jauh dariku, menatapku dengan tatapan datarnya.

     "Li" lirihku pelan, ku langkahkan kakiku ke arahnya.

     Sa'at sudah dekat bisa ku lihat jelas sorotan matanya yang dalam, aku yakin dia juga rindu padaku tapi kenapa dia tidak datang menemuiku? Pandangannya teralih pada perut rataku.

SURGA DINI [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang