***
Prilly's POV
Aku tidak tau sudah berapa jam aku menangis, mulai dari tadi siang pulang sekolah sampai kini pukul 8 malam. Tadi siang aku menghindar sewaktu Ali menjemputku dan sekarang sudah puluhan panggilan dan sms darinya yang kuabaikan, aku terlalu takut jika harus bertemu sekarang dengannya karena beberapa hal yang aku alami hari ini, mulai dari pertenkaran dengan geng Adriani serta Rebecca yang marah besar padaku dan Niki. Sebenarnya aku adalah gadis yang sudah biasa diolok dengan embel-embel anak dari seorang Pedofil tapi kali ini lebih sakit karena aku dicap sebagai gadis yang tidak benar.
"Prill buka dulu dong pintunya" arrgghh suara kakaku itu sangat mengganggu.
Terpaksa aku menghapus air-mata dan beranjak membukakan pintu untuknya karena kalau tidak bukan tidak mungkin dia akan tetap di situ sampai hari esok menyapa.
"Lo kenapa sih lama banget? Itu kenapa matanya bengkak? Hm kebanyakan baca Sinchan sih makanya mau matanya jadi kayak dia yah? Eh Prill kalau suka sih suka tapi enggak harus jadi kayak gitu juga kelesss! Kasihan kan pahatan Tuhan yang indah ini harus lo rusak hanya karena boneka kecil yang enggak tau dari mana asalnya tuh" oh Tuhan aku sedang tidak ingin bercanda. Kenapa kakaku ini harus hadir dengan sejuta celotehnya yang tak bisa kutangkap artinya sama sekali ini?
"Aduh ka udah deh! Prilly pusing. Ngapain malam-malam gini berkunjung ke kamar gue?" Aku harus to the point karena kalau tidak akan lama sekali untukku tidur.
"Yeee lo mah gak bisa diajak bawel yah, gini gue datang ke sini cuma mau ngasih tau lo sesuatu" beginilah dia, sepertinya aku harus memberi tau papa agar membuatkan ka Helen sebuah acara rumpi.
"Apaan?"
"Lo masih ingat kan sama cowok yang kita ketemu di mall itu?"
"Yang mana?"
"Aduh pikun banget sih lo" heh ini bukan pikun kak! Kau saja yang belum jelas menjelaskan "Itu yang ngobrol sama lo pas gue lagi di toilet, yang lo panggil Ali itu, ingat kan lo?" Ohhh dia. Tentu saja aku ingat ka, dia kan pacarku.
"Ya, ingat gue. Emang kenapa?"
"Lo juga masih ingat kan sama kejadian mautnya ka Dominique setahun lalu?"
Aku menganguk. Tentu aku masih sangat ingat betul bahkan semua anggota keluarga mengingatnya dengan baik karena itu adalah kejadian dimana Dominique kaka kedua kami ingin bunuh diri dengan meminum racun Sianida, tapi untung racun itu belum dicerna dengan baik sehingga belum menyerang jantung dan otaknya sehingga dia masih bisa diselamatkan. Maka dari itu aku dan ka Helen menamakan kejadian itu Kejadian Maut Dominique. Dan perlu kalian ketahui yang menjadi dasar dari kejadian itu adalah masalah pria tapi kami tidak tau siapa pria itu karena ka Dominique merahasiakannya.
"Nah ternyata cowok yang dulu buat ka Dominique hampir meninggal itu cowok itu" cowok itu? Siapa? Jangan-jangan...
"Ali?"
"Yap. Cowok Ali itu" apa? Benarkah? Bagaimana bisa?
"Lo salah kali kak" aku tersenyum getir, tidak mungkin Ali yang buat ka Dominique hampir bunuh diri.
"Aduhhhh Prilly, gue udah cari tau dari kamarnya ka Dominique. Gue cuma penasaran aja pas ketemu tuh cowok karena perasaan gue pernah lihat dia dan setelah gue selidiki ternyata benar; mereka adalah orang yang sama" tidak, tidak mungkin!
"Lo salah kak!"
"Ya ampun, nih ya gue juga pernah jalan sama ka Mini dan ketemu sama cowok itu, tapi waktu itu namanya Kingston jadi gue rada enggak yakin pas lo bilang namanya Ali. Dan lo lihat ini! Ali Kingston Junior- Dominique Besara Calistro"
Aku menatap lekat selembar foto yang ditunjukan ka Helen, yah benar. Di sana Ali sedang memeluk mesra pinggang ka Dominique dan kakaku yang balas mencium nakal pipi pria yang kini berstatuskan kekasihku, kenapa dunia sesempit ini?
"Percaya kan lo?"
Bukannya menjawab tapi aku malah menangis lagi, hatiku sakit melihat foto itu. Pria itu adalah pacarku sekarang dan aku pun tau bahwa meski kejadian itu sudah setahun lalu tapi hingga detik ini pun kakaku masih sangat mencintai Ali, itu semua terlihat dari dia yang selalu menolak para pria tajir teman papa yang ingin menjadikannya istri yang sah tapi dia menjawab ingin menunggu mantannya kembali dan orang itu Ali, kekasihku sekarang.
"Prill lo kenapa nangis sih? Hebat loh lo bisa kenal secara enggak senjaga sama tuh cowok" ya aku memang hebat ka, bahkan saking hebatnya dia adalah pacarku sekarang.
"Aarrrrgghhhh" aku masuk dan membanting pintu secara keras membuat ka Helen meneriakiku dengan sejuta jargon panasnya, tapi aku tidak perduli. Aku terlalu pusing dan sakit hati akan semua ini.
To be Continued
Jangan lupa votenya
KAMU SEDANG MEMBACA
SURGA DINI [Selesai]
Fiksi PenggemarKetika surga itu datang lebih awal karena pilihan mereka sendiri. #AliPrilly
![SURGA DINI [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/213381105-64-k823799.jpg)