Part 16

3.4K 272 21
                                        

" cukup jawab YA " ucap Al penuh penekanan

" tapi Al.... " ucap Yuki bingung

" apalagi??? Apa yang membuat kamu ragu?? " tanya Al dengan mata yang berapi-api. Yuki menatap Nina seolah menanyakan dia harus menjawab apa

" tanya hatimu yang paling dalam Yuki " ucap Nina memegang pundak Yuki seakan tau kebimbangan hati sahabatnya itu. Tatapan Yuki kembali pada Al, Al menatap Yuki penuh harap

" iya Al... " Yuki mengangguk sambil menunduk matanya berkaca-kaca

" makasih sayang " Al tersenyum penuh kemenangan lalu ia menarik Yuki dan memeluknya erat.

" I Love You " bisik Al

" I Love You to " jawab Yuki. Nina hanya tersenyum melihat kebahagiaan sahabatnya itu dia merasa diapun turut bahagia.

     Satu minggu lagi adalah hari pernikahan Yuki dan Al, mereka berdua sudah menyiapkan berbagai hal keperluan dengan penuh semangat. Semenjak keluar dari rumah sakit Al sudah mengeluarkan Nia dan tak memberi ampun untuknya karena Nia dan Giolah penyebab dia hampir kehilangan Yukinya. Dan Giopun sudah Al jebloskan ke penjara karena sudah berani-beraninya menyentuh dan mencoba melecehkan Yuki. Hari-hari itu mereka lewati bersama dengan penuh kebahagiaan.
     Hari itu jalanan cukup padat, sementara Al dan Yuki baru saja selesai berbelanja untuk keperluan pernikahannya, selama perjalanan Al tak melepaskan tangan Yuki, bahkan didalam mobil sekalipun. Apalagi dengan jalanan yang lumayan padat Al memegang tangan Yuki sambil terus menciuminya. Yuki hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu, hal itu membuat Al sadar dan menatap Yuki

" kenapa kamu tersenyum? " tanya Al sambil kembali menciumi tangan Yuki

" tangan aku keringetan loh Al, dari tadi kamu pegangin " jawab Yuki tersenyum

" aku... aku takut Yuki " ucap Al menatap Yuki

" takut ?" tanya Yuki bingung

" aku takut kamu pergi lagi, aku takut kamu salah paham lagi, aku takut kamu sedang dalam bahaya dan aku tidak ada disana itu sangat menyiksa " ucap Al menatap mata Yuki dalam. Yuki merasa tersentuh dengan semua ucapan Al

" Al.... Itu sudah terjadi, dan yang sudah terjadi tidak akan terjadi lagi. Kita sudah melewatinyakan?? Maafin aku Al, aku udah gak percaya sama kamu " ucap Yuki berkaca-kaca. Al menggelengkan kepalanya.

" ssstttt jangan nangis sayang, aku akan selalu ada buat kamu " ucap Al mencium kening, lalu kedua mata Yuki yang basah. Yuki memeluk Al erat.

" jika kamu tidak percaya padaku, aku akan terus membuatmu percaya padaku Yuki " ucap Al sambil mengusap punggung Yuki.

     Siang itu Yuki masih sibuk bekerja di perusahaan Marcell ada rapat penting yang sedang berlangsung dan Yuki cukup kewalahan menjadi sekretaris Marcell yang terlalu mengandalkannya. Hingga rapat itu selesai Yuki baru menyadari Handphonenya yang dari tadi ia acuhkan. Yuki mengambil Handphone yang sejak tadi di atas mejanya

" 88 panggilan tak terjawab"
" 99+ pesan "

" oohhhh God itu isinya semua pesan dan panggilan tidak terjawab dari Al " teriak hati Yuki ngilu
" memangnya waktu bekerja Al ia habiskan untuk menghubungiku?? Demi tuhan Al... Aku tidak bisa percaya jika itu benar-benar terjadi " gerutu hati Yuki sambil berusaha menghubungi Alnya. Namun tiba-tiba seseorang masuk tanpa permisi. Hal tersebut membuat Marcell dan Yuki kaget. Jantung Yuki rasanya berhenti berdetak ketika melihat seseorang menyerobot masuk diikuti dengan security di belakangnya.

" oohh!!!jadi kalian satu ruangan? " tanya Al. Marcell nampak mengerutkan keningnya heran.

" pak Al? " ucap Marcell bingung. Al menatap Marcell lalu menatap Yuki tajam. Rahangnya mengeras

" Al.... apa yang kamu lakukan? " tanya Yuki mendekati Al

" apa bekerja sebagai sekretaris lebih sibuk dibanding bekerja sebagai pemilik kantornya?? " tanya Al menatap Yuki tajam.

" Al..... aku mohon, jangan kaya gini " ucap Yuki setengah berbisik

" kenapa?? Kenapa hah?? " tanya Al dengan mata yang melotot. Marcell cepat mendekati Yuki dan Al

" maaf pak Al apa yang terjadi disini? " tanya Marcell masih kebingungan

" sekretaris anda begitu sibuk pak Marcell?sehingga dia tidak bisa sedikitpun melihat Handphonenya?? " tanya Al

" Al... " Yuki memegang lengan Al seolah mengatakan cukup.

" yaa... kami baru saja menyelesaikan meeting. Memangnya ada apa?? " jawab Marcell membuat Yuki tenang

" dimana tempat CCTVnya aku ingin melihat rekaman diruangan ini!! " ucap Al angkuh. Yuki hanya memejamkan matanya malu dengan sikap Al

" maaf pak Al, sepertinya.... sifat anda ini bukan seperti sifat seorang pemimpin atau pemilik perusahaan, anda nampak terlihat seperti anak ABG " gumam Marcell sambil tertawa sumbang. Emosi Al semakin memuncak. Dadanya naik turun

" aku ingin kamu keluar dari perusahaan ini!!! " tegas Al sambil melihat Marcell lalu melihat Yuki.

" maaf pak Marcell, saya permisi sebentar " ucap Yuki menarik Al keluar dari ruangan itu. Setelah dirasa aman dan jauh dari jangkauan karyawan-karyawan lain Yuki melepaskan tangan Al yang ia tarik.

" kamu bersikap seperti itu hanya akan membuatmu malu Al!! " tegas Yuki kesal. Al menatap Yuki dengan mata yang merah

" lo gak pernah bilangkan kalo lo satu ruangan sama cowok itu?? Jadi selama ini lo satu ruangan sama dia? " tanya Al dengan nada naik. Semenjak keluar dari rumah sakit Yuki berterus terang kalau dia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Marcell dan itupun tawaran langsung dari kampusnya dulu. Yuki tidak sedetail menceritakan kalau dia memang satu ruangan dengan direkturnya itu.

" Al.... itu tidak penting " jawab Yuki

" tidak penting?? "tanya Al kesal

" aku selalu menyuruhmu bekerja di perusahaanku, dan malah aku selalu melarangmu untuk bekerja Yuki. Hanya karna sikap keras kepalamu saja aku menuruti!!! " tambah Al dengan kesal.

" aku malu pada keluargamu Al, seminggu lagi kita akan menikah, aku tidak ingin mereka beranggapan kalau aku hanya perempuan pengangguran yang mencoba mendekatimu dan menguras hartamu, aku tidak mau seperti itu " terang Yuki. Al membuang muka jengah mendengar alasan Yuki.

" kau selalu saja memikirkan apa kata orang!! Bagaimana denganku Yuki?? Dengan perasaanku?? Kau sama sekali tidak peduli? " Al masih banyak bicara

" sudahlah Al, aku tidak ingin berdebat aku mohon " ucap Yuki

" aku tidak peduli apapun alasannya kau harus keluar dari pekerjaanmu ini sebelum aku benar-benar melakukan hal lebih dari ini !! "

" dan satu lagi, jika kamu tidak membalas pesanku atau tidak mengangkat lagi telfonku. Aku pastikan, selamanya kamu tidak akan pernah memegang handphone " ancam Al sambil berlalu meninggalkan Yuki

" Dion... aku ingin kau mendapatkan CCTV ruangan Marcell dan Yuki. Siang ini harus sudah ada di meja kerjaku " tegas Al dengan suara keras agar sengaja Yuki dengar. Dan benar saja, Yuki sangat bisa mendengar jelas ucapan Al baru saja. Yuki hanya menggelengkan kepala pelan menghadapi sikap Al yang seperti itu, mungkin nanti setelah mereka menikah Yuki yakin kalau sikap Al pasti akan berubah. Mungkin sikap seperti ini karena ketakutan Al jauh dari jangkauan Yuki, mungkin nanti setelah mereka bersama Yuki yakin kalau sikap Al akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

OverprotectiveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang