Malam itu Yuki tidur dengan membelakangi Al, sejak kejadian tadi sore Al sadar kalau sikap istrinya sangat dingin kepadanya. Al tau jika istrinya itu belum tidur. Tapi perasaan Al pada Yuki masih kesal. Ia masih belum puas untuk memaki Yuki, terlebih lagi ketika Al memakinya ia malah pergi meninggalkannya, sungguh tak menyangka kalau sikap Yuki seperti itu. Al memukul-mukul keningnya karena emosinya masih memuncah.
Lalu Al meminggirkan badannya dan mendekati Yuki.
" kita harus bicara " ucap Al dingin menepuk tangan Yuki.
" bicaralah, aku mendengarnya " jawab Yuki bergetar menahan tangis. Al menyadari kalau istrinya menangis. Dengan cepat Al membalikan tubuh Yuki ke hadapannya. Dan benar saja mata Yuki sangat merah. Al terduduk, diikuti Yuki.
" Yuki... jangan menangis!!! " ucap Al memegang pundak Yuki
" maaf, aku memang orang yang mudah menangis " jawab Yuki sambil menunduk dan menyeka beberapa kali air mata yang turun. Al merasa kasihan melihat istrinya seperti itu. Al menarik Yuki dan membawanya ke pelukannya, lalu Al mencium ujung kepala Yuki.
" maaf, aku membuatmu menangis. Apa kamu membenciku? " tanya Al sambil mengusap rambut Yuki lembut dipelukannya.
" aku membenci diriku sendiri Al, aku bodoh!! " cetus Yuki. Al melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Yuki
" kamu tidak bodoh sayang " tegas Al
" aku mohon Al jangan memarahi mang ujang ataupun bi Atik karena kebodohanku " ucap Yuki bergetar, Al menarik kepala Yuki dan mencium bibirnya lembut.
" aku tidak suka ada yang menghinamu, termasuk dirimu sendiri " ucap Al ditengah aktifitasnya. Bibirnya yang merah dan basah itupun kembali mencium bibir manis Yuki menuntut balasan. Yukipun membalas ciuman Al tak kalah lembut. Nafasnya saling bersahutan dan mata keduanya terpejam menikmati ciuman lembut sekaligus nyaman itu.
" aku sangat mencintaimu sayang " ucap Al dengan nafas terpenggal. Yuki menatap mata Al dengan jarak sangat dekat, hampir tidak ada jarak. Yuki tersenyum mendengar pernyataan suaminya itu. Lalu Al kembali mencium bibir Yuki yang merah dan basah. Rasanya sulit untuk berhenti menikmati bibir manis Yukinya itu.
Sore itu Al baru saja pulang, setelah menikah Al tidak pernah pulang larut, ia selalu pulang sore hari. Rindunya pada Yuki selalu mengganggu fikirannya. Sementara Yuki sedang asik di taman belakang, merapi-rapikan bunga-bunga yang ia tanam pagi tadi. Yuki tidak sadar kalau suaminya sedang menatapnya dari ambang pintu yang menghubungkan rumahnya dengan taman belakang. Al nampak menikmati pemandangan didepannya itu. Istrinya terlihat begitu cantik. Dengan mengenakan baju sabrina berwarna kuning dan rok pendek berwarna putih yang sempurna memperlihatkan lekukan tubuh Yuki yang sangat indah. Tiba-tiba Yuki menyadari ada yang berdiri memperhatikannya.
" oh... astagaaa, maafkan aku Al aku tidak sadar kalau sekarang sudah sore. Aku tidak menyambut kepulanganmu " ucap Yuki kaget sambil berjalan mendekati Al. Al hanya tersenyum melihat istrinya yang panik.
" tidak apa-apa sayang, aku lebih suka disambut seperti tadi, melihat istriku yang cantik diam-diam " ucap Al mengusap rambut Yuki. Yukipun tersenyum. Lalu Al menarik pinggang Yuki agar dekat dengannya. Lalu Al mencium pundak polos Yuki.
"mmmhh wangi sekali sayang" ucap Al ditengah aktifitasnya. Al berganti menciumi lekukan leher Yuki yang wangi aroma bunga, rasanya tubuh Yuki adalah candu untuk Al. Ini memabukkan. Yuki mendorong dada Al pelan.
" Al.....nanti ada yang liat " ucap Yuki. Al hanya tersenyum lalu menarik kembali pinggang Yuki dan menciumi pundak dan leher Yuki
" aku tidak peduli mmmhh " ucap Al melanjutkan aktifitasnya. Yuki tidak menyerah, dia kembali mendorong dada Al
" mandi dulu gih, kamu bau " ucap Yuki sambil berlari meninggalkan Al.
" awas saja ya kamu, tidak akan ku lepaskan " ucap Al tersenyum. Sementara Yuki hanya menjulurkan lidahnya meledek Al.
Siang itu Yuki sedang sibuk dengan aktifitasnya, semenjak pernikahannya dengan Al, Yuki memutuskan untuk menuruti Al keluar dari pekerjaannya dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tiba-tiba bi Atik memanggil Yuki
" non Yuki " panggil bi Atik. Yuki yang sedang merapikan lemari dan baju-baju Alpun berbalik karena pintu kamarnya tidak ditutup.
" kenapa bi?? " tanya Yuki
" maaf non di bawah ada tamu, katanya temen non Yuki. Namanya Nina " ucap bi Atik
" ohh Nina?? Iya bi aku bentar lagi turun, tolong kasih minum dulu ya bi. Makasih " ucap Yuki. Dengan semangat Yuki turun menemui Nina
" haaaaaiiiii...... " Nina dan Yuki langsung berpelukan dan cipika-cipiki
" uuhh ibu rumah tangga " ledek Nina
" cieee wanita karir " ledek Yuki
" gue kangen banget tau sama lo, biasanya kitatuh sama-sama terus tiap hari " ucap Nina
" apalagi gue, gue tiap hari gini aja Nin gak ada kegiatan " balas Yuki memegang tangan Nina
" tapi lo enak Kuy, lo diem di istana kaya gini " ucap Nina sambil melihat sekitar. " terus suami ganteng pula " tambah Nina tersenyum
" lo juga bakalan dapetin yang 2x lipat dari Al " ucap Yuki
" amiiiiiinn " ucap Nina tertawa.
" eh lo tumben banget kesini?? Gak kerja? " tanya Yuki heran
" gue ijin sebentarsih Kuy sebenernya, lo tau sendirikan pak Marcell orangnya baik banget " ucap Nina. Semenjak Yuki mengundurkan diri, Ninalah yang menggantikan pekerjaan Yuki.
" loh, emang ada apa? " tanya Yuki heran
" mmmmm.... gini Kuy " kata Nina ragu-ragu
" kenapasih? " tanya Yuki heran
" Stefan... " ucap Nina pelan. Yuki langsung menepuk kepalanya sendiri
" astagaaaaa, Nin gue lupaaa!!gue lupa ngasih tau dia kalo gue.... " Yuki nampak sangat menyesal.
" Al memang selalu terburu-buru, sampe gue... oohhh astagaaaa " beberapa kali Yuki memukul-mukul kepalanya
" iya Kuy, Stefan kemaren pulang ke Indo, dan dia nanyain lo. Dia marah banget tau. Trus katanya dia maksa pengen ngomong sama lo. Kata dia Hp lo gak aktif. Hp lo kenapasih?? Gue hubungin lo juga hp lo gak aktif" ucap Nina berentetan.
" mmmmmhhh Hp gue dirusakin Al Nin " Yuki menunduk
" astagaa!!! Gagara apasih? " tanya Nina
" gue gak angkat telfon sama gak ngabarin dia " jawab Yuki penuh penyesalan
" bahkan setelah menikahpun Al gak berubah? " tanya Nina. Yukipun mengangguk. Nina terdiam seolah berfikir.
" Stefan sekarang dimana?? " tanya Yuki penuh kerinduan pada sahabat masa kecilnya itu.
" dia di apartemennya yang dulu Kuy " jawab Nina
" gue bakal nemuin dia Nin, bagaimanapun Stefanlah orang satu-satunya yang nolongin gue, dia satu-satunya keluarga gue" jawab Yuki
" tapi Kuy, Al gimana?? " Nina khawatir mengingat tentang sifat Al yang tidak berubah bahkan setelah menikah
" gue akan meminta izin padanya " jawab Yuki penuh tekad
" lo yakin Kuy? Gue jadi serba salah gini " ucap Nina bingung
" gue berfikir kalau Al sudah berubah setelah kalian menikah, tapi.... " ucap Nina menerawang
" dia sudah berubah Nin, aku akan meminta izin padanya " ucap Yuki yakin.
