Kiriman bunga matahari juga secarika kalimat manis selalu kudapatkan setiap kali membuka loker. Ternyata ada orang lain yang bisa semanis Adhit. Setiap hari, tulisan-tulisan Arbian yang sengaja disimpan di lokerku selalu berhasil membuat aku tersenyum. Dia tahu semua yang kusuka. Perhatian-perhatian kecilnya yang membuat aku merasa bahwa Adhit ada di sini. Ah, Adhit lagi. Tapi mungkin aku sudah benar-benar ikhlas. Adhit terpaksa pergi karena mamanya sedang sakit, dia tidak memberitahuku karena takut aku menjadikannya tidak rela untuk pergi. Itu kata Fazaira. Aku sudah tak masalah jika mengingat Adhit. Tulisan Arbian di secarik kertas membuat aku tersadar.
"Queen Aurora, kamu tidak diminta semesta untuk melupakan dia yang pernah ada, tapi kamu diminta belajar untuk lebih kuat dengan tersenyum pada kehilangan. Kamu harus membuktikan bahwan kehilangan akan kalah dan kamu memenangkan dengan keikhlasan. Sahabatmu pergi bukan tanpa alasan, ada hal yang harus diperjuangkan dan itu tak mungkin mudah baginya. Jangan membencinya. Seharusnya memang tak boleh ada yang membenci siapapun sih. Aku juga berharap kamu tidak pernah bermaksud membenciku. Aku memang tidak mengizinkan itu. Bolehnya menyayangi saja."
From: kawan semesta
Aku dan Arbian kini semakin dekat. Meskipun Fazaira dan Didi selalu melarangku berteman dengannya aku masih saja tidak peduli. Mereka belum mengenal Arbian saja, dia berbeda dengan apa yang mereka pikirkan. Arbian teman yang baik dan juga manis. Setiap hari aku masih berangkat ke sekolah bersama Yardan, Fazaira dan juga Didi dengan naik sepeda. Sedangkan Arbian masih naik metro mini seperti biasa. Tapi kami sering makan bersama di kantin atau dia yang membawakan makanan untukku. Seperti hari ini.
"Sha, ada yang cari di luar," ucap seorang teman kelasku.
"Siapa?"
"Anak kelas sebelah," jawabnya.
Aku keluar dan Arbian yang kutemukan. Dia tersenyum manis sembari memperllihatkan kantongan berisi cilok di genggamannya. Aku tidak mengajaknya masuk. Hanya duduk di kursi panjang yang memang ada di sepanjang koridor kelas.
"Kok repot-repot sih," ucapku tak enak.
"Aku gak lihat kamu di kantin. Ini bukan hari senin atau kamis. Kamu tidak puasa kan?"
"Heheh. Aku lagi asik nulis. Lanjutin kisah Raja dan Ratu yang dikit lagi tuntas."
"Raja dan Ratu siapa?" tanyanya yang sebenarnya membuatku bingung sendiri. Beberapa hari yang lalu bukannya isi suratnya di loker untuk menyemangatiku melanjutkan cerita Raja dan Ratu.
"Queen Aurora, apa kamu tidak rindu pada Raja dan Ratu. Kasihan, mungkin mereka sedang menangis karena ceritanya digantung. Ah, tapi tak apa. Asal bukan kamu yang menangis. Aku akan marah jika itu sampai terjadi."
From: kawan semesta
"Sha..." Arbian menyadarkanku dari lamunan.
"Eh, iya iya? Apa tadi?"
"Udah lupain aja. Tadi cuman bercanda kok," balasnya sembari tersenyum. Ternyata dia cuman pura-pura tidak tahu. Hufft.
"Besok kan hari libur. Jalan yuk," ajaknya.
"Kemana?"
"Ke mall, bioskop atau ke tempat wahana bermain mungkin," tawarnya. Mungkin ada satu yang luput dari pengetahuan Arbian tentangku. Aku tidak suka tempat ramai seperti itu. Aku suka puncak, tepi telaga dan juga taman.
"Hm, gimana kalau ke taman aja?"
"Taman?"
"Iya, di sana tenang. Kita bakalan lihat anak-anak yang tanpa beban asik berlarian," ucapku membayangkan adik-adik yang sering kutemui di taman bersama Adhit. Ah, sudah lama sekali rasanya aku tidak bertemu mereka. Apa mereka juga rindu sepertiku."
"Oke."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
R A S A
Ficção AdolescenteKisah ini tentang Ayesha, si gadis penyuka sepi namun juga bukan pembenci ramai. Bersama sahabat-sahabatnya kisah SMA dilaluinya dengan banyak cerita. Prinsipnya laki-laki idaman itu yang seperti ayah, humoris dan romantis. Jadi, jangan heran jika a...
