Kacau!
Rapat hari ini gagal total! Semua yang sudah Taehyung dan timnya kerjakan—bahkan sampai lembur—terasa sia-sia sekarang. Bonus yang sudah ada di depan mata hilang sudah, tak berbekas.
Rasa-rasanya, Taehyung ingin sekali menyapa general manajer itu dengan kepala tangannya. Tak ada yang mengeluarkan suara begitu mereka keluar dari ruang rapat dengan wajah keruh. Maket yang seharusnya menjadi contoh rumah yang akan mereka persentasikan, Taehyung banting begitu saja. Bahkan, gambaran sketsa yang sudah dibuat susah payah telah hancur digenggaman tangannya sendiri.
Keadaan di ruangan terasa mencekam. Aura kelam terus menguar dari dalam diri sang atasan.
Tok! Tok! Tok!
Taehyung menggeram kesal mendengar suara ketukan pintu dari luar. Saat ini dia sedang tidak dalam mood yang baik untuk beramah-tamah pada siapa pun. Kehilangan proyek besar membuat tekanan darahnya menaik secara drastis.
"Masuk."
"Ada apa?" tanyanya dingin begitu salah satu bawahannya masuk dengan takut-takut—Seakan masuk ke kandang singa yang sedang kelaparan.
"Umhh ... maaf Pak menggganggu waktu—"
"Langsung saja, saya sedang tidak mood mendengar percakapan basa-basi kamu."
"Bapak, dipanggil Bos besar ke ruangannya," ujar pegawai tersebut dengan wajah pias—sarat akan ketakutan.
"Saya akan segera ke sana."
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi."
Taehyung menarik napas panjang lalu membuangnya dengan kasar. Dia merasa akhir-akhir ini pekerjannya tambah kacau karena keponakan Bos besar nya tersebut.
Bukan sekali dua kali tindakan semaunya sang keponakan merugikan perusahaan paman-nya sendiri.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Taehyung segera keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam lift untuk menemui sang Bos besar. Di lantai ini, hanya terdapat ruangan Bos besar dan sekretaris.
Taehyung tersenyum singkat pada sekretaris atasannya dan berlalu masuk tanpa perlu mengetuknya terlebih dahulu.
"Selamat siang, Pak," sapa Taehyung begitu memasuki ruangan sang atasan yang memiliki ornamen menarik.
Sang atasan mengangguk dan mempersilahkannya duduk. "Silahkan duduk."
"Terima kasih," sahutnya dengan mendaratkan bokongnya ke atas kursi.
"Kamu tau alasan saya memanggil kamu?"
Taehyung mengangguk. "Tentu saja, sebelum Bapak bertanya lebih lanjut, saya akan menjelaskan garis besarnya versi saya dan rekan-rekan saya."
"Silahkan, saya akan mendengarkannya."
Selama Taehyung berbicara, dia tak menangkap ekspresi wajah terkejut atau pun lainnya yang ditampalkan sang atasan hanya raut wajah datar—tak berminat.
"... kami telah semua sepaket akan memakai konsep natural, tapi general manager perusahaan tiba-tiba mengubah konsepnya begitu saja. Saat itu keadaan di ruang rapat langsung kacau, gambaran tiga dimensi yang ada di layar dengan gambaran sketsa dan maket yang kami bawa berbeda. Saya kehilangan kata-kata begitu general manager menyalahkan saya dan rekan-rekan karena tak mengikuti sarannya. Padahal, seingat saya, dia tak ada menyuruh kami mengubah konsep. Dia mengambil keputusan itu seorang diri tanpa berbicara terlebih dahulu pada kami."
Dapat Taehyung lihat sang atasan memijat keningnya berulang kali dan menarik napas pelan.
Yeah, Taehyung dapat menebak apa yang ada dipikiran atasannya saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The [Shit] Architect And Me
FanfictionMembuktikan kemampuan yang dimiliki olehnya pada semua orang adalah keinginan Jisoo, tetapi semua itu lebih sulit dari apa yang dibayangkan. Taehyung, satu nama yang akhir-akhir ini memasuki dunia Jisoo. Seseorang yang mendaklarasikan cinta serta ri...
![The [Shit] Architect And Me](https://img.wattpad.com/cover/215665299-64-k746567.jpg)