DuaPuluhTujuh

91 4 0
                                    

Jangan lupa vote komen and follow🍂

"Bu bos"Teriak seseorang yang membuat Tasya dan Beni menengok ternyata dia adalah Nathan-wakil ketua TIGERSQUAD .

Happy reading🍂
_________________________________________
Nathan pun berlari ke arah Tasya yang masih saja diam namun tiba-tiba....

Greb

Tasya terkejut Nathan tiba-tiba memeluknya....

1 detik

5 detik

15 detik

Bugh

Beni pun mendorong Nathan hingga terjungkal beni juga tak henti-henti memberi bogemannya kepada Nathan sangat Brutal.

Tasya yang melihatnya pun hanya menutup mulutnya yang menganga melihat itu membuat Tasya menjadi sangat takut.

"Ben udah Ben anak orang pengen lu matiin"Lerai Aldo sambil menarik Beni, Beni pun terhenti memukul Nathan.

Nathan pun berdiri dibantu oleh temannya"gaes cabut disini ada Bu bos"Teriak Nathan menginstruksikan TIGERSQUAD.

Tasya pun masih tidak percaya ternyata Beni orang yang kini ada didalam hati dan pikirannya walau bukan siapa-siapa (eaaa)menjadi takut.

"Tas lu engga papa?"Tanya langit yang melihat Tasya yang masih terkejut.

"Tas?"

"TASYA"Teriak Langit yang membuat Tasya tersadar akan keterkejutan nya semua yang mendengar itu pun langsung melihat ke arah langit dan Tasya .

Beni pun mendekat ke Tasya "engga - engga hiks jangan hiks deketin hiks aku hiks hiks"Teriak Tasya saat Beni sudah dekat didepannya.

Beni pun terkejut melihat air mata Tasya sudah mengalir deras dipilihnya beni pun langsung menarik Tasya kedalam pelukannya namun Tasya selalu memberontak didalam dekapannya.

"Lepas lepas hiks ampun hiks ampun hiks "ucap nya dalam dekapan Beni Tasya masih saja memberontak dengan sekuat tenaga akhirnya Tasya terlepas dari dekapan Beni Tasya yang tidak mau kehilangan kesempatan pun langsung lari.

Beni yang ingin mengejar pun langsung dicegah oleh Aldo"kasih dia waktu buat sendiri"Ucapnya.

Beni pun mengacak rambutnya"Arghhhhh"
-
-
Kini Tasya telah berada dikamarnya menangis disudut kamarnya setelah dia memecahkan kaca rias dalam kamarnya dan beberapa barang sudah ditempatnya kembali tangannya pun sudah mengeluarkan cairan kental merah.

"Kamu ngapain sama cowok tadi hm?"Tanya seseorang yang masih mencekram tangan seorang gadis yang membuat dia meringis.

"auwww,sa-kit lepasin"Ringis nya.

"Apa lepasin? ENGGA"Bentaknya.

"Lu tuh udah berapa kali gue bilangin jangan deket-deket sama dia masih aja Deket sama dia!suka lu sama dia IYA?!Emang dasarnya jalang ya j.a.l.a.n.g"Ucapnya menekan kata 'jalang'

Plak

Gadis tersebut pun menampar wajah laki-laki tersebut yang membuat dia bukannya kesakitan tapi malah tersenyum smirk.

"Maaf aku tad-"

Dia pun menjambak rambut nya dengan keras"udah berani lu Sam gue"

Plak

Plak

Plak

Pipi nya pun sudah di tampar beberapa kali yang membuat cairan kental berwarna merah keluar diujung bibirnya ditambah oleh jambakan yang begitu sakit.

"Sa-kit lepa-sin hiks hiks"Ucapnya sesenggukan.

"ENGGA AKAN"Teriak dia didepan wajah nya.

Bugh

Bugh

Dia pun terus-terusan memukul bahkan mencekiknya .

"Enggak-enggak pergi-pergi hiks hiks"Gumam Tasya.

Tokk

Tokk

"Syila kamu kenapa sayang"Teriak Zahra didepan kamar Tasya.

"Yah dobrak aja yah bunda takut"Suruh Zahra kepada Doni yang kini sudah mengancang-ancang untuk mendobrak.

Dhug

Dhug

Brukk

Akhirnya pintu kamar Tasya pun terbuka mata Zahra dan Doni pun langsung membelalak melihat putrinya tengah menangis dengan keadaan yang mengenaskan yang masih mengunakan seragam putih abu-abu nya.

Zahra pun langsung lari ke arah Tasya dan memeluknya namun Tasya langsung memberontak"lepas hiks lepas hiks ampun hiks LEPAS"Teriak Tasya membuat Zahra terdorong kebelakang karena Tasya mendorongnya.

"Yah anak kita yah hiks anak kita yah hiks"Ucap Zahra sesenggukan melihat putrinya sudah seperti orang gila.

"Ayah telepon dokter dulu yah Bun"

Doni pun langsung menelepon dokter keluarga nya .

"Hallo dok tolong ke rumah saya secepatnya"

".............."

"Iya dok cepetan"

Tut

Sambungan terputus

"Sabar ya Bun sebentar lagi dokternya datang"

Beni kini sedang berada didepan rumah Tasya lebih tepat nya disebuah pohon mangga depan rumah Tasya .

Beni ragu ingin masuk atau tidak saat dia sudah turun dari motornya dan ingin menghampiri rumah Tasya untuk meminta maaf atas salah nya yang dia tidak tau apa salah nya?.

Namun tiba-tiba ada sebuah taksi berhenti didepan rumah Tasya Beni pun memperhatikan siapa yang ada didalam taksi tersebut?apa pacarnya?saudaranya?atau....

Namun pertanyaan nya pun terjawab ternyata yang keluar bukan yang Beni kita namun seorang dokter.

"Dokter Hendra?"Gumam Beni.

Beni yakin dia adalah dokter Hendra salah satu dokter dirumah sakit yang terkenal namun bukan itu karena dokter Hendra adalah dokter spesialis.....

Kejiwaan!

Hah!

Beni pun menimbang-nimbang siapa sih yang sakit jiwa didalam rumah Tasya apa mungkin orang tua nya?engga mungkin!Tasya?.

Beni pun menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mungkin Beni pun tak mau ambil pusing langsung menaiki motornya meninggalkan perkarangan rumah Tasya.

Dokter Hendra pun memeriksa keadaan Tasya yang kini sudah tertidur pulas"bagaimana dok keadaan anak saya"Ucap Zahra sambil mengelus-elus punggung tangan Tasya.

"Trauma masa lalunya teringat kembali dikepalanya mengakibatkan pikiran dan jiwa nya terganggu sekarang dia sudah saya kasih obat tidur,kalau dia sudah bangun jangan tanya-tanya yang membuat stres!tangan nya juga sudah saya obatin tidak terlalu parah kalau keadaannya drop kembali tolong hubungi saya,saya permisi"Ucap dokter Hendra sambil pergi meninggalkan satu keluarga ini.

"Ya udah Bun biarin Syila istirahat dulu"

"Iya yah"ucap Zahra"jangan kaya dulu lagi ya sayang bunda takut"Bisik Zahra sambil mencium kening Tasya dan pergi dari kamar Tasya bersama suaminya.
•••












Trauma?
Trauma apa ya?
Apakah Tasya memaafkan maaf Beni setelah ini?
Jangan lupa vote oke!
Follow juga Ig aku:@SelviNuraini746 oke!

TASYA(SLOW UPDATE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang