Sebagian orang sering meniup balon harapan sampai besar kemudian dilepaskan, sehingga balon itu terhempas tak tentu arah. Namun berbeda dengan Radit. Ia juga meniup balon, tapi balon penuh rasa kesal dan dia akan meniup terus sampai meletus dan menghamburlah bunga sakura darinya.
Demikian perlakuannya padaku. Sering sekali dia membuatku kesal sampai ke ubun-ubun namun pada akhirnya dia membuatku tersipu dan tersenyum. Memiliki perasaan seperti berada di bawah hujan bunga sakura. Meskipun aku belum pernah merasakan hujan bunga sakura.
Kejadian ini adalah yang kesekian kali ia lakukan. Membuatku marah namun pada akhirnya aku lupa akan kemarahanku.
Lihat, betapa manisnya ia menghampiriku begitu pidatonya selesai. Ia menggandeng tanganku saat reuni berakhir. Membuat seluruh tubuhku merasakan hangat.
"Shafa, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Dimas setelah sayonara diucapkan Mega.
"Bisa, silakan."
"Berdua?" Aku memandang Radit. Dia mengeratkan genggamannya namun kemudian mengangguk.
Aku mengikuti langkah Dimas menjauhi Radit. Apa yang ingin dia sampaikan?
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanyaku saat jarak kami cukup aman dari orang-orang untuk menguping. Dimas menghentikan langkah. Dia berbalik ke arahku. Membuatku mundur setindak untuk mengimbangi tubuh jangkungnya sehingga aku tak terlalu mendongak untuk melihat wajahnya.
"Kenapa kamu ngga bilang kalau sudah menikah?"
"Emmm, acaranya sederhana. Kami hanya mengundang kerabat dekat." Jawabku sekenanya. Aku tak mengira dia bertanya demikian sehingga jawaban yang kuberikan hanya sekenanya.
"Apa aku tak dekat denganmu?"
"Maaf, tapi kita sudah lost kontak beberapa tahun terakhir ini. Aku tak punya nomormu."
"Kenapa kamu tak menungguku, Fa?" Ambigu.
"Ya, gimana mau menunggu, aku kan ngga ngundang kamu."
"Aku sudah berusaha untuk menjadi layak untukmu namun kamu mendahuluiku." Ia malah meracau mengabaikan jawabanku. Aku belum menemukan fokus dari pembicaraannya.
"Kita ngga janjian untuk nikah bareng kan?" Tanyaku menanggapi ucapan Dimas sebagai candaan.
"Kamu masih belum mengerti?"
"Apa yang harus aku mengerti? Kamu tidak bicara dengan jelas. Semua ambigu. Segera kamu sampaikan apa maksudmu sebenarnya. Mas Radit sudah menungguku."
Dimas mengacak rambutnya frustasi karena aku tak mengerti pembicaraannya. Tapi bukankah semua ucapannya belum berarti apapun? Atau memang aku saja yang telat paham?
"Jadi selama ini kamu anggap aku apa?" Tanyanya membuatku mengerjap-ngerjap tak mengerti. Sisi hatiku mengatakan, mungkinkah dia menyukaiku lebih dari sekadar teman? Tapi aku tak mau kamu bilang ge er. Makanya aku tepis anggapan itu.
"Teman lah, emang apa?" Jawabku seraya tertawa kecil.
"Jadi kamu selama ini tak sadar kalau aku menyukaimu?"
Mendapat pengakuan di siang bolong seperti ini bukanlah hal yang menarik bagiku. Jika saja ia ucapkan saat reuni tahun lalu, mungkin wajahku bersemu merah karena tersipu malu. Bahkan mungkin aku mengiyakan saja kalau saat itu dia melamarku. Namun kali ini berbeda. Aku sudah bersuami. Perasaan semacam itu harus ditepis sampai habis. Tak boleh berkembang semakin besar.
Aku menghela napas berat. Bagaimanapun Dimas adalah sahabatku yang baru bertemu setelah sekian lama. Setelah lulus, dia ikut orangtuanya merantau di Padang dan kuliah di sana. Reuni pertama dan kedua dia tak bisa datang. Reuni ketiga, aku datang tapi pulang duluan. Katanya dia juga datang tapi terlambat. Kami tak bertemu. Reuni keempat dan kelima, tahu sendiri kan? Aku absen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Workaholic
General FictionKetika hidupmu terikat oleh ikatan yang tak kamu inginkan. Mengubah benci menjadi cinta, ambisi menjadi pengertian "Buat dia mencintaimu," pesan ayah kepada Raditya, si robot pekerja. Lalu... Lalu silakan dibaca,.😊😊 Alur cerita ringan tanpa drama...
