ibu

1.2K 98 13
                                        

Tatapan Serena itu, entah apa maksudnya. Aku hanya merasakan getir melihatnya. Apalagi senyumannya. Senyuman yang entah mengapa menyakitkan bagiku. Tapi aku bukanlah orang yang orang yang mudah menyerah. Tampak lemah? Bukanlah aku. Aku bahkan menampakkan senyum tipis untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Jika dia berniat memanas-manasiku, memprovokasiku maka ia tak akan berhasil. Itu tujuanku.

Kurasa niatku berhasil saat kulihat senyumnya memudar begitu senyumku terbit. Apakah aku ikhlas? Jika dia sekarang berperan sebagai pasien, maka aku ikhlas. Tapi jika dia berperan sebagai pelakor, jujur tidak ikhlas sama sekali. Wanita mana yang merelakan suaminya menggendong dan memapah wanita lain di depan hidungnya sendiri? Jika kau seorang wanita, pasti ingin melumat Radit atau mencakar Serena. Atau malah menghujatku atas apa yang telah kulakukan. Percayalah, aku juga merasakan sakit. Hanya saja inilah caraku untuk membuat rasa sakit itu terlampiaskan.

"Mbak Wina?" Panggilku pada Wina yang baru saja masuk villa bersama suaminya. "Boleh minta tolong, bantu Bu Serena membersihkan diri. Beliau sedang dibantu jalan ke kamar oleh Pak Radit. Saya mau menyusul tapi perutku sedikit mulas. Maaf merepotkan."

"Iya, Mbak Shafa. Tidak apa-apa." Jawab Wina ramah, "Ayo Mas!"

Mereka berdua pergi ke arah kamar Serena. Sebenarnya sebelum Wina masuk, dua orang karyawati penggosip itu datang duluan. Aku berniat minta tolong pada mereka namun kuurungkan. Nanti malah muncul gosip baru jika mereka melihat Radit berada di kamar Serena.

#######

Aku bisa menahan amarah? Tentu saja. Aku bisa menahan diri dengan senyuman palsu? Pasti. Aku melakukannya. Benar-benar melakukannya hingga acara family gathering selesai. Hingga rombongan kembali pulang. Hingga orang kantor terakhir yang kami temui. Meskipun sama sekali aku mendiamkan Radit. Yang membuatku semakin kesal, sama sekali ia tak membujukku atau setidaknya minta maaf padaku. Dia malah ikut berpura-pura bahwa kami baik-baik saja.

Keluar kantor, aku menyandang ranselku dan menyetop taksi. Aku tidak tahan untuk menunggunya yang malah sibuk lagi dengan pekerjaan. Entah sejak kapan pekerjaan itu menunggunya. Bahkan baru pulang dari acara kantor pun sudah membebaninya.

Tujuanku? Tentu saja tujuanku bukan rumah Radit. Aku tak ingin mood ku bertambah buruk ketika bertemu dengannya nanti. Aku pulang ke rumah orangtua ku.

Ibu, tentu saja sangat senang dengan kedatanganku namun beliau mengernyitkan dahi melihat ransel yang kubawa. Begitu juga dengan ayah. Tak memberiku kesempatan untuk istirahat terlebih dahulu, mereka malah mengintrogasiku.

"Kamu sudah ijin sama suamimu?" Tanya ibu lembut. Aku menggeleng. Beliau menghela napas panjang. "Kalian marahan?"

"Shafa sakit hati, Bu." Aduku berharap mendapat dukungan. Aku lupa kalau orangtuaku adalah pecinta menantu sejati. Bukan dukungan yang kudapat, mereka malah menasehatiku. Ya, mereka orang yang objektif. Sebel juga sih, masa mereka malah membela menantunya daripada anaknya sendiri.

"Shafa, kamu kan tahu kalau setelah menikah wanita itu jadi tanggung jawab suaminya. Jadi kemana-mana harus ijin suaminya. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik. Jangan main kabur aja! Kalian kan sudah dewasa. Bukan anak remaja yang terpaksa kawin." Nasehat ayah.

"Kok ayah malah bela Mas Radit sih? Ayah ngga mau ya, kalau aku ke sini?" Keluhku.

"Mana kalimat ayah yang membela Radit? Ayah akan membela siapa yang benar. Tidak peduli kamu ataupun Radit. Ayah juga senang kalau ada masalah larimu ke rumah. Bukan ke orang lain. Apalagi ke teman laki-lakimu."

"Ayaaaahhh..." Protesku dan ibu bebarengan.

"Iya, ayah ralat. Kamu ngga punya teman laki-laki. Shafa, rumah tanggamu adalah tanggung jawabmu dan suamimu. Orang tua tak punya hak untuk ikut campur. Karena peran kami sebagai penasehat bukan pemutus perkara. Kami ingin yang terbaik untuk kalian."

Mr. WorkaholicTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang